Pendidikan & Kesehatan

Soto Bisa Jadi Senjata Rahasia Diplomasi Indonesia

Jember (beritajatim.com) – Indonesia memiliki modal melakukan diplomasi lewat makanan (gastrodiplomasi). Kekuatan bukan lagi hanya berdasarkan keunggulan militer dan ekonomi.

Agus Trihartono, dosen Program Studi Hubungan Internasional Fisip Universitas Jember, mengatakan kini negara tanpa keunggulan militer dan ekonomi yang besar pun mampu tampil sebagai negara yang diperhitungkan di dunia. Negara seperti ini muncul karena kemampuan memenangi hati dan pikiran publik internasional.

“Caranya dengan memakai budaya di antaranya dengan kuliner atau yang dikenal sebagai gastrodiplomasi. Indonesia bisa jadi negara besar melalui kekayaan kuliner yang beragam yang dimilikinya. Contohnya hanya untuk soto saja ada beragam soto mulai soto Lamongan hingga coto Makassar,” kata Agus Trihartono, sebagaimana dilansir Humas dan Protokol Unej, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (21/12/2019).

Menurut Agus, kesadaran menjadikan kuliner sebagai alat diplomasi sebenarnya sudah dimulai oleh presiden RI pertama, Soekarno. Dia memerintahkan dokumentasi kekayaan kuliner nusantara melalui penerbitan buku Mustika Rasa yang dirintis sejak tahun 1960.

Usaha ini baru diseriusi di era Presiden Joko Widodo yang mencanangkan empat pilar diplomasi Indonesia yakni diplomasi kebudayaan, diplomasi olahraga, diplomasi film dan diplomasi makanan. “Presiden menginginkan ada makanan Indonesia yang menjadi ikon nation brand. Sebenarnya kita sudah memiliki modal dengan ditetapkannya rendang sebagai makanan terenak di dunia versi CNN,” kata doktor lulusan Ritsumeikan University, Kyoto, Jepang ini. [wir/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar