Pendidikan & Kesehatan

Siswa SMA/SMK dan SLB Dapat Bantuan Kuota Internet Gratis

Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 1,3 juta lebih pelajar SMA/SMK dan SLB negeri maupun swasta di Jawa Timur mendapatkan bantuan kuota internet gratis yang dibangun Pemprov Jatim melalui Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim bekerjasama dengan Telkomsel.

Bantuan kouta internet ini diberikan sebanyak 10 gigabyte persiswa dan bisa digunakan pada awal September mendatang. Kepala Dindik Jatim, Wahid Wahyudi menuturkan banyaknya persoalan kuota internet mendorong kerjasama tersebut terbangun. Apalagi adanya pandemi, tak sedikit wali murid yang kesulitan secara finansial, dan terbebani akan kebutuhan kuota internet selama pembelajaran jarak jauh atau daring.

“Jatim dijadikan pilot project untuk menyiapkan 1,3 juta paket kartu yang diberikan secara gratis bagi SMA/SMK dan SLB negeri ataupun swasta dengan besaran kuota 10 gigabyte. Kalau dirasa kurang, karena evalusi kami siswa butuh 23 gigabyte, nanti bisa menambah dengan 5 ribu bisa beli kuota dengan kapasitas 11 gigabyte,” papar Wahid, Rabu (25/8/2020).

Wahid menjelaskan, sekolah bisa menggunakan dana BOS jika ada penambahan pembiayaan kuota internet. Bantuan kuota tersebut dikatakan Wahid juga diperuntukkan bagi guru yang bisa menghabiskan dua kali lipat dari kebutuhan siswa. “Jadi kalau siswa 23 gigabyte, guru bisa sampai 40 gigabyte. Ini bisa dianggarkan sekolah,”pungkasnya

Sementara itu, Kepala UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (TIKP) Dindik Jatim, Alfian Majdie merinci, sebanyak 1.339.921 siswa dari 3.789 lembaga SMA/SMK dan SLB negeri ataupun swasta akan bisa menikmati program CSR Telkomsel ini. Tak hanya siswa, program tersebut juga menyasar guru dan tenaga kependidikan yang berjumlah hingga 96.122 se Jawa Timur.

“Yang dapat (bantuan kuota internet gratis) ini seluruh siswa SMA/SMK dan SLB negeri dan swasta se Jatim. Per 24 agustus 2020 kemarin bu gub sudah tanda tangan kerjasama dengan telkomsel, tinggal dari kita nanti akan membaginya,” urai dia.

Terkait teknis pembagiannya, Alfian menjelaskan jika hal tersebut akan dikoordinasikan oleh 38 tim dari telkomsel dengan cabang dinas pendidikan wilayah Jawa Timur.

“Tim ini akan menyebar untuk menemui cabdin di masing-masing wilayah. Di cabdin mereka akan minta data sekolah, siswa dan guru. Misalnya di SMKN 1 surbaya, berapa jumlah siswa dan gurunya ini akan digunakan untuk distribusi paket kuota internetnya,” tambah dia.

Alfian menyebut, besaran kuota internet akan diperuntukkan untuk portal belajar selama PJJ. Mulai dari zoom, google classroom, quiper, microsoft-think, dan aplikasi rumah belajar Kemdikbud.

“Rencananya kita akan mulai distribusi awal September nanti. Tapi tergantung cabdin prosesnya (pendataan) cepat tidak. Paling lambat pendataan tiga hari. Sehingga bisa segera dinikmati sekolah. Kalau untuk sekolah swasta kita masih terus melakukan pendataan karena jumlahnya yang mencapai 3 ribu lebih lembaga,” jelasnya.

Alfin juga menambahkan, adanya program CSR bantuan kuota internet gratis ini akan bisa digunakan hingga pandemi usai. Mengingat, kedepan Dindik Jatim akan mengkonsep PJJ tidak hanya sementara. Tapi nantinya, sekolah-sekolah yang didaerah padat akan dikonsep tiga hari sekolah, 2 hari dirumah.

“Jadi jika nambah kuota internet, sekolah bisa mengambil pembiayaan tersebut lewat dana BOS. Jika belum turun, telkomsel akan memberi keringanan untuk peminjaman. Saat BOS cair baru dibayar,” paparnya.

Adanya program CSR bantuan kuota internet gratis disambut bahagia oleh sekolah. Pasalnya, selama PJJ tak sedikit siswa yang mengeluhkan banyaknya kuota internet yang dibutuhkan untuk menggunakan berbagai portal belajar.

“(Belum tahu ya) saya masih dengar-dengar ada bantuan kuota internet gratis. Kalau ada kita sangat menyambut baik. Namun, Kita masih belum mengetahui kapan akan terealisasi,” ujar Waka Humas SMAN 16 Surabaya, Abdul Razzaq Thahir.

Di SMAN 16 Surabaya sendiri kebutuhan internet cukup tinggi. Karenanya pihaknya memperbanyak jaringan agar para guru bisa mengajar dengan nyaman. “Detailnya kami belum tahu kapan. Tapi realitas saat ini menggunakan internet sekolah. Untuk siswa biaya mandiri. Kalau kehabisan kuota, mereka ya tidak ikut zoom tapi mereka ijin dulu,” pungkasnya. [kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar