Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Siswa Baru di Gresik Ada Tambahan Kurikulum Lokal

Ilustrasi: Sekolah

Gresik (beritajatim.com) – Memasuki tahun ajaran baru 2022/2023 siswa baru TK, SD maupun SMP ada tambahan kurikulum sejarah lokal Gresik.

Selain itu, juga tambahan edukasi wisata dan kelas tahfidz. Namun, untuk kelas tahfidz baru dimulai satu sekolah sebagai pilot project.

Kurikulum tambahan tersebut, merupakan gagasan dan inovasi Dinas Pendidikan (Disdik) Gresik untuk membuat generasi muda kembali menjaga kearifan lokal. Selain itu, ikon Gresik sebagai kota santri juga terjaga.

Khusus jalur tahfidz Al Qur’an selama ini belum ada sekolah yang kelas tersebut. Mulai tahun ajaran 2022/2023 nanti, SMPN 2 Gresik dipilih menjadi pilot project kelas tahfidz.

Kepala SMPN 2 Gresik Beri Avita menuturkan, nantinya terdapat satu rombongan belajar (rombel) dengan pagu 32 siswa. Kelas tahfidz ini merupakan kelas tambahan di luar mata pelajaran reguler.

Kelas tahfidz itu lanjut dia, mengakomodir para siswa baru yang mendaftar dengan jalur tahfidz. Sehingga, hafalan Al Qur’an mereka tetap terjaga bahkan bisa bertambah.

“Dalam kurikulum itu memang dituntut menambah hafalan siswa. Harapannya pilot project ini sukses,” ujar Beri Avira, Rabu (25/05/2022).

Ia menambakan, tahun lalu pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) melalui jalur tahfidz ada 28 siswa. Artinya masih terdapat pagu untuk siswa reguler masuk kelas ini.

“Siswa reguler bisa masuk dalam kelas tahfidz ini. Namun, pihak sekolah akan melakukan tes awal untuk seluruh siswa baru. Hal itu dilakukan untuk mengetahui potensi siswa,” imbuhnya.

Sementara itu mengenai kurikulum sejarah lokal, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Gresik, S. Hariyanto mengatakan, kurikulum sejarah lokal ini bakal dimulai tahun ajaran baru Juli nanti. Materinya, para siswa jenjang TK hingga SMP akan mendapatkan kurikulum sejarah lokal ini.

“Ada materi hubungan islamisasi Gresik, perdagangan internasional Gresik, kolonialisasi di Gresik. Ada banyak lagi seputar sejarah Gresik di masa lampau,” ungkapnya.

Melalui pembelajaran sejarah lokal itu lanjut dia, para siswa mendapat pelajaran lain. Baik itu agama hingga ilmu pengetahuan sosial (IPS). (dny/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar