Pendidikan & Kesehatan

Tak Kunjung Menstruasi Meski Sudah Akil Balig, Waspadai Sindroma MRKH

Surabaya (beritajatim.com) – Sindrom Mayer Rokitansky Küster Hauser atau MRKH (dinamai dari August Franz Joseph Karl Mayer, Carl Freiherr von Rokitansky, Hermann Küster, dan G. A. Hauser) adalah kelainan bawaan pada perempuan ketika mereka tidak memiliki uterus dan vagina, tetapi mereka memiliki tuba fallopi dan ovarium.

Tidak memiliki uterus atau rahim dan vagina memang terdengar cukup mengerikan bagi perempuan, tetapi setidaknya ada 1 dari 4500 bayi perempuan yang lahir dengan sindrom MRKH ini. Menurut Dr Eighty M K, dr SpOG K Uroginekologi Rekonstruksi, saat ditemui dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) 2019, di RSUD Dr Soetomo Surabaya setidaknya terdapat 7 pasien sindrom MRKH setiap tahunnya.

Sindrom MRKH sendiri terjadi karena gangguan Embriogenesis yakni pada saat perkembangan Duktus Muller atau struktur yang kemudian harusnya berkembang menjadi saluran reproduksi perempuan tidak berfungsi semestinya.

Duktus Muller tidak berkembang dan mengakibatkan tidak terbentuknya kanal vagina sehingga tidak memiliki rahim, tidak dapat menstruasi dan tidak bisa berhubungan seksual. Pasien sindrom MRKH ini meskipun tidak memiliki vagina dan rahim bukan berarti bukan perempuan. Pasien sindrom MRKH tetaplah seorang perempuan karena memiliki kromosom XX dan ovarium.

“Kondisi ini biasa disebut agenesis sempurna, yakni dimana genital perempuan tidak terbentuk secara sempurna dan hanya menjadi sepasang embrio di kanan kiri lateralurogenital yang strukturnya menyerupai benang,” ujar dr Eighty.

Kebanyakan pasien memeriksakan dirinya ke dokter dengan keluhan awal tidak bisa menstruasi ketika di USG barulah diketahui bahwa pasien tidak memiliki rahim.

“Biasanya pasien itu datang saat berusia akil balig atau usia pertumbuhan seks sekunder atau sekitar 14 hingga 17 tahun,” ungkap Dr Eighty.

Seharusnya perempuan sudah mengalami menstruasi pada usia 14 tahun atau paling lambat hingga 16 tahun. Karena masih memiliki ovarium tentunya tanda-tanda seks sekunder sudah terlihat, seperti pertumbuhan payudara dan rambut pubis hanya saja tidak mengalami menstruasi.

Pada situasi demikian, dokter spesialis Uroginekologi Rekonstruksi dapat membuatkan vagina jika pasien menghendaki pembuatan lubang vagina meskipun dalam beberapa kasus pasien tidak melakukan operasi dan dapat menjalani kehidupannya dengan selayaknya perempuan normal.

Pembuatan vagina pun rekonstruksi genital yang bukan tanpa resiko. Lokasi vagina yang sangat dengan indung kemih dan rektum jika dalam pembuatan kanal vagina terjadi robekan pada indung kemih atau rektum maka akan mencederai organ tersebut.

Pembuatan vagina ini terdapat dua metode yakni Frank’s Method atau tanpa pembedahan dan Metode Vaginoplasti atau dengan pembedahan untuk rekonstruksi vagina. Dalam metode Frank ini, pada dasarnya remaja perempuan atau wanita pengidap MRKH berulang kali dipasangi dilator (yang bentuknya tampak seperti tampon) di dalam area vagina agar jaringan yang ada menjadi longgar atau melebar.

Beberapa perempuan dengan sindrom MRKH memilih metode Frank ini untuk membentuk cekungan pada area vagina yang memungkinkan untuk menjalankan fungsi hubungan seksual.

Sedangkan metode pembedahan dokter akan melubagi area vagina kemudian memasang satu alat silinder yang kemudian dibiarkan di dalam vagina untuk membentuk kanal. Setelah kanal vagina cukup kuat untuk tidak kembali menutup maka alat silinder tersebut diambil. Setelah memastikan luka bekas operasi kering maka vagina baru dapat difungsikan sebagainya mestinya.

“Semua metode rekontruksi vagina memiliki kelemahan yakni memungkinkan untuk kanal kembali menutup untuk itu vagina harus terus diberikan stimultan agar tetap terbuka dan berfungsi sebagai mana mestinya,” tukas dr Eighty.

Anjurannya pembuatan atau rekonstruksi vagina ini dilakukan pada 4-6 bulan sebelum pernikahan atau sesaat setalah menikah tujuan agar stimulus terhadap vagina baru terus dapat dilakukan dengan bantuan pasangan.

Meskipun telah memiliki kanal vagina, perempuan dengan sindrom MRKH tidak dapat hamil karena tidak memiliki rahim. Namun alternatif pengobatan yang paling dramatis adalah transplantasi atau cangkok rahim. Sedangkan saat ini cangkok rahim baru dilakukan beberapa kali di luar negeri dan tidak semua dokter spesialis Obgyn sudah bisa melakukannya.

“Ya kita (dokter Indonesia,red) berusaha ke arah itu, mungkin saya sudah waktunya belajar bagiamana cara cangkok rahim,” ungkap satu satunya perempuan spesialis Obgyn Uroginekologi Rekonstruksi di Surabaya itu. [adg/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar