Pendidikan & Kesehatan

Unik, di Ponorogo Ujian Skripsi Dilakukan di Kebun

Salah satu mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo yang melakukan ujian skripsi di kebun(foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Ada pemandangan berbeda dalam ujian skripsi di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Ponorogo. Jika biasanya digelar di salah satu ruangan kampus. Namun, untuk delapan mahasiswa program studi (prodi) pendidikan bahasa dan sastra Indonesia itu mengikuti bimbingan dan ujian skripsi di kebun.

“Kalau dilakukan di kampuskan biasanya kaku dan formal. Jika di kebun, mahasiswa mendapatkan pengalaman yang berbeda,” kata Ketua STKIP PGRI Ponorogo Sutejo, Rabu (26/8/2020).

Pandemi Covid-19 yang melanda Ponorogo lah yang membuat dirinya mempunyai ide untuk menggelar bimbingan dan ujian skripsi di kebun yang tidak jauh dari rumahnya di Desa Tajug Kecamatan Siman Ponorogo. Sebab, pandemi tersebut membuat banyak kegiatan di kampus di kurangi. Sedangkan proses bimbingan skripsi pun harus berjalan. Mesti melakukan tatap muka, Sutejo selalu menerapkan physical distancing saat bimbingan tersebut.

“Bimbingan dan ujian skripsi tetap patuh pada protokol pencegahan Covid-19. Jaga jarak dan mahasiswa memakai masker, tidak lupa juga disediakan hand sanitizer,” kata Sutejo yang juga dikenal sebagai penulis itu.

Penggagas program Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP PGRI Ponorogo itu mengungkapkan bahwa menulis itu seperti berkebun. Kalau tekun menjalani prosesnya, menulis skripsipun akan terasa mudah. Kita akan merasa puas ketika panen tiba. Menurutnya, mahasiswa menjadi keluar ide-ide menulis saat melakukan bimbingannya dilakukan di kebun.

Saat menguji di kebun tersebut, Sutejo dibantu oleh tiga penguji sebaya. Penguji sebaya tersebut merupakan alumnus STKIP PGRI Ponorogo yang sudah sarat pengalaman. Ratusan tulisan sudah diterbitkan baik di media cetak maupun online. Menurut Sutedjo, dengan cara itu feedback yang disampaikan penguji kepada mahasiswa menjadi lebih mengena. Sebab, penguji umurnya tidak terpaut jauh dengan mahasiswa. “Saya mengajak tiga penguji sebaya untuk ikut membantu menguji, supaya mahasiswa merasa lebih nyaman karena hampir seumuran. Penguji sebaya juga bisa membagikan pengalamannya selama ini,” ungkap kata dia.

Sementara itu Rita Ristiana, salah satu mahasiswa yang mengikuti ujian skripsi tersebut mengaku senang dengan metode yang diterapkan oleh Sutejo.

Rita Ristiana, mahasiswi yang juga ikut bimbingan dan ujian skripsi kemarin mengaku senang dengan metode yang diterapkan Sutedjo. Dia dan temannya mengaku lebih nyaman. Bayangan ujian skripsi yang tegang dan menyeramkan pun tak nampak. “Dengan suasana berbeda dan diluar kampus membuat saya dan teman-teman jadi lebih rileks,” katanya.

Terlebih waktu bimbingan, apa yang disampaikan oleh Pak Sutejo jadi mudah diterima dan dipahami. Mungkin hasilnya berbeda, jika bimbingan dilakukan di ruangan di kampus. “Ini hal baru yang mungkin dibutuhkan oleh mahasiswa saat ini. Suasana rileks, ide-ide menulis menjadi keluar,” pungkasnya. (end/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar