Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Simulasi Perkuliahan Hybrid, Untag Terapkan Prokes Ketat

Surabaya (beritajatim.com) – Menjelang jadwal pelaksanaan PTM Terbatas untuk mahasiswa baru angkatan 2020 dan 2021 pada November mendatang, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya melakukan beberapa persiapan. Salah satunya dilakukan simulasi perkuliahan hybrid yang mengintegrasikan kuliah luring dan kuliah daring secara bersamaan dengan jumlah maksimal mahasiswa 50% kapasitas ruangan. Sementara mahasiswa lainnya melakukan perkuliahan via daring. Mahasiswa Prodi Teknik Informatika Kelas Internasional menjadi peserta simulasi pelaksanaan hybrid learning.

“Sejak Senin lalu, empat program studi Internasional Untag Surabaya sudah melangsungkan PTM Terbatas. Semua mahasiswa sudah kuliah luring karena jumlahnya juga memenuhi 50% kapasitas ruangan. Namun, untuk Kelas Internasional prodi Teknik Informatika ini jumlahnya cukup banyak sehingga kami lakukan perkuliahan hybrid,” papar Wakil Rektor I Untag Surabaya, Harjo Seputro, ST., MT., saat meninjau langsung proses perkuliahan.

Pada pelaksanaan simulasi, terhitung 16 mahasiswa hadir secara luring di Ruang Q306, Gedung Prof. Dr. Roeslan Abdul Ghani Untag Surabaya. Sementara 11 mahasiswa lainnya hadir secara daring. Kesiapan peralatan dan teknis menjadi hal yang diperhatikan dalam perkuliahan hybrid sehingga meski hadir secara daring, mahasiswa dapat melihat secara langsung penjelasan dosen di kelas. Pembelajaran juga berlangsung interaktif dengan mahasiswa bisa mengajukan pertanyaan secara langsung seperti berada di dalam kelas. “Harapannya materi yang diterima oleh mahasiswa di ruang kelas dan rumah, sama,” kata Harjo.

Lebih lanjut dikatakannya, simulasi pelaksanaan hybrid ini menjadi tolak ukur pelaksanaan perkuliahan mahasiswa baru pada November mendatang. Sebelumnya, data mahasiswa dalam mengisi prasyarat untuk mengikuti PTM terbatas, seperti ijin dari orang tua dan bukti telah vaksin terdata pada Biro Akademik. Kemudian data tersebut diserahkan pada Prodi untuk pembagian jadwal luring dan daring mahasiswa. Harjo berharap, “meski dengan hybrid, capaian pembelajaran tetap tercapai. Tolak ukurnya itu”.

Salah satu mahasiwa yang menjadi peserta simulasi perkuliahan hybrid, Zary Cecelya, mengatakan metode perkuliahan hybrid jauh lebih efektif sebab ia bisa berinteraksi dengan dosen. “Perkuliahan hybrid ini lebih efektif dan dapat lebih mudah memahami materi. Kami bisa langsung berinteraksi dengan dosen,” ungkapnya. [adg/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar