Pendidikan & Kesehatan

Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka, Sukur: Nyawa Anak Lebih Penting

Bojonegoro (beritajatim.com) – Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur wilayah Kabupaten Bojonegoro menerapkan sekolah percobaan sistem belajar mengajar secara tatap muka. Ada tiga sekolah yang ditunjuk, SMA Negeri 1 Bojonegoro, SMK Negeri 1 Bojonegoro dan SLB Negeri Sumbang.

Ketiga sekolah tersebut dipilih untuk mencoba menerapkan sistem pembelajaran di era new normal pandemi Covid-19. Ketiga sekolah yang ditunjuk akan menjadi bahan evaluasi bersama dan menjadi role model percontohan sehingga belajar mengajar dengan cara tatap muka bisa dilakukan secara bertahap.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro Sukur Priyanto mengatakan, menyikapi kondisi normal baru pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini, Dinas Pendidikan harus mencari cara yang paling efektif dan strateis untuk keselamatan nyawa siswa dalam memberikan hak anak memperoleh ilmu pengetahuan.

“Satu sisi kita bicara sudut pandang nyawa dan keselamatan, sisi lain berbicara soal pendidikan anak. Mana yang lebih penting ya kesehatan anak. Dalam hal ini berhubungan dengan keselamatan nyawa,” ujarnya, Sabtu (22/8/2020).

Kebijakan belajar mengajar yang diterapkan dengan sistem tatap muka harus mengedepankan keselamatan nyawa anak. Sehingga tidak ada yang terpapar Covid-19. Politisi asal Partai Demokrat itu menegaskan, sudah menjadi tanggung jawab pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan untuk memberikan hak pendidikan yang layak.

“Proses belajar mengajar ini harus berjalan dengan baik. Jika ada sistem yang dilakukan tatap muka, pilar utama yang harus dijalankan adalah standar penanganan Covid-19,” tegasnya.

Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Bojonegoro Sumarmin mengatakan, kebijakan pembelajaran tatap muka ini sudah melalui persetujuan dari wali murid dan siswa dengan membuat surat pernyataan. “Surat pernyataan antara orang tua dan siswa, anaknya siap dan orang tua mengijinkan,” jelasnya.

“Surat pernyataan yang menyatakan siap, artinya siap segalanya tanpa adanya persyaratan. Tapi jika orang tuaya tidak siap ya mengambil proses belajar mengajar dengan cara daring,” tambahnya.

Proses belajar mengajar yang dilakukan secara tatap muka itu teknisnya hanya dilakukan dari mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Sehingga mengurangi intensitas interaksi langsung antarsiswa. Membuat surat pernyataan sehat yang diketahui orang tua. Dan mematuhi protokol kesehatan sesuai penanganan Covid-19.

“Jika diprosentasikan yang siap melakukan pembelajaran tatap muka 49 persen dari total 852 siswa. Dan itu pun, jika memang tidak sehat tidak usah masuk, karena kesehatan yang utama,” terangnya.

Sementara, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur di Kabupaten Bojonegoro Adi Prayitno saat uji coba pembelajaran tatap muka yang digelar pertama kali pada Selasa 18 Agustus 2020 mengatakan, bahwa uji coba ini akan dilakukan selama dua minggu, setelah itu akan dievaluasi. “Jika hasil evaluasi uji coba ini dinyatakan berhasil, maka akan ditindak lanjuti nanti,” ujar Adi Prayitno. [lus/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar