Pendidikan & Kesehatan

Siswa Ponorogo Masuk Sekolah: Ada 2 Desa yang Dilarang Masuk, Ada 2 Sekolah yang Dihentikan

Ponorogo (beritajatim.com) – Sekolah tingkat SMA/SMK di Ponorogo yang melakukan uji coba tatap muka sangat hati-hati dalam pelaksanaan pembelajaran. Pihak sekolah intens berkoordinasi dengan tim satgas Covid-19 kecamatan untuk memastikan bahwa pembelajaran berjalan dengan lancar dan aman.

“Jadi untuk kelancaran pembelajaran tatap muka, kami meminta pihak sekolah untuk selalu berkoordinasi dengan tim satgas kecamatan,” kata Kasi SMA/SMK Cabdindik Jatim Wilayah Ponorogo Eko Budi Santoso, Selasa (22/9/2020).

Kalau suatu desa atau kelurahan ada warganya terpapar Covid-19, siswa yang dekat dengan rumah warga terpapar tersebut disuruh tidak masuk sampai keadaan aman. Begitupun jika sekolah yang melakukan uji coba pembelajaran tatap muka berada di lingkungan yang warganya terkonfirmasi positif Covid-19, terpaksa sekolah itu ditutup dulu.

“Seperti di SMAN 1 Jetis, siswa-siswa yang berdomisili di Desa Kutu Kulon dan Karanggebang saat ini dilarang masuk. Sebab kedua desa itu sedang melakukan pembatasan sosial berskala mikro (PSBM),” katanya.

Selain itu, beberapa waktu yang lalu ada dua sekolah di Kecamatan Babadan yang uji cobanya dihentikan. Sekolah tersebut adalah SMAN 1 Babadan dan SMK PGRI 2 Ponorogo. Penghentian sementara itu ditengarai zona di kecamatan tersebut berubah menjadi merah. Sehingga tim satgas kecamatan memberitahukan pihak sekolah untuk menghentikan sementara uji coba tatap muka tersebut.

“Jadi penghentian uji coba pembelajaran tatap muka yang ada di kecamatan Babadan itu bukan karena ada siswa yang terpapar Covid-19. Melainkan dihentikan karena zona di wilayah sekolah tersebut merah,” katanya.

Sementara itu, wakil humas SMAN 1 Babadan M. Bambang Wijanarko membenarkan jika uji coba pembelajaran tatap muka di sekolahnya sempat dihentikan. Penghentian itu atas instruksi dari tim satgas penanggulangan Covid-19 kecamatan Babadan. Pasalnya, beberapa waktu yang lalu kecamatan tersebut zonanya merah.

“Dihentikan hanya lima hari, setelah itu pada hari Senin (21/9) siswa sudah diperbolehkan masuk lagi. Itupun hanya 25 persen dari jumlah seluruh siswa, lainnya melakukan pembelajaran daring,” katanya.

Bambang mengungkapkan jika sekolahnya itu melakukan uji coba tatap muka pada gelombang kedua, yakni pada awal bulan September. Kepastian bisa melakukan uji coba itu berdasarkan dari rekomendasi tim satgas penanggulangan Covid-19 kecamatan. Setelah seminggu berjalan, satgas mengirimkan surat untuk sementara meniadakan pembelajaran tatap muka. Kemudian mulai hari Senin (kemarin), mulai bisa kembali masuk.

“Jadi penghentian seminggu itu murni karena wilayah Babdan yang zona merah. Bukan karena ada kluster dari sekolahan. Alhamdulillah, siswa – siswi kami sehat,” pungkasnya. [end/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar