Pendidikan & Kesehatan

Suntikan Nano Gold Lebih Efektif Menyebar Lewat Pembuluh Darah

Warga menerima suntikan Nano Gold di kediaman penemu Nano Gold, Prof. Titik Taufikurohmah, Rabu (26/5/2021).

Surabaya (beritajatim.com) – Setelah Pare, Kediri, penyuntikkan Nano Gold digelar lagi di Surabaya. Lebih dari 400 warga Surabaya dan sekitarnya, terutama yang tinggal di kawasan Gunung Anyar Surabaya, menerima suntikan Nano Gold di kediaman penemu Nano Gold, Prof. Titik Taufikurohmah, Rabu (26/5/2021).

Kegiatan ini menyusul keberhasilan gerakan sebelumnya yang dilakukan dengan cara meminum air Nano Gold, pada awal-awal pandemi COVID-19 tahun 2020.

Seperti di Kediri, gerakan penyuntikan ini diinisasi oleh Prof. Titik berstatus Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), bersama dr Ninik Widya dan beberapa rekan dokter lainnya. Menurut Prof Titik, jika yang diminum sebelumnya konsentrasinya hanya 5 ppm, kali Nano Gold yang disuntikan berkonsentrasi 20 ppm.

“Memang lebih besar konsentrasinya, tapi masih batas aman jika disuntikan dalam aliran darah,” kata Prof Titik pada wartawan.

Dia menegaskan bahwa Nano Gold bukanlah vaksin, tapi hanya suntikan berkandungan Nano Gold. Cairan Nano Gold, berkonsentrasi 20 ppm telah terbukti dapat meningkatkan imun tubuh, sehingga bisa terbebas dari paparan COVID-19.

Para relawan yang disuntik mengaku merasakan efek luarbiasa positif.

“Selama ini saya sering pusing. Setelah mengonsumsi Nano Gold, terasa lebih ringan badan. Tidak mudah sakit. Dengan adanya yang disuntikkan, saya ikut,” tukas Dewi (41) yang jauh-jauh datang dari Surabaya Barat untuk disuntik Nano Gold.

Senada, Hadi (53) juga menegaskan hal serupa. “Sejak mengkonsumsi Nano Gold, meski saya tak muda lagi, saya tak pernah sakit, meski ini musim pandemi,”tegas pria asal Pagesangan ini.

Prof Titik menjelaskan Nano Gold yang disuntikkan akan jauh lebih efektif dibandingkan yang diminum. Karena yang disuntikkan akan langsung menyebar sekaligus menyatu ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah.

“Nano Gold bagian cara kerja cepat 10 kali lebih efektif dari vitamin C dan antioksidan,” ujarnya lagi.

Prof Titik yang mulai meneliti Nano Gold sejak menempuh pendidikan Doktoral pada 2011 – 2013 itu, awalnya Nano Gold untuk pasien lepra di Babat Jerawat Surabaya. Banyak penderita yang bisa disembuhkan dengan mengonsumsinya.

Selanjutnya, untuk pasien kanker yang ada di Yayasan Kanker Indonesia di Surabaya. “Alhamdulillah banyak pasien yang tidak mengalami kenaikan stadium. Bahkan yang bisa sembuh mencapai 30 persen. Lumayan karena penderita kanker kan sangat cepat menyebarnya,” jelasnya.

Sejak pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia, pemerintah yang selama ini memberikan pendanaan pada Prof Titik, meminta untuk mengalihkan ke pasien Covid-19 dan juga untuk pencegahan.

Prof Titik mulai memberikan minuman nanogold pada tetangga sekitarnya setiap beberapa hari sekali. “Dari relawan saya yang berjumlah 200 orang, tidak ada satu pun yang terkena Covid-19. Bahkan saya memberikan pada pasien Covid-19, mereka cepat sekali sembuhnya,” tuturnya.

Prof Titik melanjutkan, suntik nano Gold sesungguhnya menggantikan budaya susuk emas, yang terkenal di masa lalu. Selain dapat memberikan peningkatan imun, bonus dalam suntik nanogold adalah kulit menjadi lebih sehat, halus, dan cerah.

“Tahun lalu saya sudah melakukan ini tapi dengan cara diminum dan efeknya signifikan dalam meningkatkan imun, karena itu kini dikembangkan dengan cara menyuntikkan sehingga hasilnya bisa jauh lebih efektif lagi,” terangnya.

Prof Titik menunjukkan fomula Nano Gold bikinannnya.

Prof Titik melakukan ini untuk mengantisipasi masuknya varian baru COVID-19 yang sifatnya konon lebih agresif dengan daya tular lebih cepat. “Jadi saya berpikir saat ini pilihannya injeksi yang langsung berdampak pengenceran darah dan antioksidan, antivirus untuk menjaga tubuh langsung, dengan metode penyuntikan, maka tidak menunggu lagi masuk sistem pencernaan baru beredar lewat pembuluh darah,” katanya.

Dia pun meyakinkan, jika upaya penyuntikan yang dilakukannya tidak membahayakan tubuh. Sebagaimana nenek moyang yang telah puluhan tahun mempraktekkan susuk emas, tapi tetap sehat dan jarang sakit.

“Nah kini saya ubah teknologinya jadi suntik dan skin care nano Gold sebagai gantinya atau kita sebut susuk emas modern dengan suntik nanogold,” tegasnya.

Kata dia, apa yang dilakukannya dari sudut pandang agama tidaklah perbuatan musyrik, karena dia berpegangan pada fatwa MUI Nomor: 47 Tahun 2018 Tentang Penggunaan Partikel Emas dalam Produk Kosmetik bagi laki-laki.

Fatwa tertanggal 24 Oktober 2018 itu menyatakan, penggunaan kosmetika yang mengandung bahan partikel emas bagi laki-laki hukumnya boleh dengan ketentuan dimaksudkan untuk kepentingan yang dibolehkan secara syar’i dan ada kemanfaatan dan aspek bahaya (madlarrat) dalam penggunaan partikel emas telah hilang (tidak membahayakan).

“Intinya saya ingin mempopulerkan suntik nano Gold ini sebagai suntik awet muda, muda wajahnya juga seluruh organ tubuhnya, sehingga semangat berkarya terus menyala. Khasiatnya 10 kali suntik vitamin, tidak bahaya di ginjal dan organ lainnya,” bebernya.

Bagaimana bagi orang yang telah menerima vaksinasi COVID-19. Menurut Titik, justru bagi mereka yang sudah memperoleh vaksinasi sebelumnya sangat dianjurkan. “Pada dasarnya vaksin itu virus yang dilemahkan untuk memicu munculnya antibodi, sementara nano Gold ini membantu memunculkan antibodi, jadi sangat membantu efektifitasnya vaksin. Jika dikabarkan ada vaksin yang malah membuat darah mengental, maka suntikan nanogold membantu mengencerkan darah. Jadi justru saat ini mulai dipikirkan untuk penggunaan keduanya, vaksinasi dan penyuntikan nanogold,” katanya.

Inovasi Nano Gold sudah bekerjasama dengan perusahaan yang berpengalaman dalam pengembangan dan komersialisasi hasil-hasil inovasi di berbagai bidang dari beberapa lembaga riset di indonesia. MoU kerjasama Unesa dengan PT. Katama Inovasi Global telah ditandatangani pada Maret 2021 di Jakarta. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar