Pendidikan & Kesehatan

Sempat Kekurangan Oksigen, RS Kalisat Jember Ajukan BTT

Direktur RS Kalisat Kunin Nasihah

Jember (beritajatim.com) – Rumah Sakit Kalisat, rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, saat ini berusaha menjaga agar pasokan oksigen mencukupi untuk pasien Covid-19.

Saat ini dari kapasitas 22 tempat tidur isolasi Covid, diisi 17 pasien. Layanan untuk pasien non Covid masih tersedia. “Jumlah total kamar termasuk ruang isolasi adalah 103, untuk non Covid ada rawat inap bersalin, bayi, anak, penyakit dalam, bedah dan syaraf,” kata Direktur RS Kalisat Kunin Nasihah, Sabtu (31/7/2021).

Mereka dilayani 274 pegawai, di antaranya 21 dokter dan 126 tenaga perawat dan bidan. Jumlah ini dinilai mencukupi. Ada 22 orang pegawai yang terkonfirmasi positif Covid. “Namun saat ini 75 persen sudah aktif kembali,” kata Kunin.

Lonjakan pasien Covid sempat membuat Kunin harus hati-hati memanajemen sumber daya di rumah sakit tersebut. Sejauh ini, dari total 248 orang yang dirawat sejak pandemi bermula, sudah 28 orang pasien meninggal dunia. Dia tak ingin kabar lelayu ini bertambah dari rumah sakitnya.

“Kebutuhan logistik obat, alat habis pakai, alat pelindung diri (APD), dan kebutuhan suportif untuk preventif bagi semua sumber daya manusia karyawan dibiayai oleh pendapatan operasional rumah sakit. Untuk obat Covid, kami dibantu pemenuhannya oleh Dinas Kesehatan Jawa Timur yang diambil ke Surabaya setiap pekan,” kata Kunin.

Menurut Kunin, kebutuhan tersebut bisa bertahan antara dua minggu hingga maksimal satu bulan. “Kami menyesuaikan pemenuhannya dengan pendapatan rumah sakit yang masuk,” katanya.

Pasokan oksigen diperoleh dari PT Samator, “Sampai saat ini di RS Kalisat dipenuhi 45 tabung dari kebutuhan yang seharusnya sejumlah 65 tabung. Kemarin sempat kekurangan, kemudian dibantu oleh puskesmas sekitar melalui kebijakan Dinas Kesehatan,” kata Kunin.

Kunin menambahkan, RS Kalisat butuh oksigen concentrator untuk menjaga agar tak terjadi kekurangan suplai. “Saat ini sedang diajukan melalui dana BTT (Belanja Tak Terduga) sekitar Rp 2 miliar. Ke depan RS harus berjalan dengan pelayanan non Covid dan Covid,” katanya. [wir/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar