Pendidikan & Kesehatan

Ubaya Ajarkan Batik ke Mahasiswa Jepang

Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Surabaya (Ubaya) kembali melakukan Cross Culture (program pertukaran budaya), kali ini bersama Tokai University Japan mengadakan The Student Workshops on Global Business in 2019.

Kegiatan yang diselengarakan sejak 26-27 Februari 2019 ini dinaungi oleh Fakultas Bisnis dan Ekonomi (FBE) merupakan yang pertama dengan Tokai University yang diikuti oleh 20 mahasiswa Departemen Internasional. Pada hari pertama mereka bersama beberapa mahasiswa UBAYA mengadakan workshop tentang produk-produk dari negara masing-masing.

Mahasiswa Tokai University mempresentasikan produk Jepang yang memungkinkan besar cocok dengan pasar Indonesia, demikian pula dengan mahasiswa UBAYA yang mempresentasikan produk lokal yang bisa dipasarkan di Jepang, seperti rotan, batik dan sebagainya.

Prof. Dr. Jun Kumamoto selaku ahli Bisnis dan Marketing dan pembimbing mahasiswa Tokai University mengatakan bahwa kegiatan cross culture ini dalam tahapan intelektual dan pembelajaran kuliah. “Pertukaran informasi produk masing-masing hanya dalam batasan lecturing (kuliah) belum tahap marketing praktis, karena untuk mahasiswa Tokai ini masih yang pertama kali berkunjung ke Indonesia. Mungkin jika ada tahapan kedepannya bisa dilakukan prakteknya,” ujar Prof. Jun yang sudah menjadi Profesor tamu di Ubaya selama 4 tahun terakhir ini.

Pada hari kedua (27/2/2019) mahasiswa Tokai University diajak untuk lebih mengenal budaya Indonesia dengan belajar membatik motif bunga sakura dan bung keluwih. Pemilihan motif bunga sakura dan keluwih mencerminkan cross culture antara Indonesia dan Jepang.

Bunga Sakura merupakan simbol penting bagi masyarakat Jepang yang dinobatkan sebagai bunga nasional. Sedangkan keluwih adalah salah satu tanaman asli di Indonesia yang juga digunakan sebagai logo Ubaya. Daun keluwih melambangkan cita-cita berilmu tinggi.

Mahasiswa Jepang diajak untuk belajar membatik dari awal proses mencanting hingga teknik pewarnaan. Awalnya, mahasiswa Universitas Tokai Jepang akan menerima penjelasan mengenai bahan serta alat yang nantinya akan digunakan selama proses membatik. Selanjutnya proses mencanting pada kain dengan mengikuti pola bunga sakura – keluwih. Proses terakhir adalah proses pewarnaan. Teknik pewarnaan pada proses membatik menggunakan tiga warna primer yaitu merah, kuning, dan biru.

“Kolaborasi dengan budaya dan negara berbeda itu tidak mudah. Saya berharap dengan adanya kegiatan ini menjadi wadah bagi untuk menumbuhkancultural intelegence, kita harus awaredengan kebiasaan, culture, norma, dan gaya. Jadi dengan diselenggarakan kegiatan ini tidak hanya berpaku padaprofit oriented atau ekspansi tapi butuhmutual understanding yang sejalan dengan misi Ubaya yaitu multiculture dancrossculture,” ungkap Aluisius Hery Pratono S.E., M.D.M., Ph.D. selaku ketua penyelenggara.

Kenjiro Kaneko, mahasiswa Tokai University pun mengatakan bahwa kegiatan ini sangat mengasyikkan tapi juga melelehkan. Ketika ditanya bagaimana menurutnya keistimewaan batik ia pun menjawab batik memiliki nilai marketing yang baik.

“Ini budaya yang baik, meskipun terlihat mudah tapi butuh membuatnya, di Jepang tidak ada batik, mungkin produk ini bisa dikenalkan ke pasar Jepang,” ujar Ken sambil menunjukkan hasil lukis batik nya dengan bangga. [adg/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar