Pendidikan & Kesehatan

Siswa SD dan SMP Bakal Uji Coba Masuk Sekolah

Kepala Dindik Ponorogo Endang Retno Wulandari(foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Setelah SMA/SMK sudah mulai melakukan uji coba pembelajaran tatap muka, Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo juga akan berencana melakukan hal yang sama untuk sekolah tingkat SMP dan SD. Rencana itu menguat setelah uji coba untuk SMA/SMK di bumi reyog tidak menemui permasalahan. Selain itu, Ponorogo yang sudah zona kuning Covid-19, memperbolehkan pembelajaran dengan tatap muka.

“Meski sudah boleh, tetapi juga ada syarat yang harus dipenuhi untuk mengadakan uji coba pembelajaran tatap muka. Yakni sudah memdapat izin dari bupati, dan siswa dapat izin dari orangtua. Selain itu lembaga pendidikan atau sekolah harus siap dengan protokol Covid-19,” ungkap Kepala Dindik Ponorogo Endang Retno Wulandari, Selasa (1/9/2020).

Retno panggilan akrabnya Endang Retno Wulandari mengungkapkan pihaknya sudah melayangkan surat permohonan izin kepada bupati. Pada prinsipnya, Dia yakin bupati akan memberikan izin. Sebab, jika dilihat uji coba SMA/SMK progresnya juga tidak ada masalah.

“Kami saat ini lagi menunggu surat izin dari bupati keluar,” katanya.

Teknisnya, uji coba pembelajaran tatap muka, satu kecamatan diwakili satu SMP negeri dan SMP swasta. Sedangkan untuk SD, di setiap kecamatan hanya diwakili satu SD saja yang statusnya negeri. Namun, untuk wilayab kecamatan kota, yang melakukan uji coba pembelajaran tatap muka ada beberapa sekolah yang siap dan ditunjuk dari Dindik Ponorogo.

“Saya yakin untuk wilayah kota, sekolah sudah siap semua. Namun, ya akan dilakukan secara bertahap,” ungkap mantan kepala Dispendukcapil Ponorogo itu.

Dindik Ponorogo juga melakukan koordinasi dengan satgas Covid-19 kecamatan. Dia meminta satgas Covid-19 kecamatan untuk ikut membantu pihaknya melakukan verifikasi sekolah yang sudah siap menyelenggarakan uji coba tatap muka. Sistem siswa yang masuk, Dindik Ponorogo hanya mematok sebesar 30 persen dari jumlah keseluruhan siswa. Meski, untuk daerah berzona kuning, boleh menyelenggarakan pembelajaran tatap muka sebanyak 50 persen.

“Yang masuk untuk sementara hanya 30 persen saja, sisanya ya melakukan pembelajaran jarak jauh. Dan yang masuk pun dilakukan bergantian,” pungkasnya. [end/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar