Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Santri Pondok Gontor Meninggal, Emil Dardak: Kekerasan di Lembaga Pendidikan Tak Dibenarkan

Ponorogo (beritajatim.com) – Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Eleistanto Dardak ikut angkat bicara terkait kasus meninggalnya santri Pondok Gontor, AM, akibat kekerasan. Dia menegaskan aksi kekerasan di lembaga pendidikan ataupun di pondok pesantren (ponpes) tidak bisa dibenarkan.

“Kekerasan di dunia pendidikan tentu tidak bisa dibenarkan,” tegas Emil saat berkunjung ke Pondok Gontor, ditulis Senin (19/9/2022).

Suami dari Arumi Bachsin menginginkan semua siswa atau anak harus dipastikan aman dalam menempuh pendidikan. Baik itu di sekolah negeri, swasta, boarding school ataupun ponpes.


“Rawat dan awasi dan jauhkan anak-anak yang lagi belajar dari hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Emil Dardak menekankan semua elemen masyarakat harus berperan dalam menjaga anak dari tindak kekerasan. Tindak kekerasan bisa mempengaruhi mental si anak di masa depan.

Untuk meminimalisir terjadinya kekerasan, para korban didorong untuk berani bicara (speak up). Dengan begitu bisa langsung mendapatkan penanganan.

“Korban kekerasan harus berani speak up. Masyarakat juga harus berperan dalam pencegahan kekerasan ini,” katanya.

Kejadian kekerasan yang berada di lingkungan Pondok Gontor, Emil mengaku prihatin. Dia juga meyakini keprihatinan juga dirasakan oleh seluruh keluarga besar Pondok Gontor.

“Semoga kejadian ini menjadi yang terakhir. Saya turut prihatin dan berbela sungkawa kepada santri Pondok Gontor yang menjadi korban,” pungkasnya.

Untuk diketahui, polisi akhirnya berhasil mengungkap pelaku kekerasan terhada AM, santri yang tewas di Pondok Gontor karena tindak kekerasan. Pelaku penganiayaan merupakan senior korban, sebanyak 2 orang.

Yakni inisial MFA (18) asal Provinsi Sumatera Barat. Sementara pelaku satunya lagi merupakan anak berhadapan dengan hukum berinisial IH (17), asal Provinsi Bangka Belitung.

Terungkap, para pelaku ini menganiaya korban saat berada di ruang andalan koordinator urusan perlengkapan (ankuperkap) di gedung 17 Agustus lantai 3 komplek Pondok Modern Darussalam Gontor (PDMG) yang beralamat di Desa Gontor Kecamatan Mlarak Ponorogo.

“Ada 2 pelaku penganiayaan yang menewaskan santri AM. Para pelaku merupakan senior korban, yakni inisial MFA dan ABH inisal IH,” kata Kapolres Ponorogo AKBP Catur Cahyono Wibowo saat press rilis yang juga didampingi oleh Direskrimum Polda Jatim Kombes Pol Totok Suharyanto.

Selain menangkap pelaku, polisi juga mengamankan beberapa barang bukti. Yakni 1 potong kaos oblong warna biru loreng, 2 potong celana training warna hitam, 1 potong kaos oblong warna coklat, 1 unit becak, 2 buah patahan tongkat warna putih, 1 botol minyak kayu putih, 1 buah air mineral gelas kosong, dan 1 buah flashdisk berisi salinan rekaman CCTV di rumah sakit yang ada di komplek Pondok Gontor.

“Beberapa barang bukti juga sudah kita amankan. Salah satunya rekaman CCTV di Rumah Sakit yang ada di Pondok Gontor saat korban dibawa ke RS,” katanya.

Untuk mengungkap kasus penganiayaan santri Pondok Gontor ini, Polres Ponorogo sedikitnya memeriksa 20 orang saksi, terdiri dari 4 ustaz pondok, 4 santri, 3 dokter, 4 perawat dan bidan jaga, 2 petugas pemulasaraan jenazah, 2 keluarga korban, dan 1 orang ahli forensik. [end/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar