Pendidikan & Kesehatan

Terjun ke Politik? Ini Modal Penting yang Harus Dimiliki Perempuan

Aribowo, foto istimewa

Surabaya (beritajatim.com) – Bertepatan dengan Hari Perempuan, Jumat (8/3/2019), pakar politik Universitas Airlangga (Unair) Drs. Aribowo, MS  berbincang dengan beritajatim.com tentang perempuan dalam politik budaya patriarki Indonesia.

Budaya patriarki dalam kehidupan sehari-hari memang masih menyisahakan pertanyaan besar seputar keterwakilan perempuan. Namun, seiring dengan berkembangnya zaman, perempuan di era sekarang semakin berani menunjukkan kekuatannya baik dalam bidang personal maupun dalam ranah publik.

Sebagai contoh, di Jawa TImur, mulai bermunculan pemimpin–pemimpin perempuan yang menjabat dalam ranah publik. Khofifah Indar Parawansa yang menjabat sebagai Gubernur Jatim periode 2019-2024, Wali Kota Surabaya, dua periode Tri Rismaharini, dan masih ada beberapa kepala daerah yang juga dijabat oleh perempuan.

Aribowo mencatat fenomena aktivisme perempuan mulai menguat sejak sekitar 2 dekade yang lalu. Perempuan mulai tumbuh menjadi kekuatan sosial dan politik baru dan mulai menggeser posisi laki-laki di semua lapisan masyarakat.

“Di akademik itu, perempuan mulai berprestasi, lalu lulusan perempuan banyak, lalu tenaga kerja perempuan juga semakin banyak. Bahkan ada kecenderungan perempuan di sektor publik semakin lama semakin besar,” jelas dosen FISIP Unair yang sekaligus mantan Dekan Fakultas Ilmu Budaya ini.

Menurut Kepala Airlangga University Press (AUP) ini, kecenderungan perempuan untuk masuk dalam bidang politik tidak dapat disepelekan. Hal ini karena perempuan mulai dapat bersaing dengan laki-laki dalam hal pemikiran yang mewakili sektor publik.

“Laki-laki akan mendapat persaingan yang ketat, sekarang di jabatan-jabatan eksekutif sudah banyak perempuan, memang laki-laki masih banyak iya, tapi potensi perempuan untuk masuk ke sektor publik itu besar dan itu semakin kuat,” urainya.

Jika dua dekade lalu, perempuan lebih memilih bekerja di tempat yang dapat menanggung diri mereka tanpa merasa khawatir akan kehilangan pekerjaan, untuk era milenial ini, Aribowo mencatat para perempuan mulai mau mengambil resiko untuk bekerja di tengah ketidakpastian. Para perempuan mulai membutuhkan tantangan untuk memacu diri mereka melampaui batasnya.

“Dua puluh tahun lalu, perempuan itu tidak terlalu suka bekerja di tempat yang banyak konfliknya, banyak spekulasinya, banyak ketidakpastian. Seperti dalam bidang politik praktis itu mereka tidak terlalu suka,” sebutnya.

Aribowo juga mencatat bahwa pergeseran perempuan untuk masuk ke dalam politik juga ditentukan oleh ajakan keluarga yang telah berkecimpung di dunia politik sebelumnya. Tanpa adanya pengaruh keluarga, perempuan masih merasa kurang termotivasi jika harus masuk ke dunia politik praktis.

Agar dapat terpilih menjadi wakil dari masyarakat, Aribowo setidaknya mencatat tiga hal penting yang harus dilakukan oleh perempuan dalam memenangkan hati rakyat. Yang pertama adalah perempuan harus pintar membawa isu yang beredar dimasyarakat. Ia mengambil contoh untuk mengangkat isu-isu seputar kesejahteraan dan keadilan dan menjauhi isu-isu seputar kekuatan, ketegasaan, keberanian, dan sebagainya.

Selain itu, untuk memenangkan hati masyarakat, diperlukan kapabilitas dari perempuan itu sendiri. Jika perempuan memiliki kemampuan untuk memimpin dan bijak dalam menyikapi berbagai hal, jujur, berkomitmen, dan berintegritas, hal itu dapat menjadi nilai positif tersendiri untuk meraih suara.

Yang terakhir adalah perempuan perlu membuat program-program yang dekat dengan keinginan masyarakat. Perempuan harus mengetahui apa yang menjadi permasalahan masyarakat sampai pada hal yang mendasar di masyarakat.

“Kalau program dia itu program yang dibutuhkan masyarakat, dekat dengan masyarakat, biasanya dia akan dipilih dan banyak disenangi oleh masyarakat,” pungkasnya. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar