Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Tit Tot..Tit Tot, Pak Guru Ini Mengajar Sambil Jualan Cilok

Seorang guru MI di Kecamatan Diwek saat menyusuri jalanan guna menjajakan cilok, Senin (25/11/2019). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Senin (25/11/2019) pagi, Suko Wiyono berdiri mematung di depan pintu rumahnya. Tubuhnya yang gempal dibalut seragam warna coklat keki. Suko seperti mengingat sesuatu. Sejurus kemudian pria yang juga memakai peci warna hitam ini mengambil sepatu yang mulai pudar warnanya. Dalam sekejab, sepatu kusam itu sudah membungkus kakinya.

Suko adalah guru di MI (Madrasah Ibtidaiyah) Thoyib Hidayat, Desa Puton, Kecamatan Diwek, Jombang. Meski semua perlengkapan mengajar sudah siap, Suko tidak buru-buru berangkat pagi itu. Karena Suko harus menyiapkan perlengkapan ‘mengajar’ keduanya. Yakni gerobak cilok/pentol berwarna perak.

Gerobak untuk jualan itu lantas diletakkan di atas sepeda motor. Sebuah pemandangan yang kontras. Mengenakan seragam guru, namun membonceng gerobak cilok. Namun itulah aktivitas sehari-hari yang dilakoni Suko. Setelah semua siap, sepeda motor Honda keluaran tahun 1990-an itu pun meluncur ke jalan. Suko berangkat dengan penuh percaya diri.

Matahari belum rata memancarkan sinarnya ketika Suko sampai di halaman sekolah. Sepeda motor berisi gerobak itu diparkir di tempat biasanya. Dia memasuki ruangan guru. Bel tanda masuk sekolah berdentang, guru kelas 1 MI Thoyib Hidayat ini sudah berdiri di pintu kelas.

Setiap murid yang memasuki kelas, disambutnya dengan salaman. Bukan itu saja, usai berjabat tangan, dilanjut dengan salam tos. Tangan guru dan murid saling menghantam hingga menimbulkan bunyi plak. Itu dilakukan secara bergiliran. Satu per satu, kepada setiap murid yang memasuki kelas.

Di kelas itulah Suko memberikan pelajaran kepada murid-muridnya. Semuanya berlangsung alamaiah. Suko menerangkan sembari menuliskan pelajaran di papan, sementara murid-muridnya menyimak dengan seksama. “Hari ini pelajaran tematik anak-anak,” kata Suko memulai pelajarannya.

Suko Wiyono saat mengajar di kelas 1 MI Thoyib Hidaya, Desa Puton, Kecamatan Diwek

Pelajaran yang disampaikan Suko terhenti ketika bel tanda istirahat berbunyi. Semua murid keluar ruangan, demikian juga Suko. Namun yang membedakan, Suko tidak beristirahat di ruang guru. Dia menuju ke tempat sepeda motornya terparkir. Guru MI ini siap memberikan pelajaran kedua.

Sejumlah murid bergerombol di sekitar sepeda motor. Kesibukan Suko pun dimulai. Tangannya lincah membungkus cilok ke dalam plastik, kemudian melumurinya dengan bumbu, serta menyerahkan kepada muridnya yang membeli jajanan tersebut. Itu dilakukan berkali-kali hingga antrean pembeli cilok habis.

Itulah yang dilakukan Suko setiap hari. Sambil menyelam minum air. Sembari mengajar berjualan cilok di sekolah. “Alhamdulillah, hasil jualan cilok ini bisa untuk tambahan kebutuhan sehari-hari. Ini setiap hari saya lakukan,” kata Suko sembari mengulas senyum.

Suko mengaku, terpaksa mencari penghasilan tambahan dari jualan pentol. Itu karena gajinya sebagai guru honorer hanya Rp 500 ribu per bulan. Tentu saja, gaji tersebut tidak cukup untuk menopang ekonomi keluarganya. Sebenarnya, Suko masih mendapatkan tambahan dari sekolah tersebut. Karena dia juga merangkap sebagai tukang kebon.

“Gaji saya hanya Rp 500 ribu. Kemudian ditambah dengan honor membersihkan taman sekolah. Jadi setiap bulan saya menerima Rp 700 ribu. Tapi jumlah itu juga masih kurang. Makanya, saya nyambi jualan cilok,” katanya menambahkan.

Kepala MI Thoyib Hidayat, Lutfi Anshori tak mempersalahkan ada guru yang mencari penghasilan tambahan. Termasuk Suko yang berjualan cilok di sekolah. Dari awal, Lutfi sudah berpesan kepada para guru agar tidak terlalu bergantung sekolah. Karena keuangan sekolah sangat terbatas.

Guru MI yang nyambil jualan cilok saat berangkat mengajar

“Tidak ada masalah ada guru yang nyambil jualan. Karena sembari mengamalkan ilmu, mereka juga bisa menghidupi keluarga. Ini karena sekolah memang tidak mampu memberikan gaji yang besar. Keuangan kami terbatas,” kata Lutfi ketika dimintai komentarnya tentang adanya guru yang jualan cilok.

Bel tanda pulang di MI Thoyib Hidayat berbunyi. Suko Wiyono keluar dari ruangan kelas. Dia kemudian menuju tempat sepeda motornya terparkir. Wadah di atas sepeda motor yang berisi cilok dibukanya. Ternyata barang dagangan itu belum habis. Siang itu juga, Suko harus berkeliling kampung untuk menjajakan makanan ringan tersebut.

Sepanjang perjalalanan menyusuri kampung, suara tit..tot..tit..tot terus ia bunyikan. Suara itu seoalah memanggil-manggil para pelanggan agar segera datang memborong cilok tersebut. Seiring dengan itu, di Hari Guru Nasional yang jatuh pada 25 November ini, Suko berharap pemerintah meningkatkan kesejahteraan para pahlawan tanpa tanda jasa. Sehingga saat menanggung beban jam mengajar, mereka tidak berpikir lagi mencari penghasilan tambahan. [suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Anoa Dataran Rendah Koleksi KBS Mati

Unik dan Lucu, Lomba Sugar Glider di Surabaya

Aryo Seno Bicara Organisasi Sayap PDI Perjuangan