Pendidikan & Kesehatan

Sebelum Masuk Asrama, 1.389 Santri Baru Tebuireng Jalani Karantina

Jombang (beritajatim.com) – Sebanyak 1.389 santri baru Pesantren Tebuireng Jombang menjalani karantina mandiri sejak Minggu (30/8/2020). Santri baru tersebut dikarantina dalam beberapa lokasi terpisah.

Antara lain di Kampus B dan C Universitas Hasyim Asy’ari, Kampus Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, kompleks MTs, SMP, dan SMA serta kompleks Pesantren Sains Tebuireng 2 di Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang.

“Selama 14 hari ke depan, para santri tersebut akan menjalani program karantina sebelum diperkenankan memasuki asrama pesantren,” kata Juru Bicara Gugus tugas Pesantren Tangguh Tebuireng Nur Hidayat, Senin (31/8/2020) sore.

Mereka adalah santri baru yang telah lolos seleksi penerimaan pada akhir Desember 2019 dan awal tahun 2020. Mereka datang sesuai jadwal yang ditetapkan pengurus pada 30 Agustus kemarin.

Berbeda dengan Gelombang I yang terdiri dari kelas akhir serta telah datang pada 20 Juli dan 15 Agustus lalu, para santri baru tersebut nantinya juga akan mendapatkan materi orientasi tentang kepesantrenan.

“Selain pembiasaan kegiatan ubudiyah ala santri, selama masa karantina mereka akan diajak memahami materi terkait adaptasi kebiasaan baru. Juga belajar cara menulis pegon sebagai bekal mengaji kitab kuning,” imbuh Hidayat.

Dengan cara itu, pengurus Pesantren Tebuireng berharap masa karantina juga memberi manfaat dan nilai lebih serta bekal awal sebelum santri masuk ke asrama mereka dan menjalani rutinitas kegiatan kepesantrenan.

Untuk kedatangan santri baru ini, Pesantren Tebuireng tetap memberlakukan rapid test sebagai persyaratan. Dua pekan sebelumnya, para calon santri juga diwajibkan melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing.

“Dokumen rapid test tetap kami syaratkan sebagai instrumen penapisan awal. Alhamdulillah, kesadaran para calon santri dan wali santri cukup tinggi,” ujar pria berkacamata minus ini.

Tingginya kesadaran wali santri tersebut, menurut Hidayat, salah satunya tampak dari upaya wali santri untuk mengkonsultasikan hasil rapid test anak yang reaktif. Untuk kasus seperti itu, Gugus Tugas Pesantren menyarankan agar mereka tinggal di rumah dulu sementara waktu dan menunggu jadwal gelombang berikutnya.

“Ada juga wali santri yang sangat antusias untuk memberangkatkan anaknya ke pondok, sampai melakukan uji swab karena hasil rapid test anaknya reaktif. Setelah dilakukan uji swab, alhamdulillah hasilnya ternyata negatif Covid-19. Jadi yang bersangkutan diperkenankan berangkat ke pondok,” tuturnya.

Kondisi ini, menurut Hidayat, menandakan adanya kerinduan yang kuat dari para orang tua terhadap nuansa pendidikan pesantren bagi putra-putri mereka. Di sinilah posisi pesantren harus dipahami oleh banyak pihak.

“Jadi posisi pesantren melayani kehausan spiritual masyarakat. Dengan tetap berusaha mematuhi protokol kesehatan dan pendekatan spiritual, semoga para santri baru tersebut tetap sehat dan mulai menjalankan adaptasi kebiasaan baru di pesantren,” harapnya. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar