Pendidikan & Kesehatan

Selama Pandemi, Sektor Pertanian Menjadi Penyelamat Ekonomi

Bojonegoro (beritajatim.com) – Sektor pertanian menjadi penyelamat ekonomi selama masa Pandemi Covid-19 saat ini. Meski begitu, sektor pertanian masih minim peminat khususnya bagi generasi muda. Serta masih banyaknya petani yang hidup dalam taraf ekonomi rendah.

Menurut Direktur Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) Bojonegoro Institute (BI) AW Syaiful Huda, bahwasanya berdasarkan hasil survei antar sensus (Sutas) 2018 jumlah penduduk Bojonegoro yang bekerja di sektor pertanian mencapai kurang lebih 342 ribu jiwa atau sekitar 26.3 persen dari total penduduk Kabupaten Bojonegoro.

Bahkan jika berdasarkan jumlah rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian, menurut dia, terdapat kurang lebih 251 ribu rumah tangga atau sekitar 60an persen dari total rumah tangga di daerah yang terkenal sebagai penghasil migas ini.

Menurut Awe, nama panggilannya, dengan banyaknya jumlah penduduk Bojonegoro yang bekerja di sektor pertanian, ini menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sektor ekonomi yang paling banyak menyerap tenaga kerja dibanding sektor lainnya, termasuk sektor ekstraktif migas. “Jumlah penduduk Bojonegoro yang bekerja di sektor pertanian sangat besar, menempati peringkat ke-3 tertinggi di Jawa Timur,” kata Awe, Senin (12/10/2020).

Selain dari tingginya tingkat penyerapan tenaga kerja sektor pertanian, dalam hal produksi padi, Bojonegoro merupakan salah satu lumbung padi di Jawa Timur. Pada tahun 2019, produksi padi di Bojonegoro mencapai sekitar 692 ribu ton, dan menempatkan Bojonegoro berada di peringkat ke-3 tertinggi di Jawa Timur.

“Dan perlu diingat, bahwa selama pandemi Covid-19, banyak sektor ekonomi yang mengalami kontraksi atau pertumbuhan negatif, sektor pertanian justru menjadi penyelamat perekonomian dengan menunjukkan pertumbuhan yang positif,” jelasnya.

Disini terdapat ketimpangan ekonomi. Dimana meskipun penduduk yang bekerja disektor pertanian sangat besar dan Bojonegoro juga jadi lumbung pangan di Jatim, khususnya untuk komoditas padi. Namun penduduk miskin di Bojonegoro mayoritas adalah petani atapun buruh tani.

Pada aspek pemberdayaan petani, Awe mengusulkan agar pemerintah daerah perlu mendorong terobosan atau inovasi di sektor pertanian oleh para petani, mulai dari pengembangan teknologi tepat guna, pertanian modern seperti integrated farming atau pertanian integrasi antara pertanian dengan peternakan, pertanian organik dan lain-lain.

“Perlu didorong peningkatan nilai tambah hasil produksi pertanian, misalnya asistensi untuk upaya packiging (kemasan) dan branding produk-produk pertanian, sehingga nantinya bisa masuk ke pasar-pasar modern dan ekspor,” pungkasnya.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro Helmy Elisabeth mengatakan, profesi petani di Kabupaten Bojonegoro belum menjadi pilihan bagi generasi muda. Sehingga, jumlah petani muda sangat sedikit. Selain itu bidang pertanian dirasa tidak bisa dibanggakan, sehingga lebih memilih menjadi karyawan pabrik.

Dia menjelaskan, itu bisa dibuktikan dalam satu kelompok tani (poktan). Satu poktan biasanya hanya ada satu hingga dua petani usia 25 tahun. Bahkan, pernah sama sekali tidak ada petani muda. Karena itu, untuk menarik generasi muda dalam bertani pihaknya mengembangkan teknologi alat pertanian. “Seperti mekanisasi pertanian atau alat bantu untuk mengolah pertanian,” pungkasnya. [lus/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar