Pendidikan & Kesehatan

Tertahan di Asrama ITS, Mahasiswa Rantau Diberi Bingkisan Lebaran

Surabaya (beritajatim.com) – Satu hari menjelang lebaran, masih banyak mahasiswa yang tertahan di asrama maupun rumah kost, karena berbagai sebab. misalnya, mereka tertahan karena ada pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), keterbatasan ekonomi, maupun karena tidak ingin tertular Covid-19.

Begitu juga beberapa mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) yang bertahan di asrama ITS dan tidak bisa berkumpul bersama keluarga untuk merayakan lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Dari mahasiswa rantau tersebut terdapat 10 mahasiswa asing, dari Afganistan, Afrika, Ruanda, Khazaktan. Melihat hal ini, Yayasan Manarul Ilmi (YMI) ITS memberikan paket lebaran untuk mahasiswa rantau.

Tryanto mengatakan kegiatan ini adalah upaya YMI yang merupakan lembaga sosial alumni ITS untuk mengambil alih sementara peran orang tua. Sebanyak 100 paket dibagikan kepada mahasiswa dan para penjaga asrama.

“Paket parsel lebaran ini kami sediakan agar mahasiswa rantau bisa menikmati sedikit suasana lebaran meskipun hanya di asrama. Isinya kue kering, susu, makanan, dan uang saku untuk beli paket internet agar bisa dibuat video call keluarga di rumah,” ujar Tryanto, Sabtu (23/5/2020).

Maryam Asghari, mahasiswa S2 Sistem Informasi ITS berasal dari Afganistan, juga bertahan di asrama. Ia mengaku rindu masakan dan suasana lebaran di Kabul, di kampung halamannya di Afganistan.

“Ya suasana lebaran di Kabul sebenarnya sama, juga saling mengunjungi saudara dan tetangga, berlibur, makan besar dan bersuka cita. Hanya saja saat ini saya ada disini juga sedang PSBB, saya tidak pernah keluar asrama, just go out for food, jadi saya rasa tahun ini cukup berbeda,” ujar mahasiswi 26 tahun ini.

Ia mengatakan rindu masakan khas Afganistan yang tidak ada di Indonesia. Meskipun demikian ia tidak berkecil hati, karena merasa cukup aman dengan berada di asrama. Selama masa PSBB pun Maryam mulai memasak makanannya sendiri, karena kantin dan toko-toko tutup.

“Ya saya masak sendiri, saya hanya keluar kalau membeli bahan makanan, 24 jam full saya ada di asrama. Lebaran begini saya rindu masakan Afganistan, saya coba cari bumbunya di sini tapi tidak ketemu. Itu yang terasa berbeda,” ujarnya.

Bingkisan paket lebaran dari YMI pun diterima dengan senang hati, karena ia dengan begitu ia tidak harus keluar asrama untuk membeli makanan untuk beberapa hari kedepan. “Semoga bantuan ini, sedikit obat di saat lebaran besok. Seperti saat di rumah. Diberi uang pulsa untuk mengobati kerinduan mereka,” pungkas Tryanto. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar