Pendidikan & Kesehatan

Siswa SMA Meninggal, Diduga Akibat Dipukul Guru

Sumenep (beritajatim.com) – ADR (17), siswa kelas 11 SMA Negeri Batuan Sumenep meninggal, diduga akibat dihukum gurunya dengan cara dipukul menggunakan gayung air.

Siswa tersebut dihukum oleh gurunya, karena saat pelajaran agama tertidur di kelas. Selain itu, siswa tersebut tidak mengerjakan tugas yang diberikan. Akibatnya, guru memberikan hukuman sebagai pelajaran, dengan mengayunkan gayung ke dahi siswa.

Versi keluarga korban, tak berselang lama dari kejadian tersebut, siswa yang dihukum itu mengalami sakit pada kepala. Bahkan kejang-kejang dan pingsan.

ADR pun langsung dilarikan ke Puskesmas Lenteng, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Daerah dr. H. Moh Anwar Sunenep. Namun karena keterbatasan peralatan, ADR dirujuk lagi ke RSUD Pamekasan.

“Hasil rontgen kepala di RSUD Pamekasan, ada pembekuan darah di otak belakang, akibat benturan benda keras. Karena itu, korban disarankan untuk dibawa ke RSUD dr. Soetomo Surabaya,” kata pengacara keluarga korban, Hawiyah Karim, Rabu (20/03/2019).

Namun sayang, sebelum korban sempat dibawa ke Surabaya, korban meninggal pada Senin (18/03/2019).

Karena itu, keluarga korban berencana akan melaporkan kasus tersebut ke Polres Sumenep.

“Kami sudah ke Polres untuk berkoordinasi dan menyampaikan informasi tersebut. Rencananya, besok kami akan melaporkan secara resmi ke kepolisian,” terang Hawiyah Karim.

Sementara Kepala SMA Negeri Batuan, Solehudin menjelaskan, kasus tersebut sebenarnya sudah lama, karena terjadi pada November 2018. Setelah kejadian itu, siswa tetap masuk sekolah seperti biasa.

“Kondisi siswa setelah kejadian itu baik-baik saja. Tidak ada masalah dengan kesehatannya. Dia tetap masuk sekolah dan mengikuti pelajaran seperti biasa,” terangnya.

Lagipula, menurut Solehudin, guru ketika memukul siswa tersebut tidak keras. Gayung yang digunakan adalah gayung plastik, dan kondisi gayung memang sudah pecah. Bukan pecah karena digunakan untuk memukul.

“Boleh ditanyakan pada teman sebangkunya. Kebetulan mendapat hukuman yang sama, karena juga tidak mengerjakan tugas,” paparnya.

Ia menuturkan, siswa tersebut baru sakit mulai bulan Februari. Informasi yang diterimanya, ada benjolan di kepala bagian belakang, dan mata sebelah kiri bengkak.

“Diduga itu bukan akibat dipukul gayung. Karena dipukulnya kan di dahi, bukan di kepala belakang. Jadi diduga karena sebab lain,” ujarnya.

Selain itu, menurut Solehudin, pihak keluarga siswa didampingi aparat desa telah datang ke sekolah.

“Persoalan ini sudah selesai. Keluarga korban minta maaf kalau ada kabar tidak mengenakkan di luar. Dan mereka berjanji tidak akan melaporkan kasus ini ke kepolisian,” ucapnya. (tem/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar