Pendidikan & Kesehatan

Unesa Siapkan Skema Pembelajaran Bagi Individu Berkebutuhan Khusus

Surabaya (beritajatim.com) – Persiapan New Normal atau tatanan kehidupan baru di sektor pendidikan, Perguruan Tinggi pun mulai menyiapkan dan menggodok skema baru mereka. Tak terkecuali, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang juga menyiapkan tata pelaksanaan pembelajaran daring bagi individu berkebutuhan khusus.

Unesa mengadakan Webinar dan Tutorial Pusat Studi Layanan Disabilitas LPPM Unesa Seri 1 dengan tema Pelaksanaan Pembelajaran Daring Bagi Individu Berkebutuhan Khusus di Indonesia dan Malaysia pada Masa Pandemic Covid-19.

Webinar diadakan melalui siaran langsung di Youtube dan aplikasi Zoom. Peserta yang mengikuti webinar ini sebanyak 1640 orang yang berasal dari lima negara yaitu Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Timor Leste dan Amerika. Peserta dari Indonesia tercatat dari 34 provinsi sedangkan dari Malaysia hampir seluruh bagian terwakili.

Pemateri yang diundang pada webinar seri ini yaitu Prof. Munawir Yusuf, M., Psi. selaku Ketua Asosisasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia, lalu Dr. Mohd. Mokhtar Hj. Tahar selaku Head of Programme: Undergraduate Special Education Universiti Kebangsaan Malaysia, Dr. Sanusi., M.Pd. selaku mantan Direktur Masyarakat dan Pendidikan Khusus yang diwakilkan oleh Aswin Wihdiyanto serta Dr. Sujarwanto, M.Pd. selaku Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama Unesa.

Prof. Dr. H. Nurhasan, M.Kes. selaku Rektor Unesa dan pembuka acara webinar menyampaikan pada sambutannya bahwa pengalaman narasumber bisa menjadi tolak ukur dan solusi di era covid-19 saat ini.

Kegiatan ini dirancang akan dilaksanakan hingga seri ke 3 yang dilengkapi tutorial pendampingan bagi guru dan orang tua dalam menyelenggarakan pembelajaran daring berbasis teknologi bagi individu berkebutuhan khusus. Dengan adanya covid-19 menjadikan masyarakat melakukan hal yang tidak biasa menjadi biasa.

“Dalam konteks pembelajaran, masyarakat dipaksa untuk melakukan pembelajaran secara daring yang awalnya dianggap hal yang belum biasa dan hal ini juga berlaku untuk pendidikan berkebutuhan khusus,” ujar Nurhasan.

Aswin Wihdiyanto mewakili Dr, Sanusi., M.Pd. selaku mantan Direktur Masyarakat dan Pendidikan Khusus menyampaikan materi mengenai Pelaksanaan Pembelajaran Daring Bagi Individu Berkebutuhan Khusus di Indonesia.

Aswin menyampaikan bahwa karena adanya pandemi covid-19 ini munculan kebijakan pembelajaran dari rumah melalui online yaitu lewat gawai, laptop atau aplikasi dan melalui offline yaitu lewat televisi, radio atau bahan ajar cetak.

Hasil Rapid Test Covid-19, Ilustrasi

Ia juga mengatakan hasil survei yang telah dilaksanakan selama 2 minggu terhitung dari 20 April 2020, mengenai kesiapan SLB yang mengharuskan melaksanakan kebijakan Belajar dari Rumah (BdR) sebanyak 81% siap dan 19% belum siap.

Satuan pendidikan yang melaksanakan BdR dari SLB 93% melaksanakan BdR dan 7% tidak melaksanakan, sedangkan SKB/PKBM sebanyak 99,1% melaksanakan BdR dan 0,9% tidak melaksanakan. Sebab paling banyak menjadikan satuan pendidikan tidak melaksanakan BdR ialah keterbatasan prasaran dan sarana belajar/alat pendukung. Metode yang paling banyak digunakan pada pelaksanaan BdR ialah penugasan mandiri.

Pemateri ke 2 yaitu Prof. Munawir Yusuf, M., Psi. menyampaikan materi tentang Evaluasi Pembelajaran Daring untuk Peserta Didik Berkebutuhan Khusus di Masa Pandemi Covid-19. Munawir mengutip dari John Clark ‘bahwa tidak ada bedanya anak yang terlalu pintar ataupun terlalu bodoh, mereka semua memputuhkan perhatian dan pengertian (dan kesempatan)’.

Ia juga menyimpulkan dari materi yang telah ia buat bahwa tingkat keterlaksanaan pembelajaran di SLB masa pandemi rata-rata dibwah 80% (SDLB, SMPLB, SMALB), sekitar 68% guru mengalami kendala dalam pelaksanaan pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

Kemudian sebanyak 97% guru menggunakan media whattsap, sekitar 66% orang tua PDBK mengeluh karena pembelajaran daring dianggap merepotkan orang tua, pembelajaran dari bagi ABK cenderung kurang efektif, akan tetapi banyak pembelajaran positif yang dapat diambil untuk pendidikan dan guru di masa depan. “Yang harus dilakukan di masa pandemi saat ini ialah penyesuaian diri, bangkit, bersabar dan menerima,” tambah Munawir.

Dr. Mohd. Mokhtar Hj. Tahar selaku pemateri ke 3 pada webinar ini menyampaikan tentang Model Pembelajaran Daring Bagi Individu Berkebutuhan Khusus di Masa Pandemi Covid-19. Program pendidikan khas di Malaysia meliputi sekolah pendidikan khas, program pendidikan khas integrasi dan program pendidikan inklusif.

Mokhtar menjelaskan bahwa terdapat beberapa implikasi umum yaitu pembimbingan siswa pada tugas yang diberikan, mintalah siswa mempelajari perbedaan antara fitur atau strategi kritis, mintalah siswa menggunakan konteks untuk membantu dalam persepsi dan mengajar siswa untuk menyelesaikan suatu masalah.

Pemateri terakhir yaitu Dr. Sujarwanto, M.Pd. menyampaikan materi terkait penerapan new normal: strategi membuka kembali sekolah bagi ABK/ anak khas pasca pandemic covid-19. Sujarwanto mengatakan bahwa perlu dibukanya sekolah kembali dikarenakan dampak negatif yang timbul seperti kehamilan remaja, pernikahan dini, kekerasan, stress dan kecemasan pada anak. Indicator yang diperlukan dalam pembukaan sekolah kembali yakni kesehatan dan keselamatan, pembelajaran dan perhatian pada siswa yang berkebutuhan khusus.

Ia juga mengatakan bahwa pada 5 Mei 2020 sudah ada 13 negara yang kembali membuka sekolah dikarenakan pada negara tersebut perkembangan kasus covid-19 telah menurun, Dinas Pendidikan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan, pembukaan dilakukan secara bertahap. Menurut Sujarwanto, langkah utama berdasarkan kerangka pembukaan kembali sekolah adalah TKP (timing, kondisi, proses).

Dr. Oce Wiriawan, M.Kes selaku sekretaris LPPM Unesa mengatakan Webinar kali ini diikuti oleh kelompok guru, mahaisiswa, orang tua, tenaga kependidikan, praktisi dan pemerhati pendidikan khusus. dengan komposisi pembicara dan peserta seperti ini, webinar saat ini bisa disebut webinar internasional.

Diadakannya webinar ini dengan tujuan untuk memberikan bagaimana proses pembelajaran bagi Individu berkebutuhan khusus terutama di Indonesia dan Malaysia pada masa pandemik Covid-19. Hal ini sejalan dengan kebijakan Unesa yang berkomitmen yang akan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan pendidikan melalui #UnesaSatuLangkahDiDepan. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar