Pendidikan & Kesehatan

Testimoni Penyintas COVID-19: Donor Plasma Darah Tidak Sakit Sama Sekali

John Thamrun, anggota DPRD Surabaya yang juga penyintas COVID-19,

Surabaya (beritajatim.com) – Para penderita COVID-19 saat ini membutuhkan donor plasma darah dari mereka yang sudah sembuh atau kelompok penyintas. Karena, para penyintas keganasan virus yang menjadi penyebab pandemi global ini disebut memiliki antibodi yang bisa membantu kesembuhan penderita.

Di sisi lain, PMI dalam berbagai kesempatan sering mengungkapkan jika pihaknya hanya memiliki sedikit sekali stok plasma darah. Beberapa penyintas menyebut prosesi donor plasma darah bisa dibilang sakit dan membuat mereka takut. Benarkah?

John Thamrun, anggota DPRD Surabaya yang juga penyintas COVID-19, memastikan jika donor plasma darah sama sekali tidak sakit. Ia pun mengajak seluruh penyintas COVID-19 untuk melakukan donor plasma darah.

“Ngga sakit sama sekali. Kalau bicara ukuran jarum, itu kan relatif ya. Tapi nggak sakit. Hanya yg keluar itu bukan merah seperti donor darah pada umumnya. Melainkan bening. Nggak sakit, seperti donor darah pada umumnya kalau rasanya,” kata John.

Meski demikian, pria yang akrab disapa JT ini mengungkapkan jika tidak semua penyintas COVID-19 bisa menjadi donor plasma darah. “Ada beberapa kriteria. Seperti misalkan diutamakan bagi pria. Lalu saya juga dicek kondisi imun tubuhnya, lalu juga antibodinya. Kalau secara medis oke, maka akan dilakukan proses pengambilan plasma darahnya,” bebernya.

“Lalu juga di awal ketika kita menghubungi PMI, harus menghubungi atau bikin janji dulu ya jadi tidak bisa ujug-ujug datang, kita akan ditanya apakah plasma darah kita ini didonorkan untuk umun atau secara spesifik untuk seseorang,” kata John lebih lanjut.

Lebih lanjut, sebagai penyintas dan juga pendonor plasma darah, John mengajak rekan-rekannya sesama penyintas untuk melakukan pemeriksaan diri. “Kalau memang bisa dan diizinkan dokter, ayo donor plasma darah. Saya pun, jika meski sebelum waktunya donor lagi, kalau memang dibutuhkan dan diizinkan dokter maka saya siap donor lagi,” pungkas John.

Dilansir dari laman resmi Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), cara kerja terapi plasma darah konvalesen ini adalah dengan memberikan plasma atau bagian darah yang mengandung antibodi dari orang yang telah sembuh (survivor atau penyintas) kepada pasien yang sakit.

Hal tersebut serupa dengan pernyataan dr. Fauzan Adima, Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri yang menjelaskan bagaimana cara kerja terapi plasma darah konvalesen ini. “Sebenarnya konsepnya hampir sama seperti vaksin, jika vaksin menginjeksikan virus yang sudah dilemahkan ke tubuh dengan harapan tubuh dapat memproduksi antibodi terhadap virus tersebut,” jelasnya, saat ditemui diruangannya, Jumat (15/1/2021).

“Begitu juga dengan terapi plasma darah konvalesen ini, namun bedanya untuk terapi plasma darah konvalesen ini menginjeksikan antibodi dari penyintas yang sudah terbentuk kepada penderita, sehingga pasien tersebut memiliki antibodi untuk melawan virus (Covid-19),” sambungnya.

Pernyataan tersebut diperkuat dengan pengakuan dari dr. Ira Widyastuti, Kepala Unit PMI Kota Kediri yang menyatakan pernah merawat pasien Pneumonia dengan metode terapi plasma darah.

“Seseorang yang sudah mendapat plasma darah, tingkat kesembuhannya tinggi, saya pernah menangani pasien dengan Pneumonia berat dan ia melakukan terapi plasma darah konvalesen ini, cukup satu kantong (200 cc), satu hari kemudian kondisinya sudah berangsur membaik bahkan menghilang Pneumonianya,” ujarnya.

Meski telah ditemukan berbagai macam cara untuk menekan kasus Covid-19 melalui pembentukan antibodi, baik melalui vaksin maupun terapi plasma darah, Pemerintah Kota Kediri tetap meminta masyarakat untuk waspada. “Protokol kesehatan 3M tetap harus dijalankan, jangan sampai lengah,” pungkas Fauzan. (ifw/nm/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar