Pendidikan & Kesehatan

Sekda Bondowoso: Covid Tidak Usah Kita Takuti, Tak Jauh Beda dengan Influenza

Foto ilustrasi virus Corona

Bondowoso (beritajatim.com) – Sekretaris Daerah Kabupaten Bondowoso Syaifullah menyebut Covid-19 tidak terlalu signifikan. Video potongan pernyataannya menjadi viral di media sosial.

“Izinkan dalam kesempatan kali ini, Covid saya tinggalkan dulu. Karena Covid ini opini yang dibangun oleh sebuah paradigma dan saya belum menemukan langsung, ketemu dengan orang yang kena Covid ini, sepertinya menakutkan. Nggak, nggaklah,” kata Syaifullah dalam cuplikan video webinar yang digelar Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Bondowoso, Jawa Timur, Selasa (9/6/2020) lalu.

Beritajatim.com lantas menyimak video diskusi dalam jaringan yang tersedia di Youtube. Diskusi yang berlangsung pada pukul 19.00 – 21.00 WIB itu sebenarnya membahas peran pemerintah terhadap keselamatan pesantren di tengah pandemi Covid-19. Selain Syaifullah, narasumber diskusi adalah Syaeful Bahar (PCNU Bondowoso), Barri Sahlawi Zain (Ketua RMI NU Bondowoso), dan Hermanto Rohman (pengamat kebijakan publik Universitas Jember).

Saat diberi kesempatan menyampaikan pokok gagasannya untuk menanggapi pernyataan narasumber lain, Syaifullah mengatakan, satu dua pekan lalu sudah mempersiapkan penerapan normal baru di Bondowoso. s”Saya dengan Pak Kapolres, Pak Dandim, Pak Bupati, Pak Wakil Bupati, Ketua DPRD berani melakukan ini, karena sebenarnya persoalan Covid ini tidak terlalu siginfikan seperti yang kita bayangkan,” katanya.

Menurut Syaifullah, persoalan penanganan Covid bukan pada penyakitnya, tapi bagaimana menyugesti peradaban. “Saya mengambil contoh Bondowoso, awal saat yang kena 10 orang pasien. Kami analisis dari 10 pasien, bahkan dalam teori kedokteran, dua (dari sepuluh) ini selesai, meninggal dunia. Tapi sembilan orang sembuh total. Bahkan dua yang kami prediksi meninggal (ternyata) tidak meninggal,” katanya. Sepuluh pasien ini sudah pulang dari rumah sakit.

Syaifullah kemudian bertanya kepada sejumlah dokter dan mempelajari proses kesembuhan pasien-pasien itu. Dari sini, ia menyimpulkan Covid mudah diselesaikan. “Rumah sakit dan dokter ternyata hanya bisa menginjeksi vitamin C berdosis tinggi untuk menguatkan imunitas. Tapi (keluarga) pasien justru bawa makanan dan minuman herbal seperti mengkudu, jahe merah, kunir, termulawak. Setiap hari bergantian. Bahkan tidak lama dua hari tiga hari sembuh,” katanya.

Foto ilustrasi

Syaifullah juga menyebutkan contoh informasi sembuhnya seorang profesor dari Makassar dengan memakai minyak kayu putih dan informasi dari Purwokerto soal masjid yang dari awal yang memiliki banyak jamaah, dekat pasar, dan belum ada warga yang dilaporkan terkonfirmasi positif. “Artinya apa? Kondisi riil corona yang kita pahami mengerikan, dengan kondisi riil tidak sebanding,” katanya.

Itulah kenapa kemudian, menurut Syaifullah, keputusan Pemkab Bondowoso untuk mengambuil langkah normal baru apapun kondisinya. “Jangan takut. Karena ini sudah jadi pemahaman: kalau jarak 1,5 meter saja, virus tidak akan masuk. Tapi kalau dempet (berdekatan) itu masuk,” katanya.

“Justru imunitas bisa terbangun kuat ketika manusia didekatkan dengan masjid. Dan salah satu yang sangat dekat dengan masjid adalah pesantren. Makanya saya tidak terlalu terlena dengan diskusi bagaimana mengamankan pesantren. Orang menuju pesantren itu menuju sehat kok,” kata Syaifullah.

“Orang yang terlalu merekayasa bagaimana pondok pesantren ditakuti, harus begini, harus begini, saya mungkin bagian dari yang tidak setuju dengan itu. Walau pun indikasi-indikasi bahwa memang di pondok pesantren juga ada kamar mandi yang kurang bersih, oke sepakat. Tapi ketika harus ditarik bahwa masuk pondok pesantren harus melalui protokol kesehatan begitu ketat, saya juga (tidak setuju). Di samping kondisi riil pemerintah untuk pembiayaan juga tidak mungkin,” kata Syaifullah.

Syaifullah mengaku sudah berdiskusi dengan Sekretaris Daerah Pamekasan. Kesimpulannya: untuk melakukan tes cepat terhadap seluruh santri yang akan masuk pondok pesantren, dibutuhkan biaya hampir Rp 30 miliar.

“Daripada ini yang kita lakukan, lebih baik kita menguatkan imunnya dengan memberikan sugesti kepada masyarakat dan keyakinan bahwa perbanyak herbal, mengkudu datangkan ke pondok pesantren. Ini sederhana. Kita cari orang sekitar kita yang punya mengkudu. Digodok, panas-panas, diminumkan ke anak-anak santri, selesai persoalan itu. Yakin saya,” kata Syaifullah.

“Saya sudah hampir beberapa hari ini ke masjid salat berjamaah tidak pakai masker, saya menyugesti diri bahwa saya datang ke masjid dalam keadaan bersih dan saya mau bertemu dengan Allah, dan pasti orang-orang yang bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih pasti diizinkan. Saya berusaha meyakinkan diri, walau ini pendidikan kurang baik: pejabat kok seperti itu. Tapi saya ingin mendidik berani menatap masalah,” kata Syaifullah.

“Covid ini hal biasa, tidak usah kita takuti, terlalu takut, tidak jauh beda dengan virus-virus influenza,” kata Syaifullah. Ia mencontohkan Masjid At Takwa Bondowoso yang tidak merapatkan jarak saf, namun tidak ada satu pun yang terkena Covid.

Syaifullah belum bisa dimintai pernyataan. “Sebentar lagi saya telepon. Saya masih memimpin rapat,” katanya, Kamis (11/6/2020). [wir/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar