Pendidikan & Kesehatan

Unair Kembangkan 2 Jenis Vaksin Model Next Generation Platform

Surabaya (beritajatim.com) – Sejak Covid-19 dinyatakan masuk dan menginfeksi masyarakat Indonesia, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya terus berupaya menjadi salah satu punggawa garda depan dalam penanganan dan penanggulangan pendemi Covid-19.

Mulai upaya meneliti hingga membuat rekomendasi Regimen Kombinasi Obat, Obat Pegembangan Baru (OPB) maupun Vaksin Covid-19 melalui Konsorsium Vaksin Merah Putih.

Melalui Profesor Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengatakan bahwa mencoba membuat vaksin melalui 2 metode dengan model Next Generation Platform, yakni platform Viral Vector dan Peptida.

Platform Viral Vector merupakan konsep pengembangan vaksin Covid-19 berbasis Adenovirus dan Adeno-Associated Virus (AAV) dengan menggunakan pendekatan non-replicating vector. Vector ini (adenovirus dan AAV) digunakan untuk mengantarkan sekuens yang mengkode spike protein (atau receptor binding domain atau RBD) dari SARS-CoV-2.

“Teknik serupa juga digunakan oleh CanSino China (Ad5-nCoV), Oxford Universty -AstraZeneca, dan Rusia (Sputnik V). Pada dasarnya teknik adalah mengunci target yang mengekspresikan, mengkode spike protein dari virus dan juga bagian dari spike yang disebut dengan reseptor binding domain,” terang Prof Nyoman dalam Webminar Vaksin Covid-19 Selangkah Lagi, Senin (26/10/2020).

“Kita menggunakan non replicating vector, jadi begitu nanti dia menginfeksi, digunakan sebagai vaksin masuk ke dalam sel inang manusia akan mengekspresikan antigen menjadi target kita yang menginduks sistem induk di sel inang menjadi antibodi, tapi dia tidak mempackaging dirinya menjadi adenovirus yang baru,” lanjutnya.

Sedangkan untuk PeptAir, uji cobanya berbeda dengan yang Viral Vector. Jika pada Viral Vector hasil atau produksi ekspresi dari antigen spike untuk induksi antibodi bisa dilihat saat uji tantang pada hewan coba. Pada teknik peptida ini baru bisa mendeteksi peptide yang potensial melalui validasi epitop strain yang ada di Indonesia, menstimulai memori dari sel darah pendonor.

“Jadi kita menggunakan darah donor dari pasien yang sudah sembuh untuk menvalidasi epitop mereka, mereka sembuh pasti ada antibodi yang muncul, nah ini kita lihat mana peptida yang sesuai yang reaktif dan spesifik. ini yang kita gunakan untuk menentukan mana peptide potensial terbaik,” paparnya.

Saat ini, Unair sedang dalam tahap ketiga dalam proses pengembangan vaksin PeptAir yakni penetuan peptida terbaik penginduksi sel memori, formulasi dengan anjuran dan produksi peptida skala tengah.

Setelah itu, tahap selanjutnya memiliki proses yang sama dengan vaksin metode AAV, yakni: uji coba pada hewan meliputi uji toksisitas, uji dosis, dan uji tantang dengan SARS-CoV-2 di BSL-3. Kemudian uji klinis fase 1dan2 pada manusia jika hasil uji tantang dan toksisitas pada hewan memenuhi syarat. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar