Pendidikan & Kesehatan

Teknik Unair-Soetomo Antarkan Dwikora Jadi Profesor

Surabaya (beritajatim.com) – Profesor Dr Dwikora Novembri Utomo, dr, Sp OT(K) begitulah gelar panjang yang baru saja diraih dari pengukuhan Guru Besar Universitas Airlangga (Gubes Unair), Rabu (21/10/2020) di Aula Garuda Mukti Kampus C Universitas Airlangga.

Prof Dwikora pun tercatat sebagai guru besar aktif di ke-114 Fakultas Kedokteran Unair. Dalam orasinnya yang berjudul ‘Menuju Kemandirian Penanganan Cedera Lutut Secara Komprehensif’ Prof. Dwikora menyapaikan bahwa secara garis besar, usaha yang bisa dilakukan atlet untuk mencegah terjadinya cedera lutut dapat dibagi menjadi dua, pertama adalah upaya promotif-preventif, dan yang kedua adalah upaya kuratif-rehabilitatif.

Menurutnya, upaya pencegahan merupakan upaya bersama yang bersifat kolektif. Yakni, melibatkan tidak hanya atlet yang bersangkutan tetapi juga pelatih, dokter tim, nutrisionis, dan bahkan pemangku kebijakan.

Menurut Prof Dwikora, langkah awal dalam upaya kuratif yang bisa dilakukan adalah dengan memperkuat kemampuan diagnosis yang tepat dan harus berkesinambungan dengan tatalaksana yang sesuai indikasi dan juga diikuti oleh rehabilitasi medik yang kuat.

“Wujud upaya kolektif kami adalah dengan adanya pendirian Surabaya Sport Clinic (SSC) RSUD dr. Soetomo/FK UNAIR, dimana merupakan sport clinic pertama yang didirikan di Indonesia,” papar Guru Besar Bidang Orthopaedi dan Traumatologi itu.

Teknik Unair-Soetomo
Secara umum, Prof Dwikora mengatakan, tatalaksana cedera ligamen krusiatium anterior (ACL) yang terbaik pada atlet usia muda adalah operatif, yakni dengan dilakukan rekonstruksi ACL dengan melakukan penggantian ligamen ACL dengan cangkok tendon patella (dari lutut), tendon hamstring (dari paha belakang), tendon quadricep (paha depan), dan tendon peroneus (betis).

“Kami telah mengembangkan teknik baru yang kami sebut dengan Teknik Unair-Soetomo, dimana pengambilan tendon hamstring hanya dengan irisan sepanjang dua sentimeter. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan dari sisi estetik dan pemulihan pascaoperasi bagi pasien,” kata Guru Besar kelahiran Jember tersebut.

Upaya tersebut, jelasnya, merupakan bentuk nyata kemandirian dalam melakukan desain dan produksi dengan menggandeng industri dalam negeri, sehingga dapat diperoleh dengan harga terjangkau.

Kolaborasi untuk Inovasi
Prof. Dwikora meyebut, melalui kerja sama antara Instalasi Bank Jaringan dan Regenerative Medicine, RSUD dr.Soetomodan Pusat Penelitian dan Pengembangan Sel Punca UNAIR, untuk pertama kalinya dibuatlah suatu scaffold atau kerangka.

Yakni stuktur tiga dimensi yang berfungsi sebagai tempat pertumbuhan sel sekaligus mengisi defek tulang rawan akibat cedera dengan bahan alami yang mudah didapat di dalam negeri, yaitu tulang rawan sapi yang akan diproses untuk menghasilkan produk yang disebut decellularized bovine cartilage scaffold (DBCS).

“Scaffold ini telah memenuhi uji karakterisasi dan uji praklinis dan sedang dalam pelaksaanaan uji klinis. Scaffold ini akan dikombinasi dengan pemberian terapi sel punca mesenkimal untuk merangsang regenerasi endogen dari tulang rawan, sehingga kami berharap agar upaya ini mampu menyediakan pilihan terapi bagi atlet yang mengalami cedera tulang rawan tanpa harus bergantung kepada ketersediaan produk luar negeri,”tandasnya.

Berbagai inovasi lain yang telah dikembangkan oleh Prof. Dwikora seperti platet-rich fibrin atau PRF sebagai sumber faktor pertumbuhan yang dapat memfasilitasi proses penyembuhan otot. Kemudian sistem fiksasi berupa stapler untuk kasus avulsi ligamen krusiatum posterior, atau rekonstruksi ligamen ektraartikular.

“Saat ini kami berupaya untuk membuat purwarupa bantalan lutut dari bahan alami yaitu dari meniskus sapi. Harapan kami adalah meniskus alami ini bisa menjadi pilihan dalam melakukan transplantasi meniskus dengan ketersediaan yang banyak dan biaya terjangkau,” pungkasnya. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar