Pendidikan & Kesehatan

Universitas Jember Berhasil Menderadikalisasi Mahasiswi Calon Pelaku Bom Bunuh Diri

Kepala Humas Unej Agung Purwanto

Jember (beritajatim.com) – Tahun 2011, seorang mahasiswi Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, terindikasi menjadi calon ‘pengantin’ atau pelaku bom bunuh diri. Mahasiswi tersebut adalah anggota JAT (Jamaah Ansarut Tauhid).

Temuan ini membuat rektorat Universitas Jember terkejut bukan kepalang. Kepala Humas Unej Agung Purwanto mengatakan, tindakan segera diambil begitu informasi itu valid. “Tapi kami tidak mengeluarkan yang bersangkutan,” katanya, Selasa (26/11/2019).

Mahasiswi tersebut langsung dicutikan dari kuliah dan dimasukkan ke pondok pesantren di Gondanglegi, Malang. Di sana paham keagamaan radikalnya dijinakkan. “Setelah itu dia balik ke sini lagi dan tidak langsung kami campur dengan mahasiswa umum,” kata Agung.

Mahasiswi ini masih mendapat bimbingan lanjutan di Kecamatan Silo hingga pemikiran keagamaannya menjadi moderat. Unej kemudian mengizinkan mahasiswi ini kuliah hingga lulus.

Agung mengatakan, mahasiswi ini terpapar sebelum masuk Unej. “Sebelum ke sini, sudah ada indikasi ke sana. Yang menyasar sudah membina, dan ketika dia pindah ke sini pembinaan (dari kelompok radikal) melanjutkannya,” jelasnya.

Temuan ini kemudian membuat pemangku kebijakan di Unej memandang perlunya pemetaan tingkat keterpaparan paham radikalisme di kalangan mahasiswa. Pemetaan ini dilakukan pada 2017 terhadap 15 ribu mahasiswa responden dan ditemukan sekitar 22 persen terpapar radikalisme dengan tingkatan dan varian berbeda-beda.

Hasil pemetaan ini yang kemudian menjadi dasar bagi Unej melakukan serangkaian program deradikalisasi dan antisipasi radikalisasi di kalangan mahasiswa. Beberapa program deradikalisasi antara lain pengembangan kurikulum pendidikan agama islam yang berorientasi pada keseimbangan perspektif keislaman dan kebangsaan, seperti tema teologi kebangsaan, demokrasi dan hak asasi manusia dalam Islam, dan sebagainya.

“Agenda kedua termasuk penguatan kapasitas sumber daya manusia dengan melibatkan organisasi Islam yang berprinsip moderat. Agenda lainnya yang juga sudah dilaksanakan adalah agenda penataan dan pembinaan masjid kampus,” kata Akhmad Munir, Ketua Tim Pemetaan Pemikiran Keagamaan Unej.

Unej juga menggelar laboratorium pesantren dengan membina langsung mahasiswa oleh para kiai berpaham ahlussunnah wal jamaah. “Ditambah lagi konseling keislaman oleh dosen-dosen pendidikan agama Islam dengan tujuan agar mahasiswa memegang prinsip moderatisme Islam. Intinya semua agenda bermuara pada pengarusutamaan moderatisme Islam ahlussunnah wal jamaah,” kata Munir. [wir/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar