Pendidikan & Kesehatan

Total Sudah 68 Dokter Jatim Terinfeksi Covid-19

Foto ilustrasi

Surabaya (beritajatim.com) – Masih tingginya angka transmisi Covid-19 ke sejumlah tenaga medis mendorong berbagai pihak untuk terus memperbaiki dan memperhatikan sistem proteksi bagi tenaga medis.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI Jatim), melalui Dr. Achmad Chusnu Romdhoni, dr., SpTHT-KL (K), FICS selaku Tim Satgas Corona IDI Jatim, menyatakan bahwa dari data yang dihimpun IDI untuk dokter di Jatim selama 3 bulan terakhir, terdapat 68 Dokter terinfeksi Covid-19. Dari jumlah itu, ada 6 dokter meninggal dan 30 dokter sembuh.

“Sisanya sedang dalam pengobatan, sebagian dirawat di RS sebagian besar lainnya melakukan isolasi mandiri bagi yang fisiknya masih bagus,” ungkapnya kepada beritajatim.com, Sabtu (20/6/2020).

Ia pun juga mengatakan bahwa disamping itu, juga terdapat 22 mahasiswa residen atau PPDS (Peserta Pendidikan Dokter Spesialis) yang terpapar Covid-19.

“Saat ini datanya ada 22 residen yang terkena Covid-19,” ujar dr Chusnu atau yang juga akrab disapa dr Dani ini.

Terkait hal itu, Dr Chusnu mengatakan bahwa IDI sudah melakukan upaya penanggulangan transmisi terjadi pada tenaga medis terutama Dokter dan PPDS yang berada di bawah naungan IDI.

“IDI Jatim sudah membuat rekomendasi kepada Rumah Sakit, yakni mitigasi anggota dari pandemi Covid-19, menyarankan selalu memakai APD yg sesuai, anggota dengan komorbid dan usia di atas 60 tahun agar melakukan WFH,” paparnya.

Mitigasi yang dimaksud adalah upaya melakukan perlindungan, keselamatan, dan meminimalisir risiko bagi dokter anggota perhimpunan dalam menghadapi virus Covid-19. Yakni dengan langkah sebagai berikut;

1. Melakukan HIMBAUAN dan INFORMASI secara konsisten tentang Protokol Covid-19 bagi dokter anggota perhimpunan dalam upaya perlindungan dan keselamatan.

2. Melakukan pendataan dan upaya mitigasi yang diperlukan bagi dokter anggota perhimpunan Jatim apabila mengalami sakit Covid-19.

3. Upaya mitigasi yang dimaksud meliputi;
– Komunikasi dan Koordinasi
– Pendampingan sesuai yg dibutuhkan
– Membuka jalur akses-akses yang memudahkan pada aspek pemeriksaan hingga perawatan yang diperlukan.
– Membantu kebutuhan jika diperlukan bagi sejawat anggota dan keluarga yang mengalami sakit.

4. Melakukan PENDATAAN dan AUDIT kronologis kejadian dan evaluasinya sehingga bisa didapatkan solusi dan pelajaran bagi sejawat yang lain tentang aspek perlindungan dan keselamatan terhadap Covid-19.

“Dengan demikian harapannya bisa meminimalisir risiko transmisi ke dokter. Karena selama ini juga masih belum diketahui secara pasti apa penyebab dokter-dokter ini tertular Covid-19. Karena kami selalu mendorong sejawat untuk menggunakan APD yang sesuai levelnya dan melakukan SOP dengan ketat,” pungkasnya. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar