Pendidikan & Kesehatan

Tugas Berat Wali Siswa Fasilitasi Sekolah Daring

Pamekasan (beritajatim.com) – Sejumlah wali murid siswa sekolah di kabupaten Pamekasan, mulai menjadi waswas menyusul proses belajar mengajar yang menerapkan sistem daring alias online. Khususnya mereka yang berpenghasilan dengan katagori menengah ke bawah.

Sebab proses pembelajaran online tersebut, sekaligus ‘memaksa’ para wali siswa untuk memberikan fasilitas yang dibutuhkan sang anak yang tengah menempuh pendidikan di berbagai jenjang. Sebab kebijakan penerapan program tersebut berlaku untuk tingkat sekolah dasar hingga menengah atas.

“Sejak kemarin anak-anak sudah mulai sibuk dengan hp (handphone) untuk mengikuti program pembelajaran online yang diinstruksikan sekolah, sehingga mau tidak mau kami harus menyediakan fasilitas terbaik untuk kebutuhan anak-anak,” kata salah satu wali siswa di Pamekasan, Mardiono, Selasa (14/7/2020).

Namun demikian dirinya mengaku waswas dengan kondisi seperti itu, sebab ia khawatir sang anak justru ketagihan terhadap hp dan justru melupakan tugas sekolah yang semestinya mereka pelajari setiap saat. “Sebagai orang tua, tentunya kami wajib memberikan sarana kebutuhan untuk pendidikan anak kami, apapun caranya kami harus selalu memberikan yang terbaik,” ungkapnya.

“Kondisi ini memang menjadi sesuatu yang baru bagi kami, apalagi selama ini anak-anak dilarang menggunakan hp saat sekolah. Tapi sekarang justru sebaliknya, dan ini justru yang membuat kami waswas khawatir mereka justru ketagihan hp,” jelasnya.

Tidak hanya itu, kekhawatiran lainnya juga dari aspek ekonomi. Di mana model pembelajaran daring juga membutuhkan kuota internet yang mewajibkan mereka harus menyisihkan sebagian penghasilan untuk kebutuhan anak-anak mereka, tentunya selain kebutuhan pokok yang sebelumnya menjadi prioritas sehari-hari.

“Prinsipnya kami tetap harus mematuhi apa yang sudah dijadikan aturan oleh sekolah, tetapi kami sangat khawatir soal kondisi ini. Ini bukan hanya soal materi, karena hal itu dapat kami cari. Tetapi yang tidak kalah penting harus ada kontrol secara menyeluruh guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” imbuhnya.

Saat ini, wali siswa yang bekerja sebagai pengayuh becak dengan penghasilan katagori kurang mampu. Tentunya menjadi beban tersendiri sekalipun hal tersebut tidak diakui sebagai beban, tetapi justru dianggap sebagai bentuk tanggung jawab. “Anak pertama sudah kelas dua (XI) SMA, satunya sudah masuk SD, semuanya mulai menjalani proses pembelajaran online,” pungkasnya. [pin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar