Pendidikan & Kesehatan

RSTKA Berikan Trauma Healing untuk Anak Korban Gempa Sulbar

Surabaya (beritajatim.com) – RSTKA atau Rumah Sakit Ksatria Airlangga yang sudah berada di Majene, Sulawesi Barat saat ini juga memberikan trauma healing bagi anak anak pengungsi.

Salah satu, relawan dari tim RSTKA, Afin Murtiningsih S.Psi memberikan ice breaking terhadap 23 anak pengungsi korban gempa. Ice breaking dilukakan disalah satu tenda di kamp pengungsian RS Pratama di desa Salutambung pada Senin (25/1/2021). Hal ini dlakukam untuk penilaian awal kondisi trauma psikis yang dialami anak-anak.

Setelah diajak bermain-main di dalam tenda 5 x 5 meter, anak-anak diberi sugesti. Caranya, Afin meminta setiap anak memegang pundak teman di sebelah kanan mereka. Ia memerintahkan anak-anak menepuk pundak rekan mereka sambal menirukan kata-katanya; “Walau dalam pengungsian, kita harus bersyukur, berbagi, dan bergembira.”

Sambil bermain, Afin dan Teguh Wahyu Utomo melakukan penilaian trauma dengan mengkaji isi hati anak-anak. Caranya, setelah membagi buku-buku sumbangan Rotary Club, anak-anak diminta menuliskan atau menggambarkan apa yang akan mereka lakukan setelah boleh pulang di rumah masing-masing.

Maka, asyiklah anak-anak dengan kertas dan bolpoin di tangan mereka. Karena kebanyakan berusia di bawah delapan tahun, mereka lebih memilih menggambar.

Bermacam-macam gambar mereka coretkan di kertas putih. Reski Nur Hidayah menggambar pot dengan tiga tangkai bunga. Parhun menggambar Rumah dengan pintu yang terhubung dengan jalan setapak menuju jalan raya dan anak bermain di taman. Rasti menggambar pemandangan berupa tiga gunung, awan, matahari, rumah dengan Bungan-bunga, jalan raya dan sawah.

Ahmad, yang menggambar rumah dengan sapu di atasnya, menjelaskan ia ingin bersih-bersih rumah setelah dibolehkan pulang. Ical, yang gambarnya tidak berbentuk, bercerita ia ingin naik sepeda. Satria, yang menggambar rumah dengan pohon dan burung, mengaku ingin bermain di rumah.

Dari penilaian awal, tidak tampak ada trauma psikologis di antara anak-anak pengungsi di pengungsian RS Pratama di desa Salutambung. Jika ada anak yang tidak mau mengungkapkan perasaannya, itu lebih disebabkan ia pemalu. Ekspresi cemas tidak tampak, tapi lebih tampak ekspresi malu.

“Kondisi psikis mereka cukup normal untuk anak-anak yang tinggal di pengungsian. Mereka masih bisa bermain bersama dengan ceria,” kata Afin.

“Mereka harus tinggal di pengungsian karena BMKG masih memberlakukan kondisi tanggap bencana. Mereka masih bisa sesekali menjenguk rumah pada siang hari, tapi tidur di tenda-tenda pada malam hari,” katanya. [adg/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar