Pendidikan & Kesehatan

Universitas Trunojoyo Madura Dorong Pemerintah Kaji Ulang Keputusan Impor Garam, Tawarkan Riset Unggulan Atasi Ketergantungan Garam Impor

Bangkalan (beritajatim.com) – Sebagai kampus riset dan tekhnologi berbasis klaster, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mendorong pemerintah untuk mengkaji ulang rencana impor garam sebanyak 3,07 ton pada tahun ini. UTM berpendapat, seharusnya pemerintah terus membangun kekuatan petambak nasional secara berkelanjutan demi tercapainya Indonesia Berdaulat Garam.
Rektor UTM Dr Drs EC Muh Syarif mengungkapkan, pihaknya memberikan beberapa catatan dan pandangan yang perlu dijadikan pertimbangan oleh pemerintah atas kebijakan pergaraman nasional.

“Pemerintah perlu mengkaji ulang keputusan terkait impor garam dengan mempertimbangkan beberapa faktor, terutama faktor kesejahteraan petambak garam lokal,” ungkap Muh Syarif dalam Press Release di Lantai V Gedung Rektorat UTM, Rabu (24/3/2021).

Sebelumnya, melalui rapat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 25 Januari 2021, pemerintah memutuskan untuk meningkatkan jumlah impor garam dari angka 2,7 juta ton di tahun 2020 menjadi sebesar 3,07 ton pada tahun 2021.

Alasan pemerintah kembali melakukan impor garam didsasarkan atas belum tercukupinya  produksi garam nasional untuk menjawab kebutuhan garam industri.

“Diperlukan transparansi Rencana Alokasi Impor Garam serta upaya pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas produksi garam rakyat secara berkelanjutan,” tegas Muh Syarif yang juga sebagai Pembina Himpunan Masyarakat Petambak Garam (HMPG) Jatim itu.
Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur (Jatim) menyebutkan, stok garam di gudang-gudang garam di Jatim saat ini mencapai angka 2,9 juta ton.

DKP Jatim mencatat, garam kualitas produksi (KP) 1 mendominasi dengan jumlah sekitar 2,7 juta ton atau 94 persen. Disusul garam KP 2 sebesar 152.265 ton (5,2 persen) dan garam KP3 sebanyak 15.511 ton (5 persen).
Muh Syarif mengaku prihatin atas rencana pemerintah untuk mengimpor garam krosok. Menurutnya, diperlukan penanganan yang lebih optimal untuk menggali, mengembangkan, dan mamjukan indsutri pergaraman rakyat.

“Para petambak garam Indonesia telah mampu memproduksi garam berkualitas tinggi untuk kebutuhan garam industri. Bahkan ketika musim hujan, mereka mampu memproduksi garam dengan jumlah ratusan ton,” pungkas Syarif.
Untuk menyelesaikan persoalan garam di Indonesia, PUI IPTEK Garam UTM memberikan rekomendasi, antara lain;  Satu, Peningkatan Produksi Garam Rakyat. Di mana saat ini tambak garam produktif di Indoensia sekitar 24.000 hektare.

Jika ditingkatkan produksinya dari 100 Ton per hektar menjadi 200 Ton per hektar, maka produksi nasional menjadi 4.8 juta ton per tahun. Sehingga masalah pergaraman nasional terselesaikan dengan baik.

Dua, Peningkatan Kualitas Garam Rakyat. Tekhnologi peningkatan kualitas garam rakyat bertujuan agar garam rakyat bisa diterima oleh pasar.  Sehingga garam rakyat mampu bersaing secara kualitas dan mampu mendukung industri yang membutuhkan garam kualitas industri.

Pada rekomendasi kedua ini, UTM menawarkan pembuatan produksi garam terintegrasi (64 titik sebaran potensi garam di Indonesia) menggunakan beberapa macam teknologi. Seperti  teknologi mempercepat proses penuaan air tua hingga pemurnian air umpan.\

“Dan yang paling utama, kami tawarkan inovasi teknologi untuk peningkatan kualitas garam rakyat yang akan diletakkan pada koperasi garam rakyat,” jelas Syarfi.

Ia memaparkan, teknologi mekanis inovasi PUI UTM mempunyai keunggulan sangattinggi. Baik dari sisi kemampuan mengolah garam krosok menjadi garam industry. Selain itu, nilai investasi alatnya sangat murah dibandingkan dengan nilai produksi yang akan dihasilkan.

“Alat inovasi kami, dalam skala laboratorium terbukti kompetitif dalam biaya produksi, losses produksi sangat rendah; dan hasil garam bebas cemaran bahan berbahaya. Karena tidak menggunakan proses pembakaran bahan bakar fosil,” paparnya.

Dikarenakan alat tersebut harganya sangat terjangkau, lanjut Syarif, maka sasarannya adalah petambak garam, kelompok petambak garam, atau koperasi garam.

“Petambak tidak boleh menjual garam krosok. Dengan demikian, kesejahteraan akan meningkat dan garam kita dapat memenuhi kebutuhan industry berbasis garam,” pungkasnya.

Seperti diketahui, pada tahun 2019 UTM telah melakukan kegiatan penyusunan masterplan, detail engineering design lahan, penyiapan lahan pembuatan tanggul pembatas, pencetakan tambak garam, dan rencanan pembangunan flow down system (FDS).

Sebagai perguruan tinggi yang memiliki Riset Unggulan Inovasi Garam, UTM berkomitmen untuk terus meningkatkan produktivitas dan kualitas garam lokal melalui tekhnologi FDS dan purifikasi.
Pemerintah melalui Direktorat Kelembagaan Kemenristek Dikti lantas menetapkan UTM sebagai satu-satunya Pusat Unggulan Iptek (PUI) Garam pada November 2017. UTM diharpakna mampu menjadi solusi dari berbagai permasalahan kebutuhan garam nasional.

Hal itu tidak lepas atas peran penting Laboratorium Garam di Kampus UTM yang sukses mengembangkan inovasi garam yang sudah diprototipe, Garam Pangan dan Garam Non Pangan.

Inovasi produksi Garam Pangan meliputi garam healthy kaya mineral. Hasil fortifikasi garam dengan ekstrak kelor, alga laut, rumput laut, dan flora fauna laut. Sedangkan inovasi produksi Garam Non Pangan yang berhasil diprototipe antara lain garam lifestyle. Hasil purifikasi
untuk garam kecantikan, spa dan sauna, garam industry, garam farmasi, dan garam analisis.

Kampus negeri yang berlokasi di Desa Telang, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan itu kini memiliki Laboratorium Lapang PUI Garam di Desa Padelegen Kecamatan Pademewu Kabupaten Pamekasan.

Dalam Press Release, Muh Syarif didampingi Wakil Rektor I Bidang Akademik Dr Deni Setya Bagus Yuherawan, SH, MS, Wakil Rektor II Bidang Administrasi dan Keuangan Dr Ir Abdul Aziz Jakfar, MT, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Agung Ali Fahmi, dan sejumlah Peneliti PUI Garam UTM.

Salah seorang Peneliti PUI Garam UTM, Nizar Amir ST,MT, MSc mengungkapkan, UTM telah mampu menghasilkan sebuah tekhnologi sebagai solusi dan jalan keluar atas permasalahan garam nasional.

“Tekknologi UTM telah mampu meningkatkan kualitas garam krosok dari petani garam menjadi garam standar spesifikasi semua industri yang menggunakan garam sebagai material,” ungkap Nizar kepada Surya.
Selain itu, lanjutnya, teknologi UTM telah mampu menghasilkan garam grade yang tinggi dengan output mulai 1 ton per hari. Diproyeksikan, akan mampu menghasilkan produksi garam sekitar 50 ton hingga 100 ton per hari.

“Kedepan, UTM tinggal melakukan finalisasi dan melakukan optimasi sebanyak atau sebasar kebutuhan yang ada di masyarakat saat ini,” pungkasnya. (edo/ahmad fasiol).
FOTO: Rektor UTM Dr Drs EC Muh Syarif mengkritisi rencana pemerintah terkait impor garam melalui Press Release yang digelar di Lantai V Gedung Rektorat UTM, Rabu (24/3/2021). (Kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar