Pendidikan & Kesehatan

Suri Teladan dan Kisah Perjuangan dari Sosok Rektor Universitas Muhammadiyah Lamongan yang Wafat

Rektor Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), Drs H Budi Utomo MKes yang telah wafat

Lamongan (beritajatim.com) – Kabar duka sangat menyelimuti Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), pasalnya pada hari Selasa sore (27/7/2021) lalu, Rektor UMLA Drs H Budi Utomo MKes meninggal dunia. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML).

Masih dalam suasana berkabung, Wakil Rektor II Urusan Umum dan SDM UMLA, Alifin SKM MKes saat dihubungi menyampaikan, bahwa Budi Utomo telah dirawat di Rumah Sakit sejak Selasa (6/7/2021) lalu lantaran terinfeksi virus Covid-19. Sebelumnya, istri Budi Utomo yang bernama Suwarti telah meninggal dunia sekitar 29 hari yang lalu juga akibat terpapar Covid-19.

“Iya mas, memang beliau sempat dinyatakan positif Covid-19 dan harus menjalani perawatan di RSML, tapi sebelum meninggal dunia dan masuk ICU dalam seminggu terakhir, Pak Budi sebenarnya sudah dinyatakan negatif. Hal itu nampak dari pemakaman beliau yang dilaksanakan tidak seperti halnya mereka yang meninggal sebab Covid,” terang Alifin yang juga sahabat karib dari Almarhum, Minggu (1/7/2021).

Almarhum Merupakan Sosok Pejuang Kesehatan di Lamongan yang Sederhana
Lebih lanjut, Alifin yang sehari-harinya sering bergaul dengan Almarhum Budi Utomo mengungkapkan, bahwa Almarhum merupakan sosok yang sangat baik. Menurutnya, banyak hal yang bisa diteladani dari Almarhum. Selain itu, bagi Alifin, Budi Utomo adalah orang yang sudah dianggap seperti orang tua dan saudaranya sendiri.

“Meski kita tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tapi terlepas adanya kelebihan dan kekurangan yang ada, Pak Budi Utomo bagi saya adalah sosok yang baik dan memiliki banyak kelebihan, khususnya di bidang pendidikan kesehatan. Selain itu, beliau juga termasuk pribadi yang sabar, berprinsip kuat, sederhana dan sangat setia serta cinta terhadap istri dan keluarga,” ungkap Alifin kepada beritajatim.com

Dalam bidang pendidikan kesehatan, Alifin menceritakan, bahwa Budi Utomo termasuk salah satu pemrakasa berdirinya Sekolah Perawat Kesehatan (SKP) di Lamongan dan menjabat sebagai Kepala SKP di Lamongan, yang dulunya berada di kawasan depan Sport Center atau Gor Lamongan saat ini.

Lalu saat ada ketentuan yang menyebutkan bahwa perawat minimal harus Diploma 3, Alifin melanjutkan, akhirnya Budi Utomo juga turut membidani keberadaan Akademi Keperawatan (AKPER) Pemkab Lamongan yang bertempat di Jalan Kusuma Bangsa No 7. Kemudian pada tahun 2006, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Lamongan berdiri, hingga secara resmi berubah statusnya menjadi UMLA yang secara langsung didatangi dan diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada 19 November 2018.

“Perjuangan beliau sangat gigih dalam bidang kesehatan, mulai dulu saat masih di SPK yang berada di depan GOR Lamongan, dulu ada Kantor Departemen Kesehatan Lamongan di situ, lalu saat SPK pindah ke bekas RS Lamongan yang sekarang ditempati Kantor Dinas Kesehatan Lamongan, hingga saat dikonversi menjadi AKPER dan pindah di belakang RSUD Soegiri Lamongan sampai sekarang,” tandasnya.

Tak hanya itu, Alifin menambahkan, Budi Utomo juga sosok sederhana yang memiliki loyalitas dan integritas yang tinggi. “Beliau itu Rektor yang datangnya paling duluan dan pulang paling akhir di UMLA. Meski begitu, saat pulang pergi ke UMLA, seringkali malah berboncengan pakai sepeda motor dengan saya, kadang kita berdua juga naik Bis dari Pucuk ke UMLA jika sepeda motor kita mogok atau bermasalah kondisinya,” sambungnya.

Sosok yang Setia dan Cinta Keluarga
Dalam keterangannya saat diwawancarai, Alifin juga menyebutkan bahwa selain pejuang pendidikan kesehatan, Budi Utomo adalah sosok yang juga sangat setia terhadap istri dan mencintai keluarganya. Bahkan, tak jarang sosoknya juga seringkali disibukkan dengan urusan dan tugas rumah tangganya.

“Istri beliau lumpuh selama 22 tahun, tetapi sama sekali beliau tak merasa direpotkan dalam merawatnya. Bahkan tak jarang beliau juga bersih-bersih rumah, mencuci pakaian, ngepel, memandikan istrinya dan sebagainya. Bangun pukul 02.00 dini hari, membangunkan istri untuk salat tahajud lalu salat Subuh bersama,” beber Alifin.

Dari informasi yang dihimpun, Budi Utomo juga aktif dalam persyerikatan Muhammadiyah, di akhir hayatnya, pria kelahiran Kedungpring Lamongan pada 16 Agustus 1952 tersebut masih menjabat sebagai Wakil Ketua MPKU Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Kendati disibukkan dengan berbagai aktifitas yang sangat padat, tetapi kehidupan keluarga Budi tetap harmonis, bahagia dan patut dijadikan teladan bagi semua.

Berkat latar belakang pendidikan Budi Utomo yang seorang perawat, dan telah lama menjadi perawat serta memiliki segudang pengalaman, maka baginya merawat orang sakit itu suatu pekerjaan yang syarat akan ibadah, apalagi kepada istrinya tercinta.

Saat Budi Utomo masih hidup, Kesabaran dan kesetiannya sungguh luar biasa. Saat banyak orang, bahkan istrinya sendiri memintanya untuk menikah lagi, ia lebih memilih untuk fokus mendampingi istrinya hingga sembuh. Ini kisah nyata, yang bisa dipetik banyak hikmah dan pelajaran di dalam kisahnya, bukan hanya fiksi atau drama sinetron.

Dari pernikahannya dengan Suwarti, Budi Utomo dikarunia tiga orang anak. Mereka adalah Adang Budhywirayawan, Ananta Yudha Chriswara, dan Ahmad Bangun Reza Pahlevi. Ketiganya telah tamat kuliah, anak tertuanya juga seorang dokter. Sementara itu, bersama Alifin, Budi Utomo sebenarnya masih menempuh pendidikan S3 Dokter Administrasi di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya.

“Ya, sebenarnya kami berdua sedang menempuh kuliah lagi, yakni S3 di UNTAG Surabaya dan sudah di semester akhir serta proses menyelesaikan tugas disertasi. Beliau juga sudah melewati beberapa ujian, tinggal sekitar 3 ujian lagi sebenarnya,” tutur Alifin.

Pesan Terakhir Budi Utomo
Saat dirawat di rumah sakit dan menjalani perawatan akibat terpapar Covid-19, Budi Utomo sempat menitipkan pesan kepada Alifin yang saat itu juga sedang dirawat karena sama-sama terpapar Covid. “Saya sempat juga dirawat di rumah sakit, selang beberapa hari setelah beliau masuk dan menjalani perawatan di rumah sakit.” terang Alifin saat diwawancarai.

Menurut pengakuan Alifin, dirinya tak menyangka jika pesan tersebut merupakan pesan terakhir yang disampaikan oleh sahabat karibnya itu kepadanya. Alifin merasa sangat kehilangan sosok sahabatnya yang sangat baik tersebut. “Beliau berpesan kepada saya begini : tolong! UMLA terus diurusi,” kata Alifin.

Oleh karena itu, Alifin bersama rekan-rekannya di UMLA berkomitmen akan terus berusaha melaksanakan pesan dari almarhum Budi Utomo dan melanjutkan perjuangannya, baik perjuangan yang tampak maupun tidak tampak. “Kami akan berusaha keras melanjutkan perjuangan beliau dan apa yang telah dipesankan oleh beliau,” pungkasnya.[riq/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar