Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Tanpa Guru, Ibarat Layangan Putus

Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi (kiri) menerima cinderamata usai mengisi Ngaji Akhlak Tasawuf pada Pekan Ngaji 7 Pesantren Bata-Bata, Jum'at (7/1/2022).

“Seseorang yang tidak punya guru, sama halnya dengan layangan putus yang hanya mengikuti arah mata angin tanpa pijakan dan tujuan yang jelas,” Habib Muhammad Al-Habsyi.

Ungkapan tersebut disampaikan Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi saat mengisi materi Ngaji Akhlak Tasawuf pada ajang internasional Pekan Ngaji 7 Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Desa Panaan, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Jumat (7/1/2022).

Dalam materi yang mengusung tema ‘Hubungan Batin Murid terhadap Guru’, ia juga mengklasifiksikan orang tua dalam dua bagian berbeda, yakni orang tua biologis dan orang tua ideologis. Sementara posisi seorang guru termasuk bagian ideologis karena berkat jasa pengajaran dan bimbingan.

“Pada dasarnya, guru itu bisa melihat banyak hal yang tidak bisa dilihat manusia kebanyakan. Karena itu, sebagai seorang murid kita harus selalu mematuhi apa yang diperintahkan oleh sang guru selama tidak bertentangan dengan syariat,” kata Habib Muhammad Al-Habsyi.

Dari itu ia juga mengajak para santri agar selalu berhikmad dengan selalu melaksanakan perintah sang guru, baik saat masih berstatus sebagai santri atau bahkan alumni. “Jadi tidak mungkin orang mencapai tempat tinggi kecuali dengan berhikmad kepada guru, sehingga kita harus senantiasa mendoakan para guru kita,” ungkapnya.

“Jika ada murid (santri) yang mau berhikmad kepada guru, sedangkan murid lainnya tidak. Maka ia (santri berhikmad) merupakan murid yang paling banyak mendapatkan barokah dari seorang guru,” sambung Habib Muhammad Hasbyi, mengutip perkataan Kiai Ahmad Umar Abd Mannan.

Tidak hanya itu, ia juga menegaskan jika tanpa keberadaan guru, seseorang akan menjalani hidup tanpa arah dan tujuan yang jelas. “Seseorang yang tidak punya guru, sama halnya dengan layangan putus yang hanya mengikuti arah mata angin tanpa pijakan dan tujuan yang jelas,” tegasnya.

“Maka dari itu, sebagai seorang murid kita harus selalu memberikan doa terbaik kepada guru-guru kita. Karena seorang guru sekalipun sudah wafat masih bisa membimbing kita untuk menjadi orang yang baik dan bermanfaat,” imbuhnya.

Tidak kalah penting, ia juga mengajak para santri atau masyarakat secara umum agar mencari sosok guru yang benar-benar sholeh dengan sanad keilmuan yang jelas. “Saat ini kita hidup di zaman teknologi yang semakin maju, sehingga tidak jarang banyak orang berlomba untuk belajar di sosmed,” jelasnya.

“Namun perlu diketahui bersama, sejatinya belajar di sosmed (sosial media) itu hanya semata memberikan informasi dan bukan ilmu. Sehingga kita harus berguru pada sosok yang shalih dan jelas secara sanad keilmuannya,” pungkasnya. [pin/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar