Pendidikan & Kesehatan

SMK Taman Siswa di Mojokerto Bikin Hand Sanitizer dan Disinfektan Sendiri

Proses hand sanitizer yang dipraktikkan Guru Kimia dan UKS SMK Taman Siswa, Sri Subekti (52). [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) membuat warga berburu hand sanitizer (pembersih tangan), tak terkecuali di Kota Mojokerto. Akibatnya, sejumlah apotek dan toko diserbu yang berdampak harga naik dan stok kosong.

Hal ini yang menjadi ide awal pembuatan hand sanitizer yang dilakukan oleh salah satu guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Taman Siswa di Kota Mojokerto. Imam Syafi’i Karim (50) yang merupakan guru Bahasa Inggris ini membuat hand sanitizer karena langkanya alkohol di pasaran.

“Di rumah kebetulan istri jualan alkohol, kebetulan habis. Saya liat di apotek stok kosong, kalau ada harga mahal dan masyarakat rela antre dan saat ini masyarakat tergantung di sosmed. Kenapa tidak menciptakan sendiri dan mudah tanpa antre. Padahal kalau antre menguras tenaga, waktu dan harga tinggi,” ungkapnya, Kamis (19/3/2020).

Sehingga ia pun mencoba mencari tahu cara membuat hand sanitizer sendiri. Menurutnya, sebelumnya adanya Covid-19 tak membuatnya panik namun karena kabar Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi positif virus yang berasal dari negeri China tersebut membuatnya berfikir.

“Akhir minggu kemarin akhirnya ide itu muncul, selain melihat banyaknya masyarakat yang antre beli hand sanitizer dan kabar Menteri Perhubungan yang positif Covid-19 jadi saya buat hand sanitizer untuk kalangan sendiri. Yakni dengan bahan uang ada sekitar dan murah,” katanya.

Bahan-bahan untuk membuat hand sanitizer mudah didapatkan, seperti etanol atau alkohol 70 persen dan face toner atau cairan pembersih wajah. Meski alkohol saat ini, mulai sulit di cari di pasaran, namun untuk face toner masih mudah didapatkan. Kedua bahan ini dicampur menjadi satu.

“Kandungannya sama dengan hand sanitizer. Dalam face toner terdapat Aqua, Glycerin, Methylparaben, Ethanol, Citrus Aurantifiola, Fruit Exctact, Perfume, Propylene Glycol dan Citric Acid. Alkohol yang melemahkan virus dibantu dengan bahan-bahan yang ada di face toner,” jelasnya.

Sementara itu, Guru Kimia dan UKS SMK Taman Siswa, Sri Subekti (52) mengatakan, ide Guru Bahasa Inggris itupun akhirnya dikoordinasikan dengan pihak puskesmas setempat. “Saya cari hand sanitizer di puskesmas tidak ada kemudian, ada edaran dari Dinkes untuk membuat hand sanitizer,” ujarnya.

Masih kata Sri, ada beberapa cara untuk membuat hand sanitizer. Salah satunya yakni dengan face tonik dan alkohol. Untuk merk tergantung keinginan, namun untuk ukuran yakni face tonik sebanyak 100 ml merk dan alkohol 70 persen sebanyak 50 ml.

“Dua bahan ini dicampur tapi jangan dikocok karena kalau dikocok nanti malah jadi pecah. Langsung dimasukkan ke botol spray saja. Cara kedua yakni dengan tanaman lidah buaya yang di blender dicampur alkohol. Kalau tidak ada bisa diganti lidah buaya yang sudah bentuk cair,” jelasnya.

Untuk takarannya, lidah buaya cair sebanyak 100 ml dan alkohol 50 ml dicampur menjadi satu. Cara kedua yakni dengan menggunakan tanaman daun sirih yang direbus dan dicampur kemangi, hasil rebusan daun sirih dan kemangi bisa digunakan sebagai hand sanitizer.

“Cara keempat yakni dengan daun waru dikasih air diperas dan dikasih alkohol jadi mengental seperti gel. Kita juga membuat disinfektan sendiri yakni dengan bahan air bersih sebanyak 1 liter dicampur pembersih lantai atau asam kristal atau karbol sebanyak 2 sendok. Kalau ini harus digunakan langsung karena akan menggumpal jika disimpan,” paparnya.

Untuk menggunakan disinfektan tersebut lebih dulu perabotan khususnya yang terbuat dari kayu dibersihkan dulu baru disemprotkan. Setelah disemprot akan meninggalkan bekas kemudian dibersihkan dengan kain bersih. Menurutnya, virus dan bakteri untuk melemahkan bisa menggunakan zat yang mengandung alkohol.

“Ini hanya untuk pencegahan saja. Ini tadi baru kita semprot, rencananya dalam satu minggu dua kali. Kalau di SMK Taman Siswa ada ruang kelas sebanyak 60, 4 bengkel, ruang guru, ruang waka, 2 ruang TU, kepala sekolah, meeting room, Mushola, ruang UKS, ruang OSIS, ruang BK, ruang server dibutuhkan sekitar 16 liter disinfektan,” urainya.

Sementara hasil dari hand sanitizer buatan SMK Taman Siswa tersebut di taruh di setiap ruang yang ada. Namun karena saat ini, sekolah dan lembaga di Kota Mojokerto diminta menggelar proses belajar mengajar di rumah sehingga hanya hand sanitizer hanya dipasang di beberapa ruang kelas saja.

“Kelas I dan II belajar di rumah, kelas III masuk karena ada UNBK Teori Kejujuran dan hari ini terakhir. Selain melakukan itu, rajin konsumen vitamin C dan E. Kedua vitamin ini dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari tapi jangan bareng, pagi vitamin C, sore vitamin E atau sebaliknya dan jaga kebersihan terutama tangan,” pungkasnya. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar