Pendidikan & Kesehatan

Strategi Pembangunan Infrastruktur yang Efektif, Pakai Aluminium Formwork System

Surabaya (beritajatim.com) – Dalam membangun infrastruktur, diperlukan strategi yang efektif untuk menunjang produktivitas dan efisiensi waktu pelaksanaan proyek pembangunan. Berdasarkan hal tersebut, tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menawarkan strategi pembangunan infrastruktur efektif dengan menggunakan aluminium formwork system.

Ialah Amaluddin Fajar, Risnandha Hermawati, dan Friska Ervanda. Ketiga mahasiswa Departemen Teknik Infrastruktur Sipil ITS yang tergabung dalam nama tim Frict ini menawarkan strategi konstruksi untuk pembangunan sebuah gedung. Strategi ini menggunakan aluminium formwork sebagai bekisting sebab dinilai dapat mempercepat proses pengerjaan dan menghemat biaya.

Amaluddin Fajar menuturkan, bekisting aluminium formwork sendiri berbentuk modul puzzle dan bersifat all in one system. Terminologi all in one system artinya pelaksanaan pemasangan bekisting langsung menjadi satu kesatuan dalam item struktur mulai dari balok, pelat, kolom, dan shearwall. “Hal ini menyebabkan tidak ada progres proyek yang tertinggal, jadi tidak ada waktu dan biaya terbuang yang menambah biaya overhead proyek,” ungkap mahasiswa yang akrab disapa Fajar itu.

Dikatakan, jenis bekisting ini dinilai lebih efektif untuk pembangunan gedung-gedung tinggi dengan lantai tipikal, di mana setiap lantainya tidak terdapat perbedaan struktur yang signifikan. Sehingga ketika bekisting suatu pengecoran sudah dapat dibongkar, bekisting tersebut dapat digunakan kembali untuk pengecoran lantai di atasnya. “Strategi ini cocok diterapkan pada pembangunan sebuah apartemen,” ujar mahasiswa angkatan 2017 itu.

Bekisting tersebut dinilai memberikan efek yang sangat baik karena kualitas yang dihasilkan. Mulai dari sambungan antarpanel yang konsisten, kepala kolom yang rapi, serta kehalusan hasil sehingga dapat mempercepat proses finishing. “Hasil dari bekisting dipastikan presisi karena terdiri dari panel-panel yang tidak dapat dipasang apabila terdapat kesalahan pemasangan di lapangan,” paparnya.

Jenis bekisting tersebut juga dapat didaur ulang dan dapat dipakai mulai 150 hingga 200 kali. Hal ini menyebabkan bekisting itu dinilai lebih ramah lingkungan, sebab tidak meninggalkan banyak sampah layaknya bekisting kayu konvensional. “Kami juga memaksimalkan strategi tersebut menggunakan teknologi seperti Microsoft Project dan Building Information Modeling (BIM),” tutur pemuda kelahiran tahun 1999 itu.

Adapun Microsoft Project sendiri digunakan untuk mengatur penjadwalan kerja proyek pembangunan. Sedangkan BIM berfungsi untuk menampilkan simulasi hasil desain struktur, membantu analisis dan dokumentasi proyek. “Hal ini dilakukan agar proyek bisa lebih efisien, akurat, dan kompetitif,” jelasnya.

Melalui strategi tersebut, Fajar dan timnya berhasil memenangkan juara kedua pada the 5th Construction Management Competition yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Malang pada Civil Days 2020 lalu. Ia pun berharap dapat mengimplementasikan inovasi tersebut di dalam proyek-proyek konstruksi gedung saat memasuki dunia kerja nantinya. “Sehingga nanti bisa mendapatkan biaya dan waktu pengerjaan yang lebih efisien serta tentunya lebih ramah lingkungan,” pungkas mahasiswa asal Kediri itu. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar