Pendidikan & Kesehatan

Situasi Pandemi, SNMPTN-SBMPTN 2021 Alami Perubahan Mekanisme

Surabaya (beritajatim.com) – Berada di situasi pandemi tentunya membuat adaptasi perilaku dan mekanisme terjadi di semua sektor, termasuk pendidikan. Pelaksanaan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2021 pun mengalami perubahan mekanisme.

“Berbeda dengan tahun sebelumnya, untuk tahun ini penentuan kuota siswa eligible (yang boleh) mendaftar SNMPTN bisa diketahui sejak awal. Dengan begitu, diharapkan sekolah bisa menyiapkan berapa siswa yang eligible,” ujar Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Prof. Mohammad Nasih saat merilis pengumuman mekanisme SNMPTN-SBMPTN 2021 baru secara virtual melalui siaran Yotube, Senin (4/1/2020).

Prof. Nasih menjelaskan sejak tanggal 28 Desember 2020, LTMPT sudah mengumumkan kuota untuk tiap sekolah dan jumlah kuota setiap jurusan di setiap sekolah.

“Sehingga kami hanya mengolah data siswa yang eligible saja untuk tahun ini. Sedangkan jumlah selebihnya akan ditunggu di pendaftaran UTBK-SBMPTN,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Airlangga Surabaya ini.

Perbedaan lainnya dalam pendaftaran SNMPTN-SBMPTN tahun ini adalah adanya integrasi politeknik, D4 dengan PTN.

Politeknik dan D4 di beberapa perguruan tinggi akan mengikuti SNMPTN dan SBMPTN. Siswa juga bisa memilih jurusan di institut, D4 atau politeknik secara bersamaan.

“Bagi lulusan SMK yang memilih politeknik dengan jurusan yang serumpun maka akan diberikan bobot lebih di indeks sekolah sehingga peluang masuknya lebih tinggi,” katanya.

Integrasi SNMPTN-SBMPTN juga berlaku bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di bawah Kementerian Agama (Kemenag).

Prof. Nasih menambahkan jika PTKIN sepenuhnya mengikuti mekanisme SNMPTN, maka di SBMPTN dan jalur Mandiri harus mengikutsertakan jurusan yang ada.

“Misalnya di jurusan Ekonomi Islam, SNMPTN 10 persen dan SBMPTN 20 persen dan Mandiri dilakukan sendiri, kita (LTMPT) tidak mau. Jadi integrasinya harus konsisten,” ucapnya.

Sementara itu, nilai rata-rata Tes Potensi Skolastik (TPS) tahun 2020 juga akan masuk poin penting indeks sekolah untuk menentukan peluang siswa masuk di perguruan tinggi yang dituju. Di tahun sebelumnya jalur SNMPTN banyak menggunakan prestasi dari siswa.

Jika begitu, maka peluang akan lebih banyak bagi sekolah yang mempunyai siswa yang ada di perguruan tinggi tersebut.

“Oleh karena itu, kita inisiasi salah satu poin penting indeks sekolah di nilai rata-rata TPS kemarin. Meskipun ada SMA belum masuk Unair misalnya, atau PTN lain tapi nilai TPS-nya berada di 10 terbaik di tahun sebelumnya, maka punya peluang yang sama. Tentu mempertimbangkan faktor lain, seperti afirmasi atau kondisi wilayah siswa,” ujarnya. [adg/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar