Pendidikan & Kesehatan

SD Islamiyah Magetan Gelar Terampil Menulis

Latihan Menulis dalam zoom SD Islamiyah Magetan

Magetan (beritajatim.com) – SD Islamiyah Magetan mengadakan pelatihan menulis terampil yang diikuti oleh 30 guru. Tema yang dipilih adalah Literasi di Era Digital bersama wartawan, penulis dan Adriono kontributor radarjatim .

Mantan wartawan Surabaya Post itu menyampaikan, bahwa saat ini banyak orang ingin menulis tetapi minat membaca rendah. Disampaikan bahwa untuk mulai menulis terkadang ada kendala, misal malas, memulai, macet dan mangkrak.

“Untuk bisa menulis ada tips diambil dari ajaran Ki Hajar Dewantara yang disebutnya dengan jurus purba yaitu niteni, nirokne dan nambahi (ATM =amati, tiru dan modifikasi),” kata Adriono saat memberikan pelatihan via zoom di Aula Aswaja SD Islamiyah Magetan, Sabtu (6/2/2021).

Siapa yang ditiru?
Bakul martabak, dokter bedah, guru tk, pesilat. Perhatikan bakul martabak membeberkan adonan kulitnya sampai menjadi kue martabak. Jika mau menulis beberkan saja kata atau kalimat di dalam pikiran. Tidak perlu dipikirkan salah atau betul. Yang penting menulis saja.

“Gunakan otak kanan lebih dulu yaitu semangat, emosi, gairah, spontanitas ataupun imajinasi.
Baru setelah tulisan selesai kita tinggal koreksi tata bahasa, struktur kalimat, sunting, tulis ulang yang merupakan tugasnya otak kiri,” papar Adriono.

Ia menambahkan, untuk memudahkan menulis yang perlu diperhatikan adalah menulislah sesuai passion yang dikuasai. Jika passionnya mengajar, maka itu akan melancarkan untuk merangkai kata demi kata.

Atau menulislah di saat kesedihan atau kegelisahan menghinggapi hati. Menurut pengalaman, saat hati sedang sedih, tangan kita akan lancar menuliskan kata demi kata sebagai ungkapan hati.

“Problem umum yang dihadapi penulis saat tulisan sudah selesai adalah memberikan judul pada tulisan. Judul sangat penting supaya tulisan bisa menarik orang untuk membaca tulisan kita,” imbuhnya.

Bagi penulis pemula yang belum bisa menulis sampai puluhan halaman, untuk membuat sebuah buku sering berkolaborasi atau keroyokan dengan beberapa orang. Ini langkah awal yang pada proses selanjutnya bisa membuat buku solo.

“Terakhir adalah kebiasaan buruk seorang penulis yang tidak mau menyebutkan sumber, jika mengutip tulisan orang. Menulis tanpa berempati kepada pembaca, menolak jika diedit dan lain-lainnya,” ujarnya.

Dengan adanya pelatihan menulis terampil ini, berharap para guru mulai membiasakan untuk bisa menulis dengan benar, bijak dan jujur. Apalagi guru sering harus berkomunikasi melalui media sosial kepada orang tua murid.(asg/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Resep Nasi Aladin Khas Timur Tengah

Resep Sup Kikil, Gurih dan Empuk

Sup Ikan, Menu Berbuka Puasa Bergizi Tinggi