Pendidikan & Kesehatan

Senyawa untuk Ikat Virus Corona Ciptaan Unair Batal Dipublikasikan ke Internasional

Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih M.Si Wakil Rektor (Warek) I Universitas Airlangga

Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Airlangga telah berhasil menciptakan 5 senyawa sintesis yang memiliki daya ikat kuat terhadap virus Covid-19. Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih M.Si selaku Wakil Rektor (Warek) 1 sekaligus Juru Bicara Penelitian Covid-19 Unair menyebutnya sebagai ACovUnair-5.

Riset awal hanya sampai pada menemukan atau membuat senyawa yang bisa digunakan sebagai bahan bakal obat. Prof Nyoman bahkan mengatakan bahwa awalnya senyawa yang ditemukan ini akan dipublikasikan, agar peneliti lain bisa menggunakan dan melanjutkannya sebagai obat penangkal Covid-19.

“Di etika keilmuan itu kalau kita menemukan senyawa baru, hasil riset senyawa baru itu harus dipublikasi dulu secara ilmiah agar mendapat respon masukan dan rekomendasi secara ilmiah, nasional maupun internasional. Kalau sudah mendapat rekomendasi secara ilmiah baru kita umumkan, ini loh struktur sintesis senyawa kita,” ujar Prof Nyoman kepada beritajatim.com, Jumat (24/4/2020).

Tetapi, publikasi terkait senyawa ini tidak jadi dilakukan. Prof Nyoman mengatakan bahwa dengan berhasilnya menemukan senyawa ACovUnair-5 yang memiliki daya ikat kuat terhadap virus Covid-19, banyak pihak yang mendukung Unair untuk melanjutkan penemuannya hingga berapa obat yang bisa dikonsumsi.

“Pembuatan jurnal dan publikasi tidak jadi dilanjutkan, karena banyak dukungan untuk melanjutkan sendiri hasil penelitian ini. Toh kami punya laboratorium untuk sintesis senyawanya, punya laboratorium farmasi yang standar WHO dan kelas internasional. Jadi semua bisa dilakukan sendiri di Indonesia,” ungkapnya.

Sebelumnya, untuk sintesis senyawa membutuhkan waktu 2 bulan. Saat ini Unair sudah menyintesis 3 dari 5 senyawa yang dimiliki. Namun untuk menjadi obat tentunya membutuhkan waktu yang lebih lama, masih ada banyak tahapan yang harus dilalui, seperti uji preklinis melalui uji toksisitas dan uji klinis in vitro in vivo. Tahap uji preklinis sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni setidaknya 1 tahun. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar