Pendidikan & Kesehatan

Tasawuf sebagai Problem Solving Dekadensi Moral

KH Ilyas Hasan (kiri/pegang mic) memberikan materi Akhlak Tasawuf dalam ajang Pekan Ngaji 6 Pesantren Bata-Bata. [Foto: Humas Pesantren Bata-Bata]

Pamekasan (beritajatim.com) – Tasawuf sebagai Problem Solving Dekadensi Moral menjadi tema Ngaji Akhlak Tasawuf dalam multi event bertaraf internasional, Pekan Ngaji 6 Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Panaan, Palengaan, Pamekasan.

KH Ilyas Hasan diplot sebagai narasumber, didampingi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (Ketum DPP) Ikatan Alumni Bata-Bata (IKABA), Ustadz Ruba’ie Sholeh, sekaligus bertindak sebagai moderator dalam kegiatan yang dipusatkan di Mushalla Putra kompleks pesantren, Kamis (18/3/2021) malam.

Dalam kesempatan tersebut, pemateri banyak menceritakan seputar pengalaman spiritualnya saat masih menjadi santri di Pesantren Bata-Bata, khususnya saat diasuh KH Ahmad Mahfud Zayyadi sebagai pengasuh ketiga pesantren yang berdiri pada 1943 Masehi atau 1363 Hijriyah.

“Kiai Mahfud merupakan pengasuh yang sangat mendahulukan etika, hal itu ditandai dengan dawuh beliau tentang ‘Kesopanan Lebih Tinggi Nilainya daripada Kecerdasan‘ yang hingga saat ini tetap istiqamah menjadi motto Pondok Pesantren Bata-Bata,” kata KH Ilyas Hasan.

Bahkan pada saat itu, jargon yang saat ini dijadikan sebagai Motto Pesantren juga dipajang di berbagai titik strategis di kompleks pesantren. Seperti mushalla, madrasah, ruang kelas hingga Mandhepa (tempat menerima tamu pesantren). “Hal ini jelas menunjukkan bahwa akhlak menjadi hal yang sangat diutamakan,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, Kiai Ilyas (sapaan akrab KH Ilyas Hasan) memberikan pencerahan kepada para santri dengan menyampaikan segala bentuk kemaksiatan yang dilakukan manusia karena faktor hati yang tidak bersih. “Oleh karena itu, taubat dan muhasabah menjadi kunci utama untuk membersihkan hati dengan senantiasa mengharap ridha dan ma’unah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tegasnya.

“Kita ini bukan Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) yang pernah dibelah dadanya untuk dibersihkan hatinya. Kita hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari dosa dan kesalahan, sehingga mengharuskan kita agar selalu meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah,” jelasnya.

Selain itu, ia juga kembali menyampaikan salah satu nasihat yang disampaikan KH Ahmad Mahfud Zayyadi, agar para santri mendapatkan ilmu bermanfaat. “Dawuh beliau agar para santri memperoleh ilmu bermanfaat, di antaranya rajin mengaji, muthala’ah (belajar), bermusyawarah, ziarah ke maqbarah (congkop), dan tidak melanggar undang-undang pesantren,” imbau Kiai Ilyas.

“Kami kira hal itu tidak berat dilakukan oleh para santri, sehingga harus dilaksanakan apa yang didawuhkan beliau (KH Ahmad Mahfud Zayyadi). Dan tidak kalah penting tentunya kita harus selalu membersihkan hati dengan menjauhi berbagai perbuatan berbau maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pungkasnya.

Sebelumnya Direktur Aswaja Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNI) Provinsi Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin juga menilai pesantren sebagai tempat terbaik untuk membentuk moral umat Islam Indonesia. Khususnya saat mengisi ‘Ngaji Akhlak’ dalam rangkaian kegiatan serupa.

Hal tersebut bukan tanpa alasan, sebab lingkungan pesantren sangat mendukung untuk membentuk moral generasi muda akan digembleng dengan begitu kuat melalui tiga hal, yakni salat berjemaah, mempelajari ilmu agama dan tentunya pesantren sebagai tempat belajar akhlak. [pin/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar