Pendidikan & Kesehatan

Catatan Dinkes Bojonegoro

Setengah dari Penyebab AKI Karena Penyakit Penyerta

foto/ilustrasi

Bojonegoro (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bojonegoro mencatat selama kurun waktu tahun 2020 ini Angka Kematian Ibu (AKI) sebanyak 28 orang. Sedangkan angka kematian bayi (AKB) lebih besar, yakni sebanyak 116 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro Ani Pudjiningrum mengungkap, hingga November 2020 jumlah AKI di Kabupaten Bojonegoro sebanyak 28 orang. “Dari jumlah kasus tersebut, 14 di antaranya adalah memiliki penyakit penyerta,” ujarnya, Minggu (29/11/2020).

Menurut Ani, Dinas Kesehatan Bojonegoro terus melakukan sosialisasi bersama multisektoral dan bekerja sama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana untuk menekan kehamilan bagi usia subur resiko tinggi yang dapat memicu AKI dan AKB.

Penurunan AKI dan AKB ini menjadi prioritas Pemkab Bojonegoro, karena menjadi salah satu indikator indeks pembangunan manusia (IPM). Oleh karena itu, lanjut Ani, Pemkab Bojonegoro akan melakukan pemenuhan standart pelayanan kesehatan dengan memberikan bantuan sarana prasarana kepada tujuh rumah sakit swasta. Seperti bantuan ventilator.

“Kami berkomitmen meningkatkan fasilitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat dan menerapkan standart operasional prosedur,” tegas Ani.

Sementara terkait Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) untuk Puskesmas, menurut dia, merupakan bantuan dari Kementerian Kesehatan. Sehingga besaran bantuan yang dipasang dalam RPJMD berdasarkan nilai bantuan yang diterima sebelumnya.

“Jadi tidak ada target. Karena ini berbeda dengan dana bagi hasil migas yang bisa dipasang target sesuai hasil produksi minyak,” ungkap mantan Direktur RSUD Sumberrejo ini.

Dinas Kesehatan Bojonegoro menyampaikan berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) Bojonegoro berada di urutan 11 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Data ini berbeda dengan yang disampaikan Poverty Resource Center Initiative (PRCI), bahwa IPKM Bojonegoro berada diperingkat ke-22.

“Sedangkan secara nasional IPKM berada di rangking 105 kabupaten/kota di Indonesia,” terangnya.

IPKM 2018 dihitung dengan menggunakan model IPKM yang dikembangkan tahun 2013. Indeks ini mengikutsertakan 30 indikator kesehatan yang dikelompokan menjadi 7 sub indeks, yakni Kesehatan Balita, Kesehatan Reproduksi, Pelayanan Kesehatan, Perilaku Kesehatan, Penyakit Tidak Menular, Penyakit Menular, dan Kesehatan Lingkungan.

“IKPM ini diketahui setiap lima tahun sekali. Untuk terbaru nanti diketahui tahun 2022,” ucap Ani.

Dijelaskan, untuk nilai Angka Harapan Hidup (AHH) Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2019 adalah 71,36 tahun. Sedangkan AHH nasional 71,18 tahun. “Artinya, angka harapan hidup Bojonegoro di atas nasional. Ini sudah tinggi,” pungkas Ani. [lus/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar