Pendidikan & Kesehatan

Tiga Pelajar Ponorogo Ubah Daun Beringin Jadi Obat Nyamuk Elektrik

Ponorogo (beritajatim.com) – Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah yang terjadi di Ponorogo membuat M. Akif Tholibul Huda, Rifqi Fathil Alhamid, dan Hanifah Rana Zahirah untuk berinovasi membuat sesuatu yang efektif membasmi nyamuk.

Ketiga sahabat tersebut akhirnya berhasil membuat mat (obat nyamuk elektrik) dari daun pohon beringin. “Mungkin belum banyak yang tahu, jika daun pohon beringin ini memiliki kandungan anti insecta yang dapat meracuni nyamuk,” kata M. Akif Tholibul Huda, saat ditemui beritajatim.com di sekolahnya SMAN 1 Muhipo, Sabtu (16/2/2019).

Akif, sapaan akrabnya mengungkapkan, ide untuk membuat mat ini karena melihat banyaknya daun beringin yang memenuhi halaman sekolah mereka. Butuh berpuluh kali percobaan untuk dapat menghasilkan obat nyamuk elektrik dari daun beringin tersebut.

Mereka memerlukan limbah daun beringin yang berwarna kuning sebanyak 80 gram untuk dihaluskan, lalu ditambah 100 ml air. Nah air sulingan itu kemudian dipanaskan. Sebelum mendidih ditambahkan 10 gram tepung kanji, kemudian dicetak lalu dipipihkan dan menyerupai dengan ukuran obat nyamuk elektrik yang saat ini beredar di pasaran.

Setelah itu dikeringkan di bawah terik matahari selama sehari. “Setelah jadi, baru kemudian diletakkan di wadah yang tersambung aliran listrik. Atau alat yang biasa digunakan untuk mengusir nyamuk dengan obat nyamuk eletrik buatan pabrik,” lanjut Rifqi.

Temuan unsur insecta dalam daun beringin yang kemudian ditangan mereka disulap menjadi obat nyamuk elektrik perlu diacungi jempol. Selain ramah lingkungan karena bahan dasarnya dari limbah daun pohon beringin.

Produk tersebut juga memiliki keunggulan dibanding obat nyamuk yang buatan pabrik. Biasanya produk pabrik memakan waktu 21 menit untuk bekerja mematikan nyamuk. Obat hasil temuan mereka hanya memerlukan waktu 19 menit. Dan obat tersebut mampu bekerja hingga delapan jam. “Selain itu aromanya juga tidak membuat kita sesak napas. Karena aromanya harum seperti teh,” katanya.

Hanifah Rana Zahirah menambahkan, hasil temuan ini masih diproduksi dalam jumlah kecil. Mereka membandrolnya dengan harga Rp 5-8 ribu per paknya. Satu pak berisi sepuluh keping. Mereka berharap, hasil temuan itu dapat diproduksi secara massal agar membawa manfaat bagi orang banyak.

Terlebih hasil temuan itu berbahan limbah yang ramah lingkungan dan tidak memiliki efek samping. “Harganya masih lebih ekonomis dibanding buatan pabrik,” pungkasnya. [end/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar