Pendidikan & Kesehatan

Surabaya Dinilai Telah Penuhi Komponen PSBB

Surabaya (beritajatim.com) – Wacana Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya dan dua kota penyangga, Gresik dan Sidoarjo nyaring digaungkan. Saat ini Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah sedang mengajukan rancangan skema PSBB ke Kemenkes.

Lantas, benarkan Surabaya, Gresik dan Sidoarjo perlu diterapkan PSBB? Terkait hal tersebut DR Dr Windhu Purnomo M S selaku Tim Surveillance Covid-19 Universitas Airlangga (Unair) mengatakan bahwa Surabaya telah memenuhi semua komponen diterapkannya PSBB.

Dosen FKM Unair ini pun telah dimintai untuk memberikan kajian kepada pemerintah pada Sabtu (18/4) kemarin dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia terkait PSBB di Surabaya.

“Banyak hal yang mendukung diterapkannya PSBB di Surabaya, karena semua komponen kesehatan terkait perlunya diterapkan PSBB sudah terpenuhi,” ungkap dr Windu kepada beritajatim.com, Senin (20/4/2020).

Yang pertama yakni, bahwa kapasitas kamar atau bed khusus untuk pasien Covid-19 yang ada di seluruh Rumah Sakit Rujukan sudah penuh.

“Data sampai minggu kemarin kapasitas bed di RS rujukan di Surabaya sudah overcapacity. Total ada 260 bed, sedangkan pasien yang dirawat sudah melebihi itu. Terlebih hanya ada 111 bed bertekanan negatif dan sejak akhir Maret sudah terisi semua. Jelas nanti kalau datang pasien dengan gejala dan keluhan berat akan tidak keopen (terlayani, red) karena bed sudah penuh,” ungkapnya.

Dr Windu juga mengatakan bahwa selain itu ada 7 komponen kesehatan lain telah terpenuhi yang bisa menjadi alasan pentingnya PSBB di Surabaya, yakni;
1. Telah terjadi Doubbling Case atau Pertambahan Kasus 2x lipat sebanyak 4 periode. Padahal standarnya Doubbling Case tidak boleh melebihi 3 periode.
2. Jumlah kasusyang terkonfirmasi positif PCR tidak boleh lebih 1/100.000, sedangkan di Surabaya telah terkonfirmasi sebanyak 8,07/100.000 penduduk. Artinya jumlah terkonfirmasi telah lebih 8x lipat dibanding jumlah yang bisa ditoleransi WHO, sedangkan angka ini jelas lebih kecil dibanding kenyataan di lapangan.
3. Kematian karena Covid-19 di Surabaya lebih dari 3 periode Doubbling Time.
4. Case Fatality Rate (CFR) di Surabaya telah melebihi standar toleransi. CFR merupakan jumlah pasien meninggal dibagi yang konfirmasi positif. Batas toleransi adalah 5 persen. Sedangkan Surabaya telah melebihi 10 persen dan bertambah setiap harinya.
5. Grafik Angka Transmisi Covid-19 telah menunjukan capaian 2 kali titik puncak. Hal itu menunjukkan tingkat transmisinya sudah sangat tinggi.
6. Transimi antar wilayah telah terjadi. Hal itu dilihat melalui analisis kontak tracing.
7. Dan Transmisi lokal jadi antar wilayah di dalam Surabaya sudah terjadi, sehingga tiap kecamatan bisa saling menulari.

“Dengan semua komponen kesehatan di Surabaya telah melebihi batas toleransi sehingga mutlak dilakukan PSBB. Jika Surabaya diberlakukan PSBB maka daerah penyangga juga harus diterapkan situasi yang sama,” terang dr Windhu.

Dengan diberlakukannya PSBB dr Windhu mengatakan bahwa pemutusan rantai penyebaran Covid-19 bisa dilakukan dengan baik dan keadaan akan bisa kembali normal dengan lebih cepat.

“Harapnya kan dengan PSBB Law enforcement bisa dilakukan dengan ketat, sehingga pelanggar bisa sanksi hukum lebih ketat. Jika diberlakukan dengan baik dan ketat maka virus ini akan dengan cepat bisa ditangani. Keadaan bisa kembali dengan normal,” tanggapnya.

“PSBB idealnya harus dilakukan 1 bulan, yakni 2 kali dari masa inkubasi. Dengan begitu kita bisa melakukan cukup evaluasi. Tapi tergantung Kemenkes menyetujuinya berapa lama. Bisa 2 minggu, 1 bulan bahkan lebih,” pungkasnya. [adg/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar