Pendidikan & Kesehatan

Sang Airlangga, Pembangkit Ruang Berkesenian

Surabaya (beritajatim.com) – Pementasan Sang Airlangga membuat kesan yang meriah ketika memulai pementasan. Tatanan musik yang asik dan cahaya yang megah, membuat penonton terpukau.

Seni pertunjukan yang berlakon Raja Airlangga di awal abad ke-11, terbagi dalam 3 babak besar, yang dimainkan oleh sekurangnya 50 orang dengan iringan gamelan dari grup Baladewa Surabaya.

Prolog, dikisahkan Sang Garudea sedang mencari Tirta Amerta yang ada ditangan Dewa Wisnu di kahyangan. Sang Garudea ingin membebaskan Winata sang Ibu dari perbudakan Dewi Kadru.

Sang Garudea merelakan dirinya jadi kendaraan Dewa Wisnu untuk selamanya, seperti pada relief candi-candi di Jawa yang dimaknai bahwa nilai keahlian, kedigdayaan yang dikendalikan ilmu pengetahuan memberikan manfaat bagi kedamaian semesta.

Dialog, berkisah tentang perjalanan Airlangga putera Raja Udayana dari pernikahan politik Jawa Bali dengan Dyah Ayu Galuh Sekar Kedaton putri Raja Darmawangsa.

Dimana saat pernikahan dihelat diserang pasukan Wura Wari yang kemudian digambarkan pelarian Airlangga berguru di lereng gunung Penanggungan. Kemudian dengan kesaktiannya, ia menaklukkan pasukan Wura Wari. Dari kemenangan itu, dibangunkan Kerajaan Kahuripan yang mampu mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Epilog, bercerita tentang Airlangga yang sedang membangun bendungan Wringin Sapta, agar Sungai Brantas dapat dipakai sebagai sarana irigasi bagi rakyat, dan dapat menghantarkan perahu-perahu dari berbagai negara untuk saling bertukar barang dagangan dan ilmu pengetahuan demi memajukan dunia baru.

Tontonan Gotong Royong

Tontonan Gotong Royong edisi pertama menggelar wayang sejarah SANG AIRLANGGA di gedung Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, Sabtu (22/08/2020).

“Gotong royong merupakan ciri khas warga Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat dan berbudaya. Tradisi “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” tercermin dalam mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia, ” ucap Heri, sutradara pementasan Sang Airlangga.

Covid-19 yang masuk ke Indonesia pada awal maret ini, membuat segala lini menjadi terhambat. Begitu pula para pekerja seni dan seniman, yang mengalami dampak mental dan ekonomi.

Sebuah ruang baru, sangat diperlukan untuk membangkitkan semangat berkesenian. Karena tugas seni adalah menjaga dan mentranformasikan nilai kepada masyarakat.

“Untuk itu, para pekerja seni dengan energi yang sama, akan bergerak melalui platform ‘Tontonan Gotong Royong” sebagai ekosistem kesenian baru ditengah-tengah pandemi dengan komitmen ‘Kreatif sebagai Solusi”. Tujuan besarnya agar seniman pertunjukan dan para pemakai jasa kesenian terdorong untuk saling membantu dan mewujudkan kehidupan baru yang lebih baik, ” ucap Heri.

Sebuah Langkah Solutif

Airlangga bertapa di gunung Penanggungan untuk mempersiapkan segala langkah agar dapat melawan kejahatan yaitu Wura Wari.

Suatu hikmah yang dapat diambil dari scene ini bahwasanya segala proses panjang mendapatkan hasil bermanfaat bagi lingkungan dan rakyatnya. Berdarma dan berguna bagi sesama.

Dari pertunjukan gotong-royong tersebut dapat menyimpulkan bahwa dalam keadaan pandemi tersebut masih ada rasa empati dan simpati untuk mewujudkan kemasyhuran sistem kesenian di Jawa Timur.

” Untuk anak muda di Surabaya, bergeraklah maju, beradaptasi dengan keadaan, jangan menunggu kesempatan datang padamu tetapi kejarlah kesempatan itu, ” pesan Afifa Pimpinan Acara, Sang Airlangga. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar