Pendidikan & Kesehatan

UNICEF Ajak Masyarakat Lakukan Common Demand Terkait Vaksin Pneumonia

Dokter Dominicus diwawancarai mengenai pneumonia seusai acara Kampanye Bebas Pneumonia oleh UNICEF

Surabaya (beritajatim.com) – Pneumonia masih menjadi momok kematian bayi dan balita di dunia. Di Indonesia, Pneumonia merupakan penyakit terbanyak kedua setelah diare yang menyerang anak anak.

Pneumonia rentan menyerang pada bayi, balita dan manula. Dengan prosentase 32,910 (26 persen) menyerang usia diatas 5 tahun sedangkan usia dibawah 5 tahun memiliki prosentase 92,913 (74 persen).

Penyebab Pneumonia adalah virus dan bakteri yakni streptococcus pneumoniae 50 persen, Haemophylus influenzae 20 persen. Selainnya juga masalah gizi, higenitas, dan sanitasi juga mempengaruhi.

Terkait hal itu Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa, Tubagus Arie Rukmantara mengatakan, pemerintah sebaiknya lebih banyak mengalokasikan anggaran untuk pencegahan penyakit menular semacam pneumonia ini.

“Jika dibandingkan dengan ketika sudah sakit dan hatus diobati, maka biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien akan jauh lebih besar. Maka dari itu tindakan pencegahan ini akan sangat tepat,”

Sayangnya saat ini alokasi anggaran untuk upaya preventif masih kalah porsinya dibandingkan upaya pengobatan. Baik itu dilakukan dengan membeli obat langsung oleh pasien menggunakan asuransi swasta, maupun yang dijamin oleh pemerintah melalui program BPJS.

Untuk diketahui, United Nations Children’s Fund (UNICEF) menempatkan Indonesia pada posisi keenam sebagai negara yang memiliki jumlah terbanyak bayi yang belum mendapatkan imunisasi lengkap hingga tidak divaksinasi.

Di Indonesia tiap tahun ada sekitar 700.000 bayi yang tidak menerima layanan imunisasi. World Health Organization (WHO) bahkan memprediksi 1,5 juta nyawa meregang setiap tahun akibat kurangnya vaksinasi.

Puluhan ribu anak diantaranya dikatakan meninggal setiap tahun karena penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan vaksin, seperti diare dan pneumonia, yang menjadi penyebab terbesar kematian anak-anak muda di negara ini.

“Untuk itu, kita harus mendesak pemerintah dengan mengandalkan skema common demand (permintaan umum, red) bahwa vaksin pneumonia sangat penting adanya. Dengan cara itu, sepertinya kita baru bisa mendapatkan imunisasi dan terhindar dari pneumonia,” tegas Arie.

Hal senada juga diungkapkan Dr. dr. Dominicus Husada SpA.K. Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur ini juga menyoroti masih minimnya dukungan pemerintah dalam upaya pencegahan penyakit menular ini.

“Kalah dibanding dengan membayar BPJS untuk mengobati yang sudah sakit. Karena pencegahan itu memang hasilnya tidak terlihat. Padahal untuk investasi di masa depan, nilai anak-anak yang kebal dari serangan penyakit menular ini jauh lebih menguntungkan dibanding dengan anggaran yang dikeluarkan untuk BPJS,” ujar Dr. Dominicus.

Namun demikian menurut Dr. Dominicus, pemerintah kini juga tengah berupaya menambah satu jenis imunisasi untuk penyakit menular di Indonesia.

“Saat ini belum diputuskan, apakah memasukkan imunisasi untuk diare atau pneumonia. Keduanya adalah penyebab kematian tertinggi anak di Indonesia. Ini masih alot dan tarik ulur,” jelas Dr. Dominicus. [adg/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Pizza Meat Lover Menu Berbuka Favorit Anak

Resep Rawon Iga Lunak Cocok untuk Berbuka

Pameran Lukisan Anak Berkebutuhan Khusus

beritajatim Foto

Air Terjun Telunjuk Raung

Foto-foto Longsor di Ngetos Nganjuk