Pendidikan & Kesehatan

Saling Menguatkan dan Menangis saat Malam Lebaran, Pasutri Warga Mojokerto Sembuh dari Covid-19

Pasutri, Mustaqim (50) dan Lianah (47) warga Desa Jampirogo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Dari 117 pasien positif Covid-19 di Kabupaten Mojokerto, sebanyak 15 pasien telah dinyatakan sembuh. Salah satunya adalah pasangan suami-istri (pasutri) asal Dusun Kedungpring, Desa Jampirogo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Mustaqim (50) dan Lianah (47).

Sebelum akhirnya keduanya dinyatakan terpapar virus corona, yang dinyatakan positif terlebih dahulu yakni sang istri, Lianah. Ia menjadi pasien positif 07 Kabupaten Mojokerto dan harus menjalani perawatan di RSUD Prof Dr Soekandar, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto sejak tanggal 21 April 2020 lalu.

Karena harus menemani sang istri di rumah sakit rujukan Covid-19 di Kabupaten Mojokerto karena merasa dikucilkan warga dan tak diperkenankan pulang. Alhasil, pegawai Kantor Kementrian Agama (Depag) Kabupaten Mojokerto ini akhirnya terpapar virus corona dan menjadi pasien positif 09 Kabupaten Mojokerto.

“Istri saya dinyatakan reaktif pada 21 April lalu, 2 hari kemudian istri saya di-swab. Hasilnya keluar 6 Mei 2020 dan dinyatakan positif. Rapid test istri saya reaktif, saya masih bebas berinteraksi dengan istri saya dan saya harus di-swab. Selang 12 hari hasilnya saya dinyatakan positif sehingga kami harus menjalani perawatan,” ungkapnya, Jumat (19/6/2020).

Selama menjalani perawatan di rumah sakit, ia dan istrinya tidak bisa merasakan sakit sedikitpun karena keduanya tercatat sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG). Namun keduanya mereka tetap harus mematuhi protokol kesehatan dan menjalani isolasi. Hingga harus rajin berolahraga setiap hari di dalam ruangan khusus pasien positif.

“Selama menjalani perawatan di rumah sakit, saya tidak pernah merasakan sakit sedikit pun. Tidak pusing dan juga tidak sesak napas tapi kami harus mematuhi dokter tapi setiap harus diinfus, disuntik dan minum vitamin untuk menjaga imun tubuh. Bosan ya jelas karena satu bulan lebih di rumah sakit. Apalagi pas malam Hari Raya Idul Fitri,” katanya.

Karena tidak bisa berkumpul bersama ketiga anaknya, ia dan istrinya mengaku menangis dan saling menguatkan dimana saat itu seluruh warga tenggah merayakan kemenangan setelah sebulan menjalankan ibadah puasa. Namun ia mengaku beruntung karena dukungan terus mengalir.

“Selama menjalani perawatan, keluarga, teman dekat hingga teman seperjuangan selalu memberikan motivasi agar selalu sabar dan kuat untuk bisa membunuh virus yang ada dalam tubuh. Pengobatan paling utama melawan virus ini adalah mental. Bagaimana perlakuan masyarakat terhadap orang terkena Covid-19, seolah-olah penyakit itu adalah aib. Dikucilkan,” paparnya.

Hal tersebut dirasakannya bersama istrinya. Tak hanya di rumah sakit, ketika dia dan istrinya dinyatakan sembuh pada tanggal 1 Juni 2020 lalu, keesokan harinya keduanya sudah diperkenankan pulang. Namun masih banyak warga yang masih acuh dengan kembalinya keduanya ke tenggah masyarakat.

“Bagi orang yang terkonfirmasi positif, beban mental itu yang harus dikuatkan. Karena masyarakat belum paham tentang penyakit ini, makanya karena dianggap aib dan dikucilkan meski saya dan istrinya tanpa gejala, kami tetap menjalani perawatan di rumah sakit. Padahal saya dan istri saya tidak merasakan sakit apa-apa, seharusnya isolasi di rumah bisa,” tegasnya.[tin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar