Pendidikan & Kesehatan

SMAN 16 Surabaya Adakan MPLS di Panti Asuhan

Surabaya (beritajatim.com) – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Surabaya tahun ajaran 2019/2020 kali ini dikemas cukup menarik, pasalnya saat ini MPLS tidak lagi dilaksanakan di dalam gedung sekolah.

Seperti yang dilakukan SMAN 16 Surabaya, sebanyak 88 siswa baru melakukan MPLS di tiga panti di Surabaya, Kamis (18/7/2019).

Tiga panti tersebut antara lain panti Werdha, Panti Asuhan dan Panti Disabilitas. Langkah yang di lakukan SMAN 16 Surabaya, rupanya mendapat apresiasi dari Plt Kepala Dindik Jatim, Hudiyono.

Menurutnya, sudah seharusnya pengenalan lingkungan, seperti pengabdian masyarakat dilakukan dalam kegiatan MPLS. Apalagi, jika berkaitan untuk memberikan semangat, motivasi dan penguatan pribadi siswa.

“Ini pelajaran yang berharga bagi anak-anak sebelum menerima pembelajaran di sekolah.  Karena ini bagian penting dari pendidikan karakter yang harus dikuatkan,” ungkap Hudiyono.

Kegiatan kunjungan ke panti-panti, dinilai Hudiyono, akan memberikan manfaat dalam memelihara hubungan dengan Tuhan. Bagaimana hal itu terhubung melalui pengabdian kepada masyarakat.

“Dengan diajak ke panti-panti ini mereka jadi paham dan tahu bagaimana menjalani kehidupan dengan berbagai tantangan. Pendidikan karakter yang bagus dibangun dari aspek internal dan hatinya,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan diluar sekolah yang berbentuk pengabdian masyarakat merupakan bagian dari hidden kurikulum. Karena berkaitan dengan kompetensi tentang pengetahuan, kompetensi karakter dan kompetensi kompetensi yang diterjemahkan dalam desain pembelajaran internal dan eksternal.

Kepala SMAN 16 Surabaya,  Roosdiantini menuturkan adanya kegiatan MPLS di luar sekolah, khususnya untuk pengabdian masyarakat. Dengan hal itu, diharapkan siswa dapat mempelajari pelajaran hidup. Terutama dalam memperlakukan orang tua, anak-anak yatim-piatu dan anak-anak disabilitas.

“Mereka akan tahu bagaimana cara menghargai hidupnya. Memaknai hidup. Karena sifat empati dan simpati kita bentuk melalui ini. Juga untuk pembentukan pola pikir siswa untuk bersikap dewasa dalam menghadapi hidup,” tuturnya.

Pelajaran hidup juga di rasakan Altafannia Zalwa (15). Siswa baru SMAN 16 Surabaya ini mengungkapkan penyesalannya kepada sang nenek. Marena tidak bisa menemaninya di akhir hayat. Dari kunjungan itu, ia mengaku akan lebih menghargai keluarganya.

Sementara itu, Wiwik (70) terlihat berkaca-kaca saat melihat kunjungan siswa SMAN 16 Surabaya. Dalam kesempatan itu, ia mengungkapkan kerinduannya kepada anak-anak nya dan cucunya.

“Saya ingat anak dan cucu saya. Mereka sibuk bekerja. Tapi saya tetap doakan anak-anak saya sukses,” pungkasnya.[ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar