Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

SDM Minim, Pemkab Ponorogo Berencana Libatkan PDHI dalam Penanganan PMK

Kepala Dipertahankan Ponorogo, Masun. (Foto/Dok.beritajatim.com)

Ponorogo (beritajatim.com) – Berbagai rencana sudah dipikirkan oleh Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) Kabupaten Ponorogo, jika akhirnya penyakit mulut dan kuku (PMK) ini masuk ke bumi reog.

Apabila kasus terus meningkat, Dipertahankan Ponorogo bisa berkoordinasi dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Ponorogo untuk dilibatkan dalam penanganan wabah ini. Sedikitnya ada 25 tenaga terkait yang bisa diperbantukan dalam menangani hewan ternak yang terserang PMK.

“Anggota PDHI Ponorogo ada sekitar 25 orang. Jika kasus PMK merebak dan meningkat maka bisa dilibatkan. Sebab selama ini mereka praktik swasta,” kata Kepala Dipertahankan Ponorogo, Masun, Jumat (20/5/2022).

Diakui Masun, adanya PMK ini turut membuka tabir bahwa sumber daya manusia (SDM) untuk pencegahan penyakit ini sangat kurang. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo hanya memiliki tenaga medis dan paramedik veteriner masing-masing 10 orang.

Jumlah tersebut harus membackup 21 Kecamatan di Ponorogo. “Sejauh ini, karena PMK di Ponorogo masih zero, SDM yang ada masih dapat dioptimalkan,” kata Masun.

Namun, ia menerangkan bahwa idealnya dalam satu kecamatan diperkuat oleh satu dokter tenaga medik dan paramedik veteriner. Maka dari itu, jika suatu saat kasus PMK di Ponorogo ada dan meningkat, pihaknya akan melibatkan PDHI.

“Idealnya satu petugas untuk satu kecamatan. Jika nanti ada kasus dan meningkat, kiranya dengan adanya 25 anggota PDHI dilibatkan, bisa tercukupi untuk mem-backup seluruh kecamatan di Ponorogo, ” katanya.

Untuk saat ini, kata Masun, penanganan PMK difokuskan pada pencegahan, sebab Ponorogo masih zero. Pembatasan dan lalu lintas ternak dari daerah wabah harus terus ditingkatkan. Sebab, penyakit yang masuk ke Indonesia pertama kali pada tahun 1887 itu, menyebar melalui media perantara. Seperti orang maupun kendaraan pengangkut ternak. Sementara untuk pengobatannya, dilakukan ketika sudah terjadi wabah.

“Mobil yang digunakan untuk mengangkut ternak positif, berpotensi menulari untuk mengantar ternak sesudahnya. Penularan penyakit ini lewat lalu lintas ternak, jadi kita konsentrasi penuh pada penyekatan supaya bisa lakukan isolasi,” pungkasnya. [end/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar