Pendidikan & Kesehatan

Ubaya Bersiap Jadi Kontributor Start Up Jatim

Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Surabaya (Ubaya) bersiap jadi kontributor inovasi bisnis startup Jawa Timur. Persiapan ini dibuktikan dengan adanya kuliah tamu mata kuliah Kewirausahaan dan Inovasi bertajuk “Ubaya Figure’s Inspiration Series: Potensi Jatim Peluang Inovasi Di Masa Depan”. Kuliah tamu yang digelar secara daring oleh Ubaya InnovAction Hub (UIH) menghadirkan Dr. H. Emil Elestiano Dardak, B.Bus, M.Sc., selaku Wakil Gubernur Jawa Timur (Wagub Jatim) sebagai pembicara, Sabtu (7/11/2020).

Rektor Ubaya, Ir. Benny Lianto, MMBAT dalam sambutannya menyampaikan bahwa acara ini bertujuan untuk memberikan wawasan serta inspirasi pada mahasiswa mengenai bisnis startup. Beliau berharap dengan adanya pemaparan materi dari Wagub Jatim dapat menjadi salah satu pembuka perspektif mahasiswa yang nantinya akan berkontribusi terhadap perkembangan inovasi Jawa Timur di masa depan. Kuliah tamu kali ini diikuti sebanyak 450 civitas akademika Ubaya dan dimoderatori oleh Prof. Drs.ec. Sujoko Efferin M.Com(Hons)., M.A., Ph.D., selaku Direktur Ubaya InnovAction Hub (UIH).

“Semoga dengan adanya inspirasi dari Pak Emil, mahasiswa bisa menangkap banyak peluang dan gagasan baru di Jawa Timur,” ungkap Benny Lianto.

Pada kesempatan ini, Emil memaparkan jika Jawa Timur memiliki potensi dan kontribusi yang besar bagi perkembangan ekonomi Indonesia. Namun, saat ini masih banyak masyarakat yang belum melek literasi digital. Beliau memberi dorongan motivasi kepada mahasiswa sekaligus perguruan tinggi untuk menjadi agen perubahan. Menurutnya, mahasiswa serta perguruan tinggi memiliki peran penting membantu dalam pemerataan literasi digital di kalangan masyarakat.

“Perlu ada cara supaya masyarakat semakin melek digital. Literasi digital perlu digalakkan sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi,” terang Emil.

Disamping itu, Emil juga menjelaskan bahwa Bank Dunia memprediksi jika ekonomi Indonesia akan menduduki peringkat terbesar kelima dalam kurun waktu beberapa tahun. Menurutnya, hal ini tidak akan terjadi bila tidak ada perubahan paradigma. Beliau mengungkapkan di era Industri 4.0 manusia harus terus berkembang dan memiliki value lain yang bisa ditawarkan agar tidak tergantikan dengan mesin. Seharusnya mahasiswa dapat melihat hal ini sebagai tantangan sekaligus peluang untuk menyusun strategi serta membangun bisnis baru yang berdampak bagi diri sendiri maupun masyarakat.

Emil juga mendorong mahasiswa untuk berani mendirikan startup. Dirinya mengatakan jika saat ini sudah ada East Java Super Corridor (EJSC) yang akan membantu perijinan bagi startup muda di Jawa Timur yang ingin membangun usahanya. “Bahkan ada online single submission. Lewat EJSC penerapan ekonomi kreatif di Jawa Timur dapat berkembang pesat,” jelasnya.

Kemudahan inilah yang harus membuat mahasiswa semakin semangat dalam membuat sebuah startup. Ditambah lagi adanya kemudahan dalam membuat perizinan dari 15 menit hingga paling lambat 17 hari. “Program khusus milenial, silakan datangi kantor pelayanan perizinan terpadu Jawa Timur. Semua akan difasilitasi. Jangan sampai punya pemikiran bahwa buka bisnis itu sulit ijinnya. Jangan ya,” ucap Emil.

Selain itu, Emil juga menuturkan jikalau tidak ingin membuat usaha, mahasiswa dapat memanfaatkan Millennial Job Center (MJC) untuk menjual keahliannya. Adanya wabah Covid-19 mengubah pasar yang awalnya tradisional menjadi digital sehingga ada kebutuhan baru yang semakin dikembangkan untuk mempermudah proses penjualan digital. Salah satu contohnya adalah foto maupun video produk.

“Ini yang menimbulkan urgensi. Sebab tidak semua UMKM bisa memproses foto produk ataupun video produk. Karena itulah MJC berperan sebagai talent matchmaking yang mencocokan milenial kepada workplace dengan adanya bantuan mentor. Saat ini MJC telah memiliki 2686 talent yang terdaftar, dan target awal tahun depan ada 1000 proyek UMKM yang telah dibantu talent. Kita akan launching website di awal Desember,” sambungnya.

Pada penghujung acara, Emil berharap bahwa Ubaya dapat memaksimalkan proses inkubasi bisnis yang ada di kampus untuk mahasiswa. “Kita harus bisa mendampingi mahasiswa agar mencoba untuk berbisnis khususnya bagi mereka yang sudah memiliki bisnis namun belum terekspos agar diberi pengalaman supaya bisa survive. Intinya kita ingin mahasiswa belajar dengan mengembangkan ide bisnis, nggak harus all out. Jika bisnis jatuh atau gagal tidak apa-apa itu proses belajar,” kata Emil.

Baginya proses inovasi dalam sebuah bisnis harus dibuat berjenjang supaya memungkinkan untuk memahami ide lebih lanjut. Ubaya sebagai inkubator bertujuan untuk menguji ide mahasiswa secara bertahap. Hal ini disambut baik oleh Rektor Ubaya. “Kami siap,” tutup Benny Lianto. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar