Pendidikan & Kesehatan

Survei Indopol: 58 Persen Masyarakat Jatim Anggap Covid-19 Penyebab Kesengsaraan

Surabaya (beritajatim.com) – Lembaga survei Indopol merilis penanganan Covid-19 di Jawa Timur. Hasilnya, sebanyak 58 persen masyarakat Jatim prihatin sekaligus waspada terhadap penularan covid-19 ini.

“Itu artinya, jumlah masyarakat yang menilai Covid-19 menjadi penyebab kesengsaraan, dan dilebih-lebihkan cukup besar. Sehingga, berimplikasi terhadap pola hidup mereka dalam menghadapi Covid-19,” kata Direktur Eksekutif Indopol Survei, Ratno Sulistiyanto di Surabaya, Senin (31/8/2020).

Ratno menganggap wajar jika masyarakat prihatin selama pandemi Covid-19. Sebab, 17 persen masyarakat menilai Covid-19 telah menjadi penyebab kesengsaraan kehidupan mereka. Di mana terdapat 16,2 persen masyarakat Jatim yang menganggap fenomena Covid-19 telah dilebih-lebihkan oleh pemerintah dan WHO, dan 10,8 persen masyarakat menyatakan jauh lebih buruk setelah adanya wabah.

“Mereka yang berpenghasilan di bawah Rp 2 juta per bulan paling merasakan penurunan ekonomi keluarga. Kondisi terburuk dialami di Probolinggo, Kota Mojokerto, Banyuwangi, Blitar dan Kota Surabaya,” ujarnya.

Meskipun demikian, lanjut Ratno, 75 persen masyarakat Jatim puas terhadap kinerja pemerintah kabupaten/kota dalam menangani Covid-19. Persentase kepuasan terbesar terdapat di Kota Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, Mojokerto dan Kota Mojokerto. Sedangkan ketidakpuasan tertinggi terdapat di Kota Batu, Kabupaten Malang, Kota Madiun, Kota Pasuruan dan Kota Malang.

“Umumnya, kinerja pemerintah dalam menangani Covid-19 yang dirasakan masyarakat adalah dalam bentuk imbauan mematuhi protokol kesehatan (62,2 persen), pembagian masker (16,1 persen), penyemprotan desinfektan (9,7 persen), PSBB (4,9 persen) dan pembagian hand sanitizer (0,3 persen)” kata Ratno.

Ratno juga mengungkapkan adanya sebanyak 10,40 persen masyarakat yang mengaku kehilangan pekerjaan selama wabah Covid-19. Kemudian, ada 7,2 persen mengaku dirumahkan, dan 37,3 persen mengaku pekerjaannya berkurang selama wabah.

“PHK, dirumahkan dan berkurangnya pekerjaan paling parah dialami mereka yang berpendapatan kurang dari Rp 3 juta per bulan. Kondisi PHK terburuk dialami di Kabupaten Malang, Sampang, Kota Malang, Kota Madiun, dan Sumenep. Kondisi pekerja dirumahkan terburuk dialami di Situbondo, Pacitan, Kota Kediri, Kota Pasuruan, Gresik, Lamongan dan Tuban,” tutur Ratno.

Survei yang dilakukan pada periode 23-28 Juli 2020 ini, bertujuan mengevaluasi kinerja Pemprov Jatim menurut persepsi publik, selama kurang lebih enam bulan berjalan sejak Covid-19 pertama menyebar di Indonesia. Di mana jumlah responden tiap kabupaten/kota di Jatim, diambil secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk BPS Jatim pada 2020.

Penentuan responden dilakukan secara random sistematis. Kriteria responden adalah mereka yang berumur 17 tahun lebih, atau sudah menikah. Responden berjumlah 1.000 orang dengan margin error sekitar 3.2 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen (slovin). Wawancara dalam survei ini dilakukan secara tatap muka, sementara data diolah dengan program SPSS atau Field Survey. [tok/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar