Pendidikan & Kesehatan

Kontribusi Universitas Airlangga Sebagai Punggawa Penanganan Covid-19 Bagian 1

Tancapkan Taji Pertama

Sejak Covid-19 dinyatakan masuk dan menginfeksi masyarakat Indonesia, pada Senin, 2 Maret 2020, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya berupaya menjadi salah satu punggawa garda depan dalam penanganan dan penanggulangan pendemi Covid-19. Gerakan besar diawali dari ditunjuknya Institute Tropical Disease Universitas Airlangga (ITD Unair) sebagai salah satu pusat rujukan penangan virus corona, lebih tepatnya sebagai laboratorium dan pusat tes Covid-19. Penunjukan ini, dibacakan langsung oleh Juru Bicara Satgas Penanggulangan Corona Pemerintah Indonesia, Achmad Yurianto di Istana Negara, Jumat (13/3/2020).

Sejak itu, Unair terus mengambil peran, mulai upaya promotif prevetif, penangan dan perawatan pasien Covid-19, berbagai bentuk donasi, kebijakan kampus terkait mahasiswa terdampak, penelitian dan riset untuk menemukan penangkal Covid-19 dan puncaknya membuat rekomendasi Regimen Kombinasi Obat yang ditujukan sebagai solusi jangka pendek, Obat Pegembangan Baru (OPB) yang ditujukan sebagai solusi jangka menengah maupun Vaksin Covid-19 yang ditujukan sebagai solusi jangka panjang untuk Covid-19 ini.

Penunjukan ini karena ITD Unair telah memiliki kapasitas untuk melakukan tes Covid-19 yang awalnya hanya dilakukan 1 pintu melalui Balitbangkes. ITD Unair telah memiliki Laboratorium BSL 3 berstandar WHO dan reagen Covid-19 yang saat itu juga hanya dimiliki Balitbangkes dan Lembaga Eijkman. Bersamaan dengan ditunjuknya ITD sebagai laboratorium pembaca hasil test Covid-19, tentunya Rumah Sakit (RS) milik Unair yakni Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) dan RSUD Dr Soetomo pun secara otomatis menjadi RS yang ditunjuk sebagai RS Rujukan Covid-19 yang dapat digunakan sebagai RS pengecekan, penanganan dan perawatan Covid-19.

Menjadi laboratorium yang bertanggung jawab atas tes Covid-19 atau tes swab yang dilakukan oleh RSUA, RSUD Dr Soetomo dan mayoritas RS di Jatim, ITD Unair memiliki kemampuan pembacaan hasil test yang lebih cepat dari pada di tempat lain.

Identifikasi yang dilakukan RSUA dan ITD memerlukan waktu yang relatif singkat. Di lingkup internal, kemampuan Unair dalam mendeteksi Virus Corona tidak terlepas dari kerja sama berbagai pihak seperti RSUA, RSUD dr. Soetomo, ITD, para pakar dan ahli yang dimiliki Unair. Tes laboratorium ITD dalam keadaan normal memakan waktu 2-3 hari, dan masih bisa dipercepat menjadi 5 jam.

“ITD Unair bekerja sama dengan Kobe University berhasil mendapatkan reagen untuk memeriksa dan mendeteksi Virus Corona. Reagennya yaitu premier spesifik yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi seseorang yang suspect atau confirm Virus Corona. Atas mandat yang diberikan oleh Kemenkes ini, RSUA bersama ITD Unair akan berkolaborasi untuk mengidentifikasi keberadaan Virus Corona,” ujar Prof Muh Nasih sebagai Rektor Unair (14/3/2020).

Selain menjadi salah satu laboratorium yang bertanggung jawab pada pembacaan tes Covid-19, Unair juga menyedikan lahan, fasilitas dan SDM untuk Posko Penanganan Covid-19 BPBD yang bertempat di halaman RSUA atas permintaan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa.

Bergerak cepat, pada 18 Maret, Unair melaporkan sudah dalam tahap pembuatan proposal untuk vaksin Covid-19. Seakan hendak menancapkan taji lebih kokoh, rencana pembuatan vaksin ini merupakan langkah strategis yang dilakukan Unair sebagai salah satu Perguruan Tinggi terkemuka. Rektor Unair Prof Muh Nasih memberikan pernyataan bahwa Unair bersama ITD siap melanjutkan tahapan selanjutnya, yakni menyiapkan vaksin Covid-19. Ia mengatakan senang telah turut berpartisipasi dan berperan dalam tiga hal, yakni; penanganan pasien, pemeriksaan sample, dan pengembangan vaksin.

“Kita siap melanjutkan untuk ke produk antivirus atau vaksinnya. Kami sudah siapkan berbagai metode yang sudah kami diskusikan. Saat ini kami sedang dalam tahap penyusunan proposal,” ujar Prof Nasih kala itu.

Non-Klinikal Riset Unair Selain Vaksin
Semangat menjadi garda terdepan dalam penelitian dan pengembangan vaksin Covid-19 rupanya masih berlebih untuk fokus pada satu tujuan. Unair pun mengerjakan 4 Topik Non Klinikal Riset dan 11 Topik Klinikal Riset yang dikerjakan secara simposium dan menyeluruh. 4 topik riset non klinikal yang dilakukan Unair, yakni: 1. Molecular Docking, 2. Rapid Test Berbasis RNA, 3. Pengembangan Vaksin, 4. Rapid Test Berbasis Antibodi.

Melalui Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih M.Si selaku Wakil Rektor (Warek) 1 Unair, penelitian Molecular Docking digunakan untuk bahan obat baru yang identik dan spesifik bekerja kepada virus Covid 19. Molecular Docking sendiri merupakan pembuatan senyawa baru yang dapat menjadi antivirus atau penghambat pertumbuhan virus. Teknik Molecular Docking ini juga digunakan untuk menguji senyawa tunggal terhadap Covid 19. Apakah senyawa tunggal itu mampu mengunci dan mengikat pergerakan virus, contohnya. Avigan dan Cloroquin itu merupakan senyawa tunggal. Avigan senyawa yang bereaksi pada Flu Jepang, sedangkan Cloroquin untuk Malaria. Tetapi dengan menggunakan molecular docking, diketahui bahwa ternyata memang Avigan dan Cloroquin mampu menekan virus corona Covid 19.

Namun, dalam riset ini Unair tidak ingin hanya sekedar membuktikan Avigan dan Cloroquin juga mampu menekan perkembangan Covid 19. Melainkan juga ingin mengembangkan bahan obat baru yang bereaksi spesifik terhadap virus Covid 19.

“Unair tidak ingin hanya sebagai pengikut saja, kami juga ingin menemukan bahan obat atau senyawa yang spesifik memang digunakan untuk Covid 19. Kalau kami bisa kenapa tidak. Toh peneliti di Unair sudah memiliki banyak bahan baru atau senyawa yang bisa di uji coba terhadap virus ini. Nanti hasilnya sejelas Obat Baru khusus untuk Covid 19, autentik dari Unair, terlebih lagi dengan menemukan senyawa yang spesifik bereaksi terhadap Covid 19. Besar harapannya bisa lebih ampuh dari avigan dan Cloroquin,” ujar Prof Nyoman, (28/3/2020).

Selain mencoba menggembangkan obat baru, Unair kembali mengupayakan sesuatu yang dapat mempercepat penanganan Covid-19, tes Swab Covid yang mahal menjadi kendala dan salah satu yang paling dibutuhkan saat itu adalah Rapid Tes Kit, yang paling mungkin dijangkau untuk tes covid-19 secara masal. Dan untuk itu, Unair sedang dalam tahap pembuatan rapid tes kit. Menurut Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih M.Si selaku Wakil Rektor (Warek) 1, Unair membuat dua tipe alat Rapid Test, yakni Rapid Test berbasis RNA dan Rapid Test berbasis Antibodi.

“Iya membuat rapid test adalah salah satu topik riset kami. Ada dua tipe atau model, yakni melalui RNA dan Antibodi,” ujar Prof Nyoman.

Saat itu yang dipakai sebagai alat uji cepat di Indonesia merupakan alat Rapid Test berbasis antibodi. Yakni dengan mengetahui seberapa besar antibodi dalam darah terbentuk. Rapid Test Berbasis antibodi ini bisa digunakan mendiagnosis keberadaan corona jika ada antibodi yang terbentuk saat seseorang menunjukkan gejala. Antibodi ini akan terbentuk secara otomatis jika tubuh kemasukan virus yang sudah dalam masa inkubasi. Unair pun membuat Rapid Test yang akurasinya lebih tinggi yakni dengan menggunakan Rapid Test berbasis RNA. Rapid Test Berbasis RNA adalah alat deteksi cepat menggunakan bahan genetik asli Indonesia. Prof Nyoman mengatakan bahwa Covid-19 merupakan kelompok RNA Virus yang mudah bermutasi. Oleh karenanya, Unair melihat bahwa pendeteksian akan lebih akurat jika dirujuk pada RNA.

1 April 2020, Rektor Unair Prof Muh Nasih mengumumkan secara langsung bahwa progres riset non klinikal tersebut telah sampai pada menemukan lima jenis senyawa yang diduga bisa menjadi bahwa obat bagi virus corona atau Covid-19. Senyawa ini disebut memiliki daya ikat yang lebih kuat dibanding Avigan dan Chloroquine yang hingga saat itu masih dipercaya menjadi bahan obat pasien yang terinfeksi virus corona.

“Saat ini kami sudah memperoleh lima senyawa yang menurut hasil riset kami insya Allah lebih kuat ikatannya dibandingkan dengan Chloroquine untuk penangan Covid-19. Tapi tidak bisa langsung memproses karena masih ada dua tahapan yang harus dilakukan dengan baik,” ujar Nasih,

Saat itu Prof Nasih menjelaskan bahwa hasil penelitian dari 5 Senyawa ini akan dituangkan dalam sebuah artikel di jurnal internasional. Namun, kemudian rencana publikasi internasional ini dilakukan belakanganan saat komponen Obat Pengembangan Baru (OPB) telah berhasil dikembangkan.

Selain itu, penanggung jawab Riset Penangan dan Koordinasi Satgas Pendeteksi Virus Corona, Prof dr Soetjipto MS PhD menambahkan lima single substansis yang ditemukan oleh guru besar Unair merupakan senyawa tunggal dan secara molekular docking dan dinamic sudah dilakukan uji coba.

“Dihasilkan lima kandidat senyawa terbaik yang akan kami publikasikan dulu untuk mendapat masukan dari nasional dan internasional. Senyawa baru ini bahkan 3 kali lebih baik daya ikatnya dari Cloroquin dan 1,5 lebih baik dari Avigan,” paparnya.

Prof Tjip sapaan akrabnya mengungkapkan lima senyawa itu memiliki kemiripan dengan khasiat Chloroquine. Kerja antivirus tersebut bisa sebagai nuklosa analog atau senyawa modifikasi DNA. Serta punya khasiat antioksidan untuk menjaga membran sel, protein hingga DNA.

Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih M.Si pun mengatakan 5 senyawa itu, secara internal disebut ACovUnair-5, yang artinya Anti Covid Unair-51,52,53,54,55. Dari kelima senyawa tersebut daya kuat yang paling kuat terdapat pada ACovUnair-51.

“Dari 132 senyawa yang kita punya di Unair, kita dapat 5 yang punya potensi energi ikat atau daya ikat activity yang gaining nya yang lebih tinggi, bagus dan stabil di banding dengan obat yang sudah ada. Jadi ini punya potensi sebagai kandidat obat baru bahkan bisa menjadi OPB,” terang Prof Nyoman.

Saat itu, 3 dari 5 senyawa yang ditemukan telah berhasil disintesis menjadi serbuk. Cara kerja senyawa ini dengan mengikat virus yang masuk ke dalam tubuh agar tidak menempel pada reseptor. Pada dasarnya 5 senyawa tersebut berinteraksi dengan enzim protiase atau main protiase yang berasal dari Covid-19.

“Jadi kalau enzim itu punya tempat daerah pengikatan pusat atau ligan. Daerah itu digunakan virus untuk mengikat reseptor. Jadi kita sekarang mencari senyawa yang mirip-mirip dengan reseptor, supaya dia terkecoh si virusnya itu. Virus akan menangkap senyawa sebagai inhibitor. Inhibitor ini yang didesign, kita sintesis supaya dia bisa mengikat protein virus, sehingga virusnya tidak bisa melekat kepada reseptor, tidak bisa melekat pada sel inang,” papar Prof Nyoman, Jumat (24/4/2020).

Kelima senyawa ini saat itu tengah dalam uji preklinis yakni uji toksisitas untuk menjadi OPB. Uji toksisitas adalah uji untuk mendeteksi efek toksik suatu zat pada sistem biologi, dan untuk memperoleh data dosis-respon yang khas dari sediaan uji. Data yang diperoleh dapat digunakan untuk memberi informasi mengenai derajat bahaya sediaan uji tersebut bila terjadi pemaparan pada manusia, sehingga dapat ditentukan dosis penggunaannya demi keamanan manusia.

Pada dasarnya uji preklinis melalui uji toksisitas merupakan pengujian bahan obat baru berupa senyawa ACovUnair5 terhadap virus Covid-19, apakah OPB mampu menangkal virus Covid-19. Selain itu juga dilakukan uji bahaya akibat pemaparan suatu zat pada manusia dapat diketahui dengan mempelajari efek kumulatif, dosis yang dapat menimbulkan efek toksik pada manusia, efek karsinogenik, teratogenik, dan mutagenik. Prof Nyoman pun mengatakan bahwa keputusan untuk dilanjutkan uji preklinis ini karena dukungan dan dorongan dari berbagai pihak. Prof Nyoman mengatakan bahwa uji preklinis ini memakan waktu setidaknya 1 tahun, tidak termasuk uji klinis yang juga harus dilakukan agar OPB ini berkhasiat dan aman untuk dikonsumsi manusia.

Temuan 5 Regimen Kombinasi Obat
Setelah menemukan 5 senyawa dan melakukan penelitian lanjutan untuk OPB, Unair kembali berusaha mengambil peran, dengan mengumumkan bahwa Unair telah menemukan 5 rekomendasi kombinasi obat yang dapat digunakan untuk mengobati gejala simptomatik Covid-19, (12/6/2020). Penelitian kombinasi obat ini merupakan kolaborasi dari Unair, TNI dan BIN. Prof. Nasih menjelaskan, bahwa rujukan dari obat kombinasi yang ditemukan oleh tim gabungan menjadi obat Covid-19 tersebut merupakan berbagai macam obat tunggal yang telah diberikan kepada pasien Covid-19 di berbagai belahan dunia. 5 regimen kombinasi obat itu adalah;
• Lopinavir-ritonavir-azithromycine
• Lopinavir-ritonavir-doxycycline
• Lopinavir-ritonavir-clarithomycine
• Hydrochloroquine-azithromycine
• Hydrochloroquine-doxycycline

Pengembangan kombinasi obat ini pun terus dilakukan dengan harapan dapat dijadikan penangkal Covid-19 jangka pendek yang dapat segera digunakan untuk proses penyembuhan. Unair pun mengklaim bahwa uji efektivitas, ditemukan bahwa obat tunggal maupun mereduksi replikasi virus dan menon-aktifkan virus dalam kurun waktu beberapa hari. Untuk itu, Prof Nasih merekomendasikan kelima obat tunggal ini kepada para dokter untuk digunakan dalam perawatan dan penyembuhan pasien Covid-19. Terkait hal ini, Prof Nasih mengatakan bahwa rekomendasi ini telah disampaikan ke Ikatan Dokter Indonesia dan telah mendapat respon yang baik. Terlebih lagi, rekomendasi ini telah di Launching atau di Rilis di Jakarta oleh Presiden dan tim peneliti Unair. Unair pun mengabarkan bahwa saat itu, kombinasi obat ini sudah dalam tahap uji klinik fase 3 yang dipantau oleh BPOM.

Beberapa pihak pun kemudian mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh Unair ini, tiga hari setelah pengumuman tentang 5 kombinasi obat dirilis, Ketua DPRD Surabaya, Adi Sutarwijono dan beberapa anggota lainnya, berkunjung ke Unair untuk memberikan apresiasi dan dukungan atas segala riset dalam menangani Covid-19, Adi mengatakan bahwa temuan rekomendasi obat yang dilakukan Unair mendatangkan harapan.

“Lima obat yang ditemukan Unair ini mendatangkan harapan, asa, kegembiraan bahwa ada jalan keluar dari pandemi ini,” ujar Adi. Ia pun mengatakan bahwa dengan adanya rekomendasi obatnya diharapkan mampu menjadi oase dan menurunkan curva positif Covid-19.

Akan tetapi, seperti termakan euphoria, Obat Kombinasi Baru Covid-19 yang dikatakan tinggal menunggu izin edar dari BPOM RI agar segera bisa digunakan untuk penanggulangan Covid-19 secara resmi dan menjadi obat Covid-19 pertama yang berhasil ditemukan di dunia, sepertinya harus menunggu lebih lama.

“Yang bagian mengurus produksi dan BPOM ya mitra tentunya, mudah mudahan BPOM bisa melihat ini sangat urgen, agar BPOM berbesar hati untuk segera memberi izin produkisi dan izin edar,” kata Rektor Unair waktu itu.

Pasalnya BPOM menemukan beberapa gap atau hal yang perlu dikoreksi saat pelaksaan uji klinis obat kombinasi baru Covid-19 ini. Langsung disebutkan oleh Dr. Ir. Penny K. Lukito, Kepala BPOM RI bahwa pada dasarnya BPOM mendukung dan berkomitmen dalam upaya pendampingan dan percepatan segala jenis pembuatan obat maupun vaksin yang mampu dijadikan solusi atas Covid-19.

Dalam uji klinis obat kombinasi baru Covid-19 Unair ini, Penny mengatakan bahwa sejak awal penelitian ini dilakukan BPOM sudah mendampingi dan memberikan Persetujuan Pelaksaan Uji Klinik (PPUK) kepada tim peneliti Unair. Penny pun menuturkan bahwa uji klinik tahap 3 pun dilakukan pada 3 Juli 2020 dan BPOM melakukan inspeksi pertama pada 28 Juli 2020. Dalam inspeksi pertama itu ditemukan beberapa gap atau temuan koreksi kritis atau critical correction yakni setidaknya berupa;
1. Randomisasi subjek (pasien yang diberikan obat kombinasi baru Covid-19 sebagai relawan uji klinik, red)
2. Hasil dari obat kombinasi baru ini tidak bekerja secara signifikan.

“Kami belum mendapatkan respon perbaikan sampai hari ini. Sehingga dari hasil inspeksi penelitian ini masih belum valid. Kami tentunya berharap bahwa penelitian ini bisa segera dikoreksi dan menjadi riset yang valid. Jika penelitian ini valid dan sesuai dengan parameter saintifik penelitian serta dapat diterima secara internasional, maka ini akan menjadi temuan yang membanggakan dan mengharumkan nama Indonesia,” jelas Penny.

Tak patah arang, hingga 4 bulan sejak diumumkan pengembangan Kombinasi Obat Covid, Unair masih terus berusaha untuk merampungkan tugas koreksi untuk Kombinasi Obat Covid-19 dari BPOM. Setelah merampungkan koreksi critical clinic pertama dari uji klinis kombinasi obat Covid-19 dari BPOM, kini Unair memfokuskan risetnya pada pengembangan obat baru dan vaksin Covid-19. Prof Nasih mengungkapkan laporan perkembangan uji klinis sudah diberikan pada BIN dan TNI AD. Untuk selanjutnya, pihaknya masih menunggu arahan dari BIN untuk pengembangannya.

“BPOM dan pemerintah masih fokus dalam hal vaksin. Artinya obat kombinasi yang sudah kami proses untuk uji klinis saat ini supporting pemerintah sudah berkurang. Yang pasti kami sangat bersyukur obat kombinasi ini masuk dalam rekomendasi ikatan dokter paru indonesia,” urainya, (15/10/2020).

Prof Nasih mengungkapkan riset kombinasi obat dilakukan dalam rangka jangka pendek untuk segera mengatasi Covid-19. Sehingga jika saat ini sudah masuk pada pengembangan vaksin, maka perlu dikaji lebih lanjut apakah perlu meneruskan riset kombinasi obat.

“Prosesnya riset kombinasi obat ini masih sangat panjang. Masalahnya memang apa situasi ini masih relevan saat vaksin sudah ditemukan. Jadi apakah seimbang nanti pengorbanan kami dengan manfaatnya obat ini. Karena untuk membeli bahan obat juga tidak murah, pada sisi lain relevansinya juga agak berkurang waktunya,” ungkapnya.

Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini mengungkapkan meskipun pengembangan kombinasi obat belum berlanjut, pihaknya sebagai perguran tinggi memang sudah merasakan manfaatnya karena hasil risetnya sudah mendapat pengakuan.

“Inginnya kami lebih optimal, tetapi karena SDM terbatas maka kami tidak bisa 100 persen puas dengan hasil yang ada,” katanya.

Vaksin Merah Putih
Disisi lain, berjalan 8 bulan sejak pertama kali Covid-19 dinyatakan masuk ke Indonesia, baru beberapa waktu lalu, Pemerintah melalui Satgas Covid menyatakan bahwa Indonesia telah memesan beberapa jenis vaksin dari beberapa negara, yang saat ini sedang dalam tahap 3 uji klinis. Vaksin-vaksin tersebut antara lain; Sinovac dari China, Sinophram dari China, CanSino dari China dan Astrazeneca yang dikembangkan di Oxford Inggris. Vaksin-vaksin tersebut dikabarkan akan tiba di Indonesia dan bisa digunakan pada akhir kuartal ke 4 tahun ini.

Meski mengimpor banyak vaksin dari negara lain, tetapi jumlah tersebut tidaklah mencukupi untuk seluruh masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, Pemerintah Indonesia juga mengupayakan untuk penelitian, pengembangan, pengadaan dan produksi secara massal dan mandiri. Upaya tersebut saat ini diberi nama Vaksin Merah Putih yang dilakukan secara konsorsium dengan berbagai lembaga dan perguruan tinggi. Salah satu perguruan tinggi tersebut adalah Unair.

Sebagai salah satu anggota konsorsium Vaksin Merah Putih, Unair, melalui Profesor Ni Nyoman Tri Puspaningsih sebagai salah satu peneliti di Konsorsium Vaksin Merah Putih mengatakan bahwa mencoba membuat vaksin melalui 2 metode dengan model Next Generation Platform, yakni platform Viral Vector dan Peptida. Platform Viral Vector merupakan konsep pengembangan vaksin Covid-19 berbasis Adenovirus dan Adeno-Associated Virus (AAV) dengan menggunakan pendekatan non-replicating vector. Vector ini (adenovirus dan AAV) digunakan untuk mengantarkan sekuens yang mengkode spike protein (atau receptor binding domain atau RBD) dari SARS-CoV-2.

“Teknik serupa juga digunakan oleh CanSino China (Ad5-nCoV), Oxford Universty -AstraZeneca, dan Rusia (Sputnik V). Pada dasarnya teknik adalah mengunci target yang mengekspresikan, mengkode spike protein dari virus dan juga bagian dari spike yang disebut dengan reseptor binding domain. Kita menggunakan non replicating vector, jadi begitu nanti dia menginfeksi, digunakan sebagai vaksin masuk ke dalam sel inang manusia akan mengekspresikan antigen menjadi target kita yang menginduks sistem induk di sel inang menjadi antibodi, tapi dia tidak mempackaging dirinya menjadi adenovirus yang baru,” terang Prof Nyoman dalam Webminar Vaksin Covid-19 Selangkah Lagi, Senin (26/10/2020).

Meski teknik ini telah digunakan oleh beberapa negara pengembang vaksin lainnya, tetapi yang membedakan adalah bahwa upaya yang dilakukan oleh tim konsorsium vaksin Merah Putih menggunakan strain vaksin asli Indonesia atau strain vaksin yang ditemukan di Indonesia. Dengan demikian, Vaksin Merah Putih memiliki kemanjuran yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia.

Vaksin Merah Putih dengan teknik AAV buatan Unair saat ini, tengah dalam tahap Uji in vitro, yakni proses konfirmasi adanya produksi antigen spike atau RBD protein dalam sel inang dan uji reaktivitas antigen dengan antibodi Anti SARS-CoV-2 manusia (serum konvalensi). Prof Nyoman pun mengatakan bahwa pada akhir November atau awal Desember, Vaksin Merah Putih metode AAV ini bisa diuji cobakan kepada hewan dengan dibawah izin dan supervisi dari BPOM dan Kemenkes, serta PT. Biotis sebagai patner produksi. Uji coba pada hewan ini pun melalui beberapa tahapan, yakni dimulai dari uji coba ke hewan mencit, yakni sejenis hewan pengerat yang menyerupai tikus, untuk menguji antibodi melalui uji tantang dengan virus SARS-CoV-2. Setelah uji pada mencit maka selanjutnya adalah uji pada hewan kera. Uji pada kera dilakukan karena kera memiliki struktur dan DNA yang menyerupai manusia, menjadi penting dilakukan untuk mendapatkan hasil uji pre klinis yang mendekati kovalensinya yakni manusia.

Selain pengembangan vaksin dengan metode AAV, Unair juga mengembangkan vaksin dengan konsep Peptida yang disebut PeptAir. PeptAir merupakan konsep pengembangan vaksin dengan usaha ilmiah untuk mengeksploitasi pripsip imunologis dari infeksi Covid-19. Peptida Epitop dari protein struktural virus SARS-CoV-2 mampu membentuk sel memori atau pengingat yang akan melindungi donor dari penyakit Covid-19.

Teknologi menurut Prof Nyoman belum banyak dikembangkan, tetapi dengan kemajuan teknologi dan basis informasi data secara digital, melalui Strain Whole Genom Sequance yang ada di Indonesia. Dari strain-strain yang ada di Indonesia tersebut telah dapat dilihat daerah perubahan-perubahan epitop yakni peptide yang sangat spesifik yang betugas untuk melakukan penempelan yang kemudian menyebabkan induksi terwujudnya sistem imun pada manusia.

“ini yang akan kami gunakan sebagai peptide vaksin, dengan mengandalkan IT pada Bioinformatic maka bisa dilihat adanya daerah epitop-epitop pada sisi atau permukaan spike karena virus kita ini berbasis pada spike. Namun, peptida yang ada di platform Unair ini tidak hanya pada spike tapi juga menggunakan sasarannya bisa ke nucleur acid dan membran. epitop ini lah yang nantinya akan digunakan untuk mendesign platform peptidenya,” terangnya.

Namun, pada penelitian vaksin metode peptida ini, uji cobanya berbeda dengan yang viral vector. Jika pada Viral Vector hasil atau produksi ekspresi dari antigen spike untuk induksi antibodi bisa dilihat saat uji tantang pada hewan coba. Sedangkan pada teknik peptida ini baru bisa mendeteksi peptide yang potensial melalui validasi epitop strain yang ada di Indonesia, menstimulai memori dari sel darah pendonor.

“Jadi kita menggunakan darah donor dari pasien yang sudah sembuh untuk menvalidasi epitop mereka, mereka sembuh pasti ada antibodi yang muncul, nah ini kita lihat mana peptida yang sesuai yang reaktif dan spesifik. ini yang kita gunakan untuk menentukan mana peptide potensial terbaik,” paparnya.

Saat ini pun, Unair sedang dalam tahap ketiga dalam proses pengembangan vaksin PeptAir yakni penetuan peptida terbaik penginduksi sel memori, formulasi dengan anjuran dan produksi peptida skala tengah. Setelah itu, tahap selanjutnya memiliki proses yang sama dengan vaksin metode AAV, yakni: uji coba pada hewan meliputi uji toksisitas, uji dosis, dan uji tantang dengan SARS-CoV-2 di BSL-3. Kemudian uji klinis fase 1 dan 2 pada manusia jika hasil uji tantang dan toksisitas pada hewan memenuhi syarat.

Dengan demikian, Unair bergerak bersama pemerintah untuk menemukan cara dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini. Meskipun upaya ini merupakan perjalanan panjang, Unair memastikan bahwa upaya upaya ini layak dilakukan. Pasalnya, virus Covid-19 ini bisa jadi seperti virus influensa yang selalu bermutasi dan membutuhkan vaksin berkala.

“Jika pada infuensa, vaksin diperbarui setiap 2 tahun sekali oleh karenanya perkembangan vaksin terus dilakukan. Bisa jadi Covid-19 ini demikian, tidak seperti polio yang sekali vaksin bisa kebal selamanya,” tambah Prof Nyoman. [adg/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar