Pendidikan & Kesehatan

Sambut 3 Warga Jalan Kaki ke Istana Negara Jakarta, Warga di Mojokerto Gelar Istiqosah

Warga Lebak Jabung istiqosah menyambut kedatangan 3 warga yang jalan kaki ke Jakarta. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Warga Desa Lebak Jabung, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto menggelar istiqosah di halaman Jalan Jamong Desa Lebak Jabung, Rabu (4/3/2020). Istiqosah digelar untuk menyambut kedatangan tiga warga yang menggelar aksi jalan kaki ke Istana Negara Jakarta.

Puluhan warga berkumpul halaman Jalan Jamong dan duduk di atas tikar sembari menunggu kedatangan ketiga warga. Saat ketiga warga tersebut datang mengendarai kendaraan dinas milik desa dan langsung berjabat tangan dengan masyarakat yang sudah berkumpul, air mata tampak keluar dari mata masyarakat.

Ketiga warga tersebut yakni Ahmad Yani (45), Sugiantoro (31) dan Heru Prasetiyo (24) yang melakukan aksi jalan kaki ke Istana Negara Jakarta. Mereka berjalan kaki dari Mojokerto ke Jakarta pada, Rabu (26/2/2020) lalu dari Mojokerto ke Jakarta. Mereka tiba di istana negara pada, Kamis (6/2/2020) sekitar pukul 16.00 WIB.

Ahmad Yani (45) mengatakan, jika warga Desa Lebak Jabung dari dulu rukun dan kompak dan saat ini sudah teruji. “Saya hanya fasilator (berangkat ke Jakarta, red) saja, Terima kasih dan mohon maaf kepada warga Lebak Jabung jika ada yang kurang berkenan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Lebak Jabung, Arif Rahman mengatakan, mengucapkan terima kasih kepada pihak kepolisian yang sudah mengawal ketiga warganya mulai keberangkatan sampai pulang. “Kepada 3 warga atas usahanya, mulai dari tingkat desa sampai ke atas berani melakukan hal yang maksimal,” katanya.

Pihaknya menyampaikan permohonan maaf atas ketidakmampuan pihak desa, yakni tidak mampu memberikan kepuasan kepada masyarakat sampai ada perwakilan warga berangkat ke Jakarta. Ia mengaku gagal memimpin warga Desa Lebak Jabung karena sampai ada aksi jalan kaki tersebut.

“Tapi mari yakin, usaha dan doa tidak bisa langsung dikabulkan tapi semua butuh proses waktu. Desa harus netral dan menghormati kebijakan instansi di atas desa. Warga, pihak desa dan yang ada di dalamnya menolak tambang dengan berbagai macam pertimbangan, karena jika musim hujan membuat masyarakat khawatir,” ujarnya.[tin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar