Pendidikan & Kesehatan

Berdayakan Masyarakat Selama Pandemi

Undika Sulap Kampung Biasa Jadi Kampung Perajin Batik

Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Universitas Dinamika (Undika) Surabaya memilih pemberdayaan masyarakat di tengah pandemi, yakni mengubah kampung biasa menjadi kampung perajin batik.

Kegiatan ini merupakan Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) yang diterima oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) yang menyasar warga Suratan Kelurahan Kranggan, Mojokerto.

Kegiatan tersebut dilakukan selama hampir tiga minggu. Mereka memotivasi warga untuk mengubah desa menjadi kampung batik. Ketua Pelaksana PHP2D Muhammad Wahyudi mengungkapkan, antusiasme warga cukup tinggi dalam pelatihan kali ini.

Untuk kegiatannya ada tiga kali pelatihan membuat batik. Di minggu pertama warga diajarkan membuat teknik batik jumput, minggu kedua warga diajarkan membuat teknik batik cap, dan terakhir membuat teknik batik tulis.

“Sedangkan pada Oktober akan ada pelatihan pemasaran, pengelolaan uang dan lainnya,” kata Yudi, sapaan akrabnya, Senin (28/9/2020).

Ia menejelaskan kegiatan ini dilakukan dengan protokol kesehatan. Bahkan ia juga mengadakan kegiatan secara daring, agar tidak terlalu banyak dan sering berkerumun. Selain itu, mahasiswa Undika akan memberikan pelatihan manajemen produksi, keuangan dan juga pemasaran. Sehingga tujuan awal untuk memodernisasi Desa Suratan menjadi Kampung Batik bisa tercapai.

Meski terbilang lancar, Wahyudi mengakui ada beberapa kendala saat melakukan pelatihan. Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini kegiatan harus tetap menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan anjuran pemerintah. Diantaranya dengan membatasi jumlah orang yang mengikuti pelatihan, tetap jaga jarak, menggunakan masker, dan menggunakan hand sanitizer secara berkala.

“Kami juga mengecek suhu peserta yang mengikuti pelatihan, jika suhunya mencapai 38, tidak diperkenan mengikuti pelatihan langsung tapi melalui pelatihan online,” kata dia.

Wahyudi berharap budaya dan seni bisa dimanfaatkan sebagai salah satu sumber ekonomi, sehingga kampung ini dikenal dengan Kampung Wisata Batik sekaligus ikon Kota Mojokerto. Agar program ini berjalan sesuai dengan perencanaan, mahasiswa bersama kampus akan melakukan monitoring dan evaluasi setiap minggunya.

“Jika kurang maksimal kita akan membuat UMKM untuk dikerjakan warga setempat dan membuat website untuk pemasarannya, jadi kerjasama dengan generasi muda untuk mengoperasikan websitenya,” pungkas dia.

Sementara itu, salah satu warga Ririn Indrawati (43) mengaku dengan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Undika ini ia mendapatkan ilmu baru dalam teknik membatik. Dengan ilmu yang didapatkan ini, ia berharap bisa memproduksi sendiri.

“Pelatihan ini sangat berguna bagi masyarakat setempat. Selain bisa melestarikan budaya, warga juga bisa memiliki aktivitas yang bernilai ekonomi,” urai dia.

Ririn sangat berterimakasih dengan program yang diberikan oleh mahasiswa Undika ini. Apalagi tujuannya menjadikan Desa Suratan menjadi Kampung Wisata Batik.

Hal yang sama juga diungkapkan Anisa Febrianti (21). Ia berharap akan ada pelatihan membatik lagi dengan konsep alam. Agar kreativitas dan inovasi warga terus berkembang dan menghasilkan nilai ekonomi.

“Selama pelatihan ini saya sudah lebih banyak belajar lagi tentang batik tulisnya dan itu yang susah itu di batik tulis, nyantingnya ini yang susah sama pewarnaan,” imbuh dia. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar